HomeAnalisaTurki-Israel Ingin Kembali Merajut Kerjasama, Bagaimana dan Untuk Apa?

Turki-Israel Ingin Kembali Merajut Kerjasama, Bagaimana dan Untuk Apa?

Purna Warta – Tahun 2020 di mata Recep Tayyip Erdogan dan partai Keadilan dan Pembangunan Turki bermasalah bagi mereka melebihi harapan yang diangan-angankan.

Turki mengklaim bahwa mereka berhasil menundukkan Corona, namun jelas pukulan pandemi ini telah menarik ekonomi Ankara ke bibir jurang. Parawisata yang hanya diminati sejumlah kecil asing dan karantina berkali-kali membekukan Ankara tidak mampu mengelak erosi ekonomi internasional, yang bergantung pada uang dan investor asing. Sementara tagihan hutang puluhan miliar dolar semakin mencekik.

30% nilai mata uang Lira tertunduk lesu di hadapan Dolar. Ini adalah fakta yang membuktikan krisis yang diarungi Turki. Selain itu, masalah Timteng, utara Afrika, termasuk Libya dan utara Suriah menambah tekanan kepada Turki. Yah meskipun hal ini tidak bisa dibandingkan dengan yang terjadi di dalam negeri sekutunya, Amerika.

Terpilihnya Joe Biden menandakan akhir masa keemasan hubungan Erdogan-Trump. Meskipun banyak cekcok dengan Trump, namun Erdogan mampu menyelesaikan banyak hal dengan pemerintahan Donald Trump. Namun sepertinya terpilihnya Joe Biden telah menutup kesempatan tersebut.

Kurdi dan Dukungan Pemerintahan Obama

Hubungan Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki dengan mantan Presiden AS, Barack Obama bisa disebut hubungan campuran antara cinta dan benci. Diawali dengan dukungan Obama, Turki menyetujui terpilihnya salah satu cabang Ikhwan al-Muslimin di utara Afrika dan Timteng. Dengan harapan dukungan finansial dan lainnya dari Amerika kala itu, Erdogan mengangankan sholat di Masjid Umawi setelah gelontoran cuan dan senjata untuk oposisi Suriah.

Tak disangka, pada tahun 2013, pemerintah Turki menghadapi satu fakta pahit. Mereka baru sadar bahwa percaya pada Amerika bisa menjadi kerugian besar. Yaitu ketika Barack Obama, di akhir masa pemimpinannya, menyesalkan agresinya ke Suriah dengan tuduhan penggunaan senjata kimia sehingga memaksa Presiden AS kala itu mengadakan kesepakatan dengan Rusia. Di saat inilah, Erdogan sadar.

Dari sisi lain, permulaan perang kelompok Kurdi YPG dengan ISIS membuat musuh bebuyutan Turki ini menjadi pahlawan Obama. Media-media Barat tak henti melaporkan perempuan militan Kurdi berani melawan teroris di medan perang. Puncak perlawanan adalah bangkitnya daerah Kurdi, Ain al-Arab memerangi ISIS. Inilah tembok pertahanan Kurdi di dekat perbatasan Turki.

Semua kejadian ini membuat Turki geram dan mengkategorikan Kurdi Suriah sebagai ancaman besar untuk keamanan dan stabilitas nasional Ankara, sebagaimana konflik Ankara-Kurdi di Irak, tepatnya di utara Irak dan daerah-daerah Selatan Turki, yang telah menjadi medan perang tentara Turki dengan unsur-unsur partai Buruh Kurdi.

Berkali-kali Turki mengabarkan ancaman Kurdi di Suriah kepada Amerika Serikat. Namun Kemenlu AS pemerintahan Barack Obama yang dikepalai oleh John Kerry lebih memilih untuk menjadikan Kurdi sebagai sekutu di Damaskus. Bahkan AS mendukung perluasan kekuasaan Kurdi di timur laut Suriah, terkhusus sekitar Furat.

Sengaja Pentagon membangun pangkalan di tengah wilayah Kurdi. Dengan rasa percaya kepada Kurdi, militer Amerika bergerak tanpa menggunakan baju anti peluru yang berat dan keliling beronda hanya dengan perlengkapan ringan.

Selain itu, AS berusaha membangun aliansi dengan nama anti-ISIS di timur laut Suriah. Yang secara taktik, hal itu akan mengamankan Kurdi dari serangan udara.

Kudeta 2016 Turki dan Soal Gulen

Puncak dari kegeraman Erdogan kepada pemerintahan Obama adalah kudeta 2016. Beberapa personil militer angkat senjata demi menggulingkan Recep Tayyip Erdogan. Namun nasib memihak Erdogan, kudeta gagal.

Pemerintah Erdogan mengklaim bahwa jaringan Fethullah Gulen yang menyetir di balik kemudi. Puuhan ribu ditangkap dan Erdogan mulai bersih-bersih tubuh militer. Namun pemerintah Barack Obama acuh tak acuh dan tidak bersedia mengganggu Fethullah Gulen di kediamannya di Pennsylvania, dengan alasan tidak adanya bukti yang cukup.

Aksi-aksi pemerintah Barack Obama ini membuat pemerintahan Turki mengindikasikan AS tahu akan kudeta 2016. Turki marah dan kemarahan itu dimuntahkan dalam ancamannya ke pangkalan Incirlik, namun kerjasama Turki-NATO terus berlanjut.

Peta di atas ini memaksa Turki pergi ke pangkuan kerjasama segitiga, Iran-Rusia-Turki untuk masalah Suriah. Bahkan Turki bersedia merekonstruksi politiknya mengenai pemerintahan Assad.

Setelah itu, terpilihlah Donald Trump dan kembalilah harapan yang sempat terpendam.

Bulan Madu Trump-Erdogan

Lain dari pemerintahan Barack Obama, Presiden Donald Trump melihat belum adanya alasan cukup untuk membantu Kurdi. Di sisi lain, Turki berhasil menembus tim transisi pemerintahan Trump.

Pada tahun 2016, diadakan pertemuan antara Menlu Turki dengan Jared Kushner, menantu Presiden, di New York yang juga dihadiri oleh Michael Flynn dan Bijan Kian, berdarah Iran. Secara lahir terbangun kesepakatan untuk memulangkan Fethullah Gulen.

Tapi Michael Flynn, yang diangkat menjadi Penasihat Keamanan Nasional, ditangkap pengadilan karena tertuduh penipuan ke pemerintahan Trump. Sedangkan Bijan Kian juga sempat diinvenstigasi karena tidak mendaftarkan kesepakatan tersebut, meskipun akhirnya dibebaskan.

Recep Tayyip Erdogan membeli sistem pertahanan S-400 Rusia, namun dia tidak mendapatkan protes yang begitu keras meskipun berakhir dengan kegagalan mendapatkan F-35.

Hadiah terbesar Donald Trump kepada Erdogan adalah membuka intervensi senjata Turki di daerah-daerah pendudukan Kurdi di utara Suriah. Lampu hijau Donald Trump memberikan kesempatan Turki untuk beroperasi di utara Suriah atas nama green zone. Satu kesempatan yang hanya berupa hiasan mimpi di periode Obama kemarin.

Dan sekarang Donald Trump harus pergi dari Gedung Putih tanggal 20 Januari 2021 nanti. Tentu Pemerintah Turki akan menghadapi lika-liku dalam hubungannya dengan Amerika. Terkhusus setelah dibukanya kran boikot atas Turki karena pembelian S-400 Rusia, yang tidak akan dilewatkan begitu saja oleh Joe Biden.

Erdogan dan Dukungan Lobi Israel

Karena permasalahan di atas, Presiden Recep Tayyip Erdogan akhirnya mendekati Israel. Pernyataan Erdogan belum lama ini mengenai hubungan dengan rezim Zionis berdasar pada kekhawatiran ini.

Hubungan Turki dengan Israel di periode kepemimpinan partai Keadilan dan Pembangunan berliku-liku. Semenjak 2010, yaitu semenjak Israel menyerang kapal Turki, Mavi Marmara, hubungan Ankara-Tel Aviv tidak pernah hangat seperti sebelumnya. Meskipun kedua belah pihak puas dengan kesepakatan dalam pertemuan rahasia di Swiss, namun dari tahun 2018, bersamaan dengan pindahnya Kedubes AS ke al-Quds, tidak ada kunjungan kedua belah pihak.

Terbukanya kesempatan normalisasi hubungan ini menandakan adanya perundingan di balik tirai. Perundingan yang kemungkinan besar ditengahi oleh Azerbaijan. Pemerintah Baku memiliki nilai lebih hingga menjadi pelantara ini. Baku berhasil meraih daerah Karabakh dengan bantuan Turki dan di lain pihak, Azerbaijan memiliki persekutuan dengan Israel.

Krisis Israel dengan AS hampir sama dengan Turki, namun masih tidak seburuk nasib Erdogan dengan Joe Biden. Rezim Zionis mengharap politik yang lebih memihaknya di antara sekian politik semisal perundingan dan pulang ke pangkuan JCPOA.

Sedari sekarang petinggi Zionis sudah mengatakan bahwa pemerintah Biden tidak boleh kembali ke JCPOA atau mengurangi boikot minyak Tehran. Karena boikot menurut Tel Aviv bisa mengurangi kekuatan dan hegemoni Tehran.

Meski demikian, rezim Zionis masih memiliki lobi luas di Washington, seperti AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). Hal ini yang dibutuhkan Turki. Satu lobi Israel bisa mendukung Turki menekan Joe Biden. Dan dengan pukulan tersebut, Zionis juga berharap kontrol pemerintahan AS selama 4 tahun ke depan.

Tapi jangan dilupakan bahwa bantuan Israel ini memiliki harga dan dari sekarang daftar harga tersebut mulai muncul.

Apa yang Diinginkan Israel dari Turki?

Sebagai contoh, selama ada kantor Hamas di Turki, reformasi politik Ankara-Tel Aviv bisa dilakukan. Israel mengumumkan bahwa ratusan pasukan Hamas, yang terlibat serangan ke Tel Aviv, berlindung di Turki. Bahkan pemerintah Erdogan memberikan kewarganegaraan kepada sebagian mereka.

Pada bulan Agustus 2020, Kemenlu AS mengecam Turki kasar-kasaran karena menjamu kunjungan petinggi Hamas, termasuk Ismail Haniyeh.

Selain itu, Israel juga bisa menuntut Turki agar memaksa Iran merubah politiknya di Suriah, bahkan bisa saja menuntut pengusiran dan pemutusan bantuan Tehran ke Damaskus.

Israel juga bisa meminta Turki untuk membatasi kerjasamanya dengan Iran dan membuka pintu lebar-lebar kepada Mossad untuk melawan Tehran.

Seberapa besar Erdogan akan mengabulkan tuntutan Israel ini, tergantung pada politik Joe Biden. Iran juga akan mengawasi Turki. Iran tahu bahwa setiap perubahan dalam hal ini akan berefek pada relasi Ankara-Tehran.

Baca juga: Turki Sambut Kesepakatan Saudi-Qatar

Must Read

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven + 9 =