Purna Warta – Duck Syndrome atau sindrom bebek pertama kali dicetuskan oleh Stanford University. Kondisi psikologis datang dari mahasiswa yang bertahan dari tekanan lingkungan yang kompetitif, tapi justru yang ditampilkan adalah kepribadian yang santai. Hal ini dianalogikan seperti bebek yang terlihat tenang berada di kolam, padahal kakinya tengah mengayuh di bawah permukaan air untuk mempertahankan agar tubuhnya tetap stabil.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Mayapada Hospital Kuningan dr. Elli Misnawati, Sp.KJ menjelaskan tentang fenomena Duck Syndrome ini. Menurutnya, Duck Syndrome terlihat dari penampilan sehari-hari, di mana orang tersebut tampak sangat tenang, terlihat tidak punya masalah, bahkan mungkin mempunyai prestasi atau karier yang cukup baik dan bahkan mempunyai kehidupan yang sempurna.
Kenali Gejala Duck Syndrome
Gejala Duck Syndrome bisa dikenali sejak dini. Dokter Elli menyebut, ada beberapa gejala yang umum ditemukan di masyarakat, antara lain:
1. Kompetitif
Punya keinginan yang kuat untuk melakukan kompetisi dengan orang lain. “Ia selalu ingin tampil lebih baik daripada orang lain, sehingga ia akan seperti mencari sebuah validasi atau berusaha untuk menampilkan citra diri yang sempurna di publik,” ucap dr. Elli.
2. Muncul Rasa Cemas
Perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan lainnya akan muncul ketika melihat pencapaian orang lain. Itu mungkin dianggap melebihi dirinya sendiri atau dia melihat kehidupan orang lain itu lebih baik daripada dirinya sendiri,” tuturnya.
3. Rasa Lelah Berkepanjangan
Dokter Elli juga memaparkan, orang yang mengalami Duck Syndrome akan muncul rasa lelah berkepanjangan, karena ia akan selalu berusaha untuk memenuhi ekspektasi mereka.
Itulah, sekilas mengenai gejala Duck Syndrome. Fenomena ini kerap terjadi dalam lingkungan pertemanan dan di semua kalangan.


