Liverpool Makin Terbenam dan Tenggelam

Purna Warta – Penampilan Liverpool menjadi pertanyaan publik dan fans mereka, membuat tim ini semakin tenggelam. Penampilan yang tidak konsisten semakin membuat mereka kesulitan untuk naik ke peringkat atas. Hanya dalam 12 laga, tim asuhan Arne Slot sudah menelan enam kekalahan, angka yang menghapus aura dominan yang mereka tunjukkan musim lalu.

Baca juga: Inilah Pemain-Pemain yang akan Menjadi Penentu di Derby

Menurut data Opta, kekalahan beruntun dengan margin tiga gol atau lebih dari Bournemouth dan Nottingham Forest menjadi catatan mengerikan. Terakhir kali Liverpool mengalami hal seperti itu terjadi pada April 1965 di bawah Bill Shankly, sebuah periode yang sudah lebih dari setengah abad silam.

Situasi ini menunjukkan betapa drastisnya penurunan performa tim yang baru beberapa bulan lalu begitu digdaya hingga meraih gelar liga dengan relatif mudah.

Padahal, Slot sempat menuai pujian luas karena memenangkan liga tanpa tambahan pemain baru sepanjang musim lalu. Namun, ketika klub akhirnya mengucurkan dana besar sekitar £450 juta di musim panas ini, ekspektasi pun melonjak. Kedatangan dua rekrutan mahal, Florian Wirtz dan Alexander Isak, keduanya dibeli dengan banderol lebih dari £100 juta dianggap akan memperkuat kedalaman dan kualitas skuad.

Sayangnya, realita jauh dari harapan: keduanya belum menyumbang satu pun gol atau assist di liga. Situasi Isak bahkan lebih mencemaskan karena ia mencatat rekor negatif sebagai pemain Liverpool pertama yang kalah dalam empat laga awalnya sebagai starter di Premier League.

Masalah Liverpool jauh lebih kompleks dan merata. Pada musim lalu, The Reds hanya kalah empat kali sepanjang liga, tetapi musim ini jumlah kekalahan itu sudah mereka samai bahkan sebelum kalender memasuki bulan Desember.

Baca juga: Van Bronckhorst Masuk Kandidat Pelatih Indonesia

Lini belakang yang sebelumnya menjadi fondasi kekuatan tim kini tampil rapuh, kebobolan 20 gol dalam 12 pertandingan, hampir setengah dari total kebobolan mereka musim lalu.

Ketidakhadiran Trent Alexander-Arnold juga terbukti sangat merugikan. Meski sering dikritik soal pertahanan, kontribusi kreatifnya selama sembilan tahun di tim utama sulit tergantikan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *