AS Tarik 500 Tentara dari Suriah, Trump Dukung Perekrutan Eks Militan HTS

AS Tarik 500 Tentara dari Suriah, Trump Dukung Perekrutan Eks Militan HTS

Washington D.C., Purna Warta AS secara signifikan telah mengurangi kehadiran militernya di Suriah dengan menarik sekitar 500 tentara dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut pejabat AS yang dikutip Fox News, pasukan AS telah meninggalkan tiga instalasi utama, termasuk Mission Support Site Euphrates—yang kini dikendalikan oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF)—serta Mission Support Site Green Village yang telah ditutup total.

Baca Juga : Pentagon Berencana Masukkan Greenland ke Wilayah Komando Utara AS

Langkah ini mengikuti arahan Pentagon pada April lalu untuk memangkas jumlah personel militer AS di Suriah dari sekitar 2.000 menjadi kurang dari 1.000 tentara.

Eks Militan HTS Direkrut ke Tentara Baru

Dalam perkembangan terkait, utusan khusus Presiden Donald Trump untuk Suriah, Thomas Barrack, mendukung rencana pemerintah transisi Suriah untuk merekrut ribuan mantan militan Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) ke dalam angkatan bersenjata baru.

Rencana ini melibatkan pendaftaran hingga 3.500 eks militan—terutama dari etnis Uighur dan pejuang asing lainnya—ke dalam Divisi ke-84 yang baru dibentuk.

Pejabat AS menilai inisiatif ini sebagai langkah pragmatis untuk menetralkan ancaman ekstremis dengan mengintegrasikan mantan kombatan ke dalam struktur komando terpusat.

Baca Juga : Israel Sengaja Menyerang Sekolah-Sekolah UNRWA

Namun, keputusan ini memicu kekhawatiran internasional, khususnya dari Tiongkok, karena banyak dari pejuang tersebut memiliki kaitan dengan Partai Islam Turkistan, kelompok yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Beijing.

Normalisasi Hubungan AS–Suriah

Langkah menuju normalisasi diplomatik antara AS dan Suriah juga terus berlanjut. Dalam peristiwa bersejarah, Presiden Trump bertemu dengan Presiden al-Sharaa dalam sebuah KTT di Riyadh, menjadi pertemuan pertama antara pemimpin kedua negara dalam lebih dari 25 tahun.

Trump dilaporkan berkomitmen untuk melonggarkan sanksi dan menjajaki jalur diplomasi, dengan menyatakan bahwa “Suriah layak mendapat kesempatan untuk damai.” Sebagai simbol pemulihan hubungan, kediaman duta besar AS di Damaskus yang telah lama ditutup kini dibuka kembali.

Tantangan Tetap Ada

Kendati demikian, sejumlah tantangan tetap membayangi. Para pengamat memperingatkan bahwa integrasi eks militan HTS dapat menjadi bumerang jika tidak diawasi ketat. Stabilitas pemerintah transisi Suriah juga masih dipertanyakan.

Baca Juga : Inggris Sebut Rusia Ancaman Langsung, Janjikan £3 Miliar untuk Ukraina

Selain itu, langkah AS untuk menggabungkan bekas militan ke dalam tentara nasional turut mengundang kecaman, terutama dari Tiongkok, yang menganggapnya sebagai risiko keamanan besar akibat keterkaitan mereka dengan kelompok teroris lintas negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *