Al-Quds, Purna Warta – Surat kabar Yisrael Hayom dalam edisi terbarunya pada Jumat mengakui bahwa upaya-upaya untuk mendorong kedekatan terbuka antara Arab Saudi dan Israel masih terus menghadapi reaksi negatif dan keras dari masyarakat Arab Saudi.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa, menurut kalangan Israel, upaya normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel justru menimbulkan hasil yang berlawanan dan menyebabkan meningkatnya kebencian masyarakat Saudi terhadap Zionis.
Media tersebut mengakui bahwa Anti-Defamation League (ADL) — sebuah lembaga Zionis yang bertugas memantau arus anti-Zionisme di tingkat global — baru-baru ini menyatakan kekhawatiran serius atas meningkatnya tajam nada anti-Israel di Arab Saudi, serta menegaskan bahwa wacana penolakan terhadap Perjanjian Abraham di negara tersebut mengalami peningkatan signifikan.
Menurut pengakuan media itu, saat ini para analis, kolumnis, dan penceramah keagamaan menggunakan istilah dan ungkapan yang secara tegas anti-Israel, serta menyampaikan berbagai analisis kepada audiens mereka terkait apa yang mereka sebut sebagai konspirasi Zionis.
Yisrael Hayom, mengutip pernyataan yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut, menegaskan bahwa wacana penentangan anti-Zionis (yang oleh media Ibrani disebut sebagai “antisemitisme”) di Arab Saudi meningkat secara drastis. Serangan terbuka terhadap Perjanjian Abraham semakin meluas dari hari ke hari, sebuah perkembangan yang dinilai sangat mengkhawatirkan, hingga menyebar luas di Arab Saudi dan bahkan melibatkan tokoh-tokoh terkemuka serta figur publik kerajaan tersebut.
Menurut para analis Zionis, tren ini berpotensi memberikan pukulan yang tidak dapat diperbaiki terhadap berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mendorong normalisasi.
Dalam bagian lain laporan itu disebutkan bahwa sehari sebelumnya, Amit Segal, analis Yisrael Hayom, menulis dalam sebuah catatan bahwa Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir telah mengambil langkah-langkah di bidang media untuk mengurangi legitimasi proses normalisasi dengan Israel. Sebagai contoh, jaringan Al Arabiya baru-baru ini menayangkan sebuah program yang secara tajam mempertanyakan gagasan normalisasi dengan Israel, dan dinilai memiliki kemiripan dengan program-program yang disiarkan oleh jaringan Al Jazeera Qatar.
Yisrael Hayom juga mengakui bahwa bahkan para pembuat konten dan podcaster di Arab Saudi — yang sebelumnya lebih banyak membahas topik seperti mobil mewah, olahraga, dan budaya masyarakat — belakangan ini mendedikasikan sebagian dari konten mereka untuk menyerang secara langsung Zionisme dan Perjanjian Abraham. Padahal, para kreator ini memiliki jumlah pengikut yang besar dan tidak terafiliasi dengan aliran politik maupun kelompok keagamaan tertentu. Meski demikian, mereka mengambil sikap keras terhadap Israel dan secara terbuka menyatakan penolakan mendasar terhadap gagasan normalisasi dengan Israel.
Hal ini, lanjut laporan tersebut, terlepas dari aktivitas para dai dan ulama Saudi, termasuk penceramah yang aktif di Mekkah, yang menyebarkan pesan-pesan anti-Israel secara luas di dunia Sunni. Pesan-pesan tersebut disebarluaskan oleh lembaga keagamaan Saudi dan memainkan peran besar dalam memberikan legitimasi terhadap wacana anti-Israel dan penolakan normalisasi di negara-negara Arab lainnya.


