Para Pemimpin SCO Tandatangani Deklarasi Bishkek dan 27 Kesepakatan dalam KTT HUT ke-25

25th

Bishkek, Purna Warta – Para kepala negara Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) menandatangani Deklarasi Bishkek dalam rangka memperingati 25 tahun berdirinya organisasi regional tersebut, sekaligus menunjukkan semakin besarnya pengaruh SCO sebagai kekuatan penyeimbang terhadap lembaga-lembaga global yang didominasi Barat.

KTT yang berlangsung di ibu kota Kirgizstan tersebut mempertemukan para pemimpin dari berbagai negara di Eurasia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Iran, serta para pemimpin India, Pakistan, dan Turki.

Di bidang ekonomi, Deklarasi Bishkek menguraikan dorongan bersama untuk melakukan reformasi terhadap arsitektur keuangan internasional.

Negara-negara anggota secara resmi mengecam penggunaan langkah-langkah koersif sepihak dalam perekonomian global, yang merupakan rujukan langsung terhadap penggunaan sanksi secara luas oleh negara-negara Barat. Mereka juga mendorong sistem keuangan yang lebih adil dan multipolar guna mengurangi ketergantungan terhadap mata uang cadangan tradisional.

Dalam membahas kerangka keamanan global, dokumen tersebut menekankan bahwa negara-negara tidak boleh memanfaatkan organisasi teroris dan ekstremis demi kepentingan geopolitik. Mereka menyerukan diakhirinya standar ganda dalam upaya pemberantasan terorisme internasional.

Deklarasi tersebut juga secara tegas menjelaskan posisi strategis organisasi, dengan menekankan bahwa SCO bukan merupakan blok militer ataupun politik dan tidak diarahkan untuk melawan negara atau organisasi internasional pihak ketiga mana pun.

Kesepakatan-kesepakatan yang ditandatangani juga mencakup bidang keamanan yang sedang berkembang serta narasi sejarah. Negara-negara anggota menegaskan kembali pentingnya menjaga ruang angkasa tetap bebas dari senjata dan menyerukan komunitas internasional untuk menyelesaikan perjanjian yang mengikat secara hukum guna mencegah perlombaan senjata di luar angkasa.

Selain itu, para pemimpin berkomitmen kuat untuk melestarikan memori sejarah Perang Dunia II dan secara aktif melawan upaya pemalsuan atau penyimpangan terhadap hasil sejarah perang tersebut.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, setelah empat setengah tahun konflik di Ukraina dan enam bulan perang yang masih berlangsung terhadap Iran.

Dalam upacara penandatanganan, panitia penyelenggara mengumumkan bahwa selain Deklarasi Bishkek, negara-negara anggota juga menandatangani 27 dokumen strategis tambahan.

Di antara dokumen penting tersebut adalah peraturan yang membentuk Pusat Universal untuk Menghadapi Tantangan dan Ancaman terhadap Keamanan Negara-Negara Anggota SCO, serta rencana aksi komprehensif periode 2026–2030 untuk mengembangkan pelabuhan dan pusat-pusat logistik di seluruh kawasan SCO.

Putin Menyoroti Bobot Global SCO

Dalam pidatonya di KTT tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan skala dan arti penting strategis SCO. Ia mengatakan bahwa organisasi tersebut telah berkembang dari kelompok regional kecil menjadi organisasi regional terbesar di dunia.

“Negara-negara anggotanya mencakup hampir setengah populasi dunia dan sekitar sepertiga PDB global,” kata Putin. Ia juga menyoroti “potensi intelektual dan teknologi yang kuat” dari organisasi tersebut, sumber daya alam yang sangat besar, serta jalur-jalur logistik yang strategis.

Putin juga menyoroti kecenderungan negara-negara SCO yang semakin banyak melakukan perdagangan menggunakan mata uang nasional masing-masing. Langkah tersebut secara signifikan mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional sekaligus melindungi negara-negara anggota dari dampak sanksi Barat.

Putin menegaskan bahwa segala upaya harus dilakukan untuk menghapuskan “setiap provokasi yang mengarah pada konflik bersenjata”, seraya menyatakan bahwa peningkatan kerja sama di antara negara-negara anggota sangat penting untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di seluruh benua Eurasia.

Di sela-sela KTT, Putin bertemu dengan mitranya dari Tiongkok untuk semakin memperkuat kemitraan strategis antara Moskow dan Beijing.

Xi menyatakan bahwa hubungan Rusia-Tiongkok telah menjadi “semakin kokoh” dengan prospek yang “semakin cerah”, sementara Putin menegaskan bahwa kerja sama kedua negara “berkembang dengan sukses di semua bidang.”

Semakin eratnya keselarasan antara Moskow, Beijing, dan Tehran telah memicu kekhawatiran di Washington.

Secara historis, SCO berfokus pada keamanan regional dan kerja sama ekonomi. Namun, organisasi tersebut kini memperoleh momentum geopolitik yang signifikan dan memiliki 10 negara anggota penuh.

Selain itu, pengaruhnya berkembang pesat melalui jaringan 15 negara mitra dialog, yang kini mencakup Turki, Arab Saudi, dan Qatar, serta dua negara pengamat, yaitu Afghanistan dan Mongolia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *