Beijing, Purna Warta – Pemerintahan Trump telah menghentikan ekspor teknologi penting ke China, termasuk mesin jet, chip semikonduktor, software desain canggih, dan peralatan industri khusus. Langkah ini memperparah ketegangan dagang antara dua negara raksasa dunia.
Menurut The New York Times, keputusan ini diambil sebagai balasan atas kebijakan China yang baru-baru ini membatasi ekspor mineral tanah jarang (rare earth) ke Amerika Serikat. Mineral ini sangat penting untuk berbagai industri teknologi.
Langkah ini menunjukkan bahwa perang rantai pasok antara AS dan China makin serius. Kedua negara saling menggunakan kekuatan industri mereka untuk mendapatkan keunggulan strategis.
Situasi ini berdampak langsung pada sektor manufaktur global seperti penerbangan, robotika, otomotif, dan produksi chip. Bahkan, bisa menghambat negosiasi dagang yang sedang berlangsung.
Selain itu, langkah AS ini juga dinilai sebagai upaya untuk membatasi kemajuan teknologi China yang selama ini dianggap dapat mengancam posisi dominan AS di bidang teknologi tinggi. Beberapa analis menilai bahwa kebijakan ini bisa memperpanjang ketidakpastian di pasar global dan menyebabkan gangguan pasokan barang elektronik yang dibutuhkan banyak negara.
China sendiri sebelumnya mengumumkan pembatasan ekspor mineral tanah jarang sebagai bagian dari strategi untuk melindungi sumber daya alamnya dan memperkuat posisi tawar dalam persaingan teknologi dengan AS. Mineral-mineral ini digunakan dalam pembuatan berbagai produk elektronik, mulai dari smartphone hingga kendaraan listrik.
Para pengamat juga mengingatkan bahwa eskalasi ketegangan ini berpotensi memicu efek domino, di mana negara-negara lain bisa ikut terjebak dalam konflik dagang ini, sehingga berdampak pada kestabilan ekonomi dunia secara lebih luas.
Pelarangan Ekspor Meliputi Mesin Jet, Chip, dan Software Desain
Departemen Perdagangan AS saat ini sedang meninjau kembali izin ekspor untuk berbagai teknologi yang dijual ke China. Hal ini membuat pengiriman ke beberapa sektor penting jadi tertunda.
Salah satu target utama adalah COMAC, perusahaan pesawat milik negara China. Pesawat COMAC C919—yang dianggap pesaing Boeing 737 dan Airbus A320—sangat bergantung pada komponen dari AS dan Eropa. C919 mulai digunakan secara resmi pada tahun 2023.
Selain COMAC, banyak perusahaan teknologi dan manufaktur lain di China juga merasakan dampaknya. Industri chip yang selama ini tumbuh pesat di China kini menghadapi hambatan karena tidak bisa mendapatkan teknologi dan komponen dari luar negeri dengan mudah.
Situasi ini juga membuat perusahaan-perusahaan di AS dan negara lain harus mencari alternatif pemasok dan menyesuaikan rantai pasokan mereka agar tidak terlalu tergantung pada satu negara. Proses ini bisa memakan waktu dan biaya yang cukup besar.


