Purna Warta – Liverpool kembali menuai kekalahan saat menjamu PSV Eindovhen dewngan skor 1-4 di Anfield. Kekalahan ini menjadi mimpi buruk nyata bagi The Reds. Ini adalah kekalahan kesembilan mereka dalam 12 pertandingan terakhir.
Baca juga: Miralem Pjanic Putuskan Pensiun dari Sepak Bola
Musim Liverpool kini telah mencapai fase gallows humour. Situasi di mana segalanya terasa begitu buruk hingga hanya bisa ditertawakan.
Tim ini terlihat seperti kapal karam yang tak tertolong. Slot sendiri tampak seperti nakhoda yang sibuk mengamati kerusakan mesin saat kapal mulai tenggelam.
Virgil van Dijk sebelumnya meminta tim untuk kembali ke dasar permainan (back-to-basics). Namun, sang kapten justru melakukan hal sebaliknya di lapangan.
Van Dijk melakukan handball konyol ala pemain bola basket. Ia kemudian memprotes wasit dengan arogan saat penalti diberikan.
Performa bek Belanda ini benar-benar di luar nalar. Ia berputar-putar seperti robot rusak saat proses gol ketiga PSV terjadi.
“Lakukan hal-hal yang mendasar, sederhanakan semuanya,” ujar Van Dijk sebelum laga.
Ironisnya, Van Dijk justru menjadi barometer kekacauan tim. Iklan liburannya yang tayang saat jeda babak pertama bahkan terasa sangat tidak sensitif dengan situasi tim.
Masalah mendasar Liverpool sebenarnya sangat jelas terlihat. Era Jurgen Klopp sukses karena intensitas tinggi yang “militan”.
Kini, intensitas itu lenyap tak berbekas. Liverpool menjadi tim yang kurang bertenaga dan kehilangan identitas pressing mereka.
Baca juga: Nasib Altay di MU Kini Diambang Pintu Keluar
Banyak pemain baru masuk, namun justru mendilusi semangat kolektif tim. Tidak ada metode jelas, tidak ada chemistry, hanya potongan-potongan bakat mahal yang dipaksa bersatu.
Arne Slot kini menghadapi pertanyaan besar. Apakah ia bisa memperbaiki situasi yang tidak jelas masalahnya apa ini?


