Warga Mauritania Menuntut Pengusiran Duta Besar Pendukung Rezim Israel

Nouakchott, Purna Warta – Warga Mauritania menggelar unjuk rasa massal di Nouakchott setelah salat Jumat, menyerukan pengusiran duta besar dari negara-negara pendukung rezim Israel.

Baca juga: Lonjakan Kebakaran Misterius dan Pemadaman Listrik Picu Ketakutan di Palestina Selatan yang Diduduki

Para warga Mauritania, yang didampingi oleh tokoh agama dan politik, membawa spanduk bertuliskan: “Akhiri pengepungan di Gaza,” “Hentikan kelaparan di Gaza,” “Warga Mauritania menolak normalisasi dan berdiri dengan perlawanan,” dan “Anak-anak Gaza bukan target militer.”

Para demonstran meneriakkan slogan-slogan, termasuk “Hidupku untuk Gaza,” “Kedutaan penjajah tidak punya tempat di Mauritania,” dan “Mauritania bukan rumah bagi pengkhianat,” seraya mengecam diamnya komunitas internasional dalam menghadapi pembantaian yang dilakukan Israel. Mereka menuntut pemecatan diplomat yang mewakili negara-negara yang bersekutu dengan perang rezim Israel di Gaza.

Laporan di media lokal sebelumnya menunjukkan kemungkinan kontak antara pejabat Nouakchott dan Israel, meskipun pihak berwenang belum mengonfirmasi klaim tersebut.

Seorang pembicara dari Mauritania dalam demonstrasi tersebut mengatakan solidaritas dengan Gaza merupakan kewajiban agama sekaligus kemanusiaan, dan bersumpah bahwa protes akan terus berlanjut hingga perang berakhir dan pengepungan dipatahkan.

Demonstrasi serupa terjadi di seluruh Maroko, di mana ribuan orang berbaris di Tangier, Tetouan, Chefchaouen, Casablanca, El Jadida, Inzegan, Taroudant, Agadir, Berkane, dan Oujda. Para pengunjuk rasa membawa gambar-gambar kelaparan dan kehancuran di Gaza, mengecam kebijakan kelaparan Israel. Slogan-slogan yang mereka bawa antara lain: “Hentikan genosida di Gaza,” “Palestina adalah amanah,” dan “Maroko dan Palestina, satu bangsa.”

Baca juga: Kepala UNRWA Kecam Penyangkalan Israel yang Memalukan atas Kelaparan di Gaza

Di Tunisia, warga berunjuk rasa di Tunis, meneriakkan: “Blokade dan kelaparan harus diakhiri,” “Hidup perlawanan,” “Lawan Gaza,” dan “Ranting zaitun takkan jatuh.”

Sejak dimulainya serangan Israel, lebih dari 63.000 warga Palestina—kebanyakan perempuan dan anak-anak—telah tewas di Gaza. Akibat blokade yang terus berlanjut, setidaknya 322 orang, termasuk 121 anak-anak, telah meninggal karena kelaparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *