Washington, Purna Warta – Situs jaringan televisi CNN dalam sebuah analisis menyoroti klaim-klaim yang dinilai tidak akurat dan penuh dengan kebohongan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perang dengan Iran. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Trump kerap menyampaikan informasi yang tidak tepat bahkan mengenai hal-hal mendasar yang berkaitan dengan konflik tersebut.
CNN menulis bahwa Trump memiliki rekam jejak panjang dalam menyampaikan pernyataan yang tidak benar mengenai berbagai isu. Baik karena sengaja menyesatkan opini publik, menerima informasi yang keliru, atau salah memahami situasi, banyaknya pernyataan yang tidak akurat membuat sulit untuk mempercayai ucapannya terkait posisi Iran, terutama dalam pembicaraan tertutup.
Dalam salah satu contoh terbaru, Trump mengatakan kepada surat kabar New York Post pada hari Senin bahwa Wakil Presiden JD Vance sedang dalam perjalanan ke Pakistan untuk bernegosiasi dengan Iran. Ia menyatakan bahwa Vance akan tiba pada malam hari waktu Islamabad. Namun, CNN melaporkan bahwa pernyataan tersebut tidak benar. Sumber yang mengetahui agenda Vance menyebutkan bahwa ia dijadwalkan berangkat ke Pakistan pada hari Selasa untuk memulai pembicaraan pada hari Rabu, dan konvoi Vance juga sempat terlihat di Gedung Putih pada waktu yang hampir bersamaan.
CNN menilai bahwa ketidakakuratan ini mungkin tampak sebagai kesalahan kecil yang dapat dimaklumi dari seorang presiden yang sibuk, tetapi menekankan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari pola yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam konteks ini, Eric Brewer, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS untuk isu non-proliferasi, menyatakan bahwa salah satu perbedaan utama dalam putaran diplomasi AS-Iran saat ini dibandingkan sebelumnya adalah bahwa pemerintahan saat ini—terutama presidennya—dianggap tidak dapat dipercaya dalam menyampaikan narasi. Ia menambahkan bahwa para analis sebelumnya terbiasa menilai pernyataan kedua pihak, tetapi belum pernah menghadapi situasi dengan presiden AS yang dinilai sering melebih-lebihkan dan menyampaikan klaim yang tidak akurat.
CNN juga menyoroti pernyataan Trump lainnya, termasuk klaim bahwa Paus mendukung kepemilikan senjata nuklir oleh Iran, yang ternyata tidak pernah disampaikan oleh Paus Leo XIV, yang dikenal sebagai penentang senjata nuklir. Selain itu, dalam wawancara dengan Fox News dua pekan sebelumnya, Trump mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah “dihancurkan sepenuhnya”, meskipun faktanya Iran masih memiliki kemampuan militer yang signifikan.
Pernyataan Trump mengenai JD Vance juga disebut sebagai informasi tidak akurat kedua dalam waktu dua hari. Sebelumnya, ia menyatakan kepada MSNBC bahwa Vance tidak akan menjadi bagian dari delegasi ke Pakistan karena alasan keamanan, namun laporan selanjutnya menyebutkan bahwa Vance justru akan memimpin delegasi tersebut.
CNN menilai bahwa meskipun kemungkinan terjadi perubahan rencana dalam pemerintahan, pernyataan presiden AS tetap tidak dapat sepenuhnya dijadikan acuan yang dapat dipercaya, bahkan untuk hal-hal yang relatif sederhana.
Dalam komunikasi dengan para jurnalis pekan lalu, Trump juga mengklaim bahwa Iran telah membuat sejumlah konsesi besar, termasuk penghentian tanpa batas aktivitas nuklir, penghentian dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu seperti Hamas dan Hizbullah, serta penyerahan uranium yang telah diperkaya kepada Amerika Serikat. Bahkan, ketika ditanya apakah Iran telah menyetujui penghentian pengayaan uranium secara permanen, Trump menjawab, “Mereka telah menyetujui segalanya.”
Namun, para pakar menyatakan keraguan serius terhadap klaim tersebut, sementara pejabat Iran segera membantah bahwa mereka telah menyetujui hal-hal yang disebutkan oleh Trump.


