Teheran, Purna Warta – Amerika telah salah mengira negosiasi sebagai dikte, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, seraya menekankan bahwa Teheran akan menggunakan diplomasi kapan pun diperlukan untuk membela hak-hak Iran sambil tetap sepenuhnya siap menanggapi agresi apa pun.
Berbicara pada konferensi pers mingguan pada hari Selasa, Esmaeil Baqaei menyampaikan belasungkawa atas matinya tiga warga Iran dalam serangan AS di Pulau Larak.
Ketika ditanya tentang pernyataan presiden AS mengenai nota kesepahaman Islamabad, dia mengatakan Kementerian Luar Negeri menilai perkembangan berdasarkan kepentingan negara dan akan melaksanakan keputusan apa pun yang dibuat oleh otoritas yang berwenang.
Baqaei mengakui bahwa para pejabat AS bingung dalam pendekatan dan pernyataan mereka, namun mengatakan hal ini tidak akan menyebabkan Iran mengabaikan kemampuannya sendiri.
“Kami akan menggunakan alat diplomasi bila diperlukan untuk menjelaskan posisi kami dan mengamankan hak-hak bangsa Iran,” katanya.
Juru bicara tersebut mengatakan serangan AS bukanlah sesuatu yang baru bagi Iran, dan mencatat bahwa Washington telah berulang kali melakukan tindakan agresi dengan berbagai dalih dan menerima tanggapan yang diperlukan.
“Rakyat Amerika menjadi bingung karena mereka mendapati diri mereka terjebak dalam situasi yang mereka buat sendiri, dan mereka menyebarkan kebohongan setiap saat. Yang jelas adalah Amerika Serikat sudah lelah karena kesalahan perhitungannya dan karena telah menyeret seluruh dunia ke dalam situasi ini,” tambahnya.
Mengenai kejahatan perang AS terhadap sekolah-sekolah Iran, Baqaei mengatakan Iran tidak memerlukan laporan dari publikasi Barat atau pakar Barat untuk membuktikan bahwa insiden di Minab dan Lamerd merupakan kejahatan perang.
“Kita tidak boleh lupa bahwa salah satu metode AS untuk menyembunyikan kedalaman kejahatannya adalah dengan membuat media sibuk sehingga mereka hanya mengakui satu atau dua kasus dan menganggap sisanya sah,” katanya.
Baqaei menekankan bahwa setiap tindakan AS selama agresi militernya terhadap Iran merupakan kejahatan perang.


