Tunis, Purna Warta – Aktivis Afrika Utara meluncurkan konvoi darat menuju Gaza untuk memprotes blokade Israel, di tengah meningkatnya kecaman terhadap rezim Israel atas krisis kemanusiaan yang ditimbulkannya oleh pengepungan yang tidak manusiawi.
Sebuah konvoi bus dan kendaraan pribadi yang membawa aktivis Tunisia dan Afrika Utara lainnya berangkat dari ibu kota Tunisia pada hari Senin. Perjalanan simbolis ini bertujuan untuk menyoroti blokade yang diberlakukan di Gaza dan mengekspresikan solidaritas dengan warga Palestina yang dikepung. Inisiatif ini menyusul penyitaan Armada Kebebasan oleh angkatan laut Israel pada hari Senin, sebuah misi maritim yang berupaya mengirimkan bantuan ke Gaza.
Di antara mereka yang ditahan selama operasi itu adalah aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, yang dideportasi oleh Israel. Konvoi Afrika Utara, yang disebut “Soumoud” atau “keteguhan,” mencakup anggota masyarakat sipil seperti pengacara dan profesional medis. Diorganisasikan secara independen, kelompok tersebut menekankan bahwa misi tersebut tidak membawa bantuan material, tetapi berfungsi sebagai kecaman publik terhadap “pengepungan yang tidak adil” yang diberlakukan oleh Israel.
Waktu konvoi dikoordinasikan agar selaras dengan armada laut, dalam upaya untuk meningkatkan perhatian global terhadap blokade tersebut. Para peserta berencana untuk menyeberangi Libya dan Mesir, dengan tujuan mencapai penyeberangan Rafah — yang sebagian besar ditutup sejak Mei 2024 setelah pasukan Israel merebut sisi Gaza di tengah serangan baru. Para penyelenggara mengkritik kelambanan pemerintah Arab, mendesak tekanan segera untuk mengakhiri perang brutal yang telah berlangsung lebih dari 20 bulan.
Mereka berpendapat bahwa blokade telah memperdalam krisis kemanusiaan di Gaza, dengan peringatan dari badan-badan internasional tentang potensi kelaparan massal.


