Trump Terjebak Dalam Situasi Mencekik Namun Kunci Masalahnya Ia Abaikan

Trump

Purna WartaSemua mencari strategi keluar konflik. Donald Trump memperpanjang gencatan senjata di Teluk dan Selat Hormuz hingga waktu yang tak ditentukan akibat tidak berbuahnya negosiasi. “Kami diminta untuk menahan serangan terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal” tulis Trump di Truth Social. Pesan Trump ini tidak sesuai dengan syarat awal negosiasi dimana Iran sudah menyampaikan syarat jika AS ingin bernegosiasi dan AS sudah menyetujuinya, sehingga tidak diperlukan proposal lagi.

Prospek strategi keluar bagi kedua pihak tampak abu-abu. Penolakan pihak Iran untuk datang dengan alasan pelanggaran syarat-syarat gencatan senjata oleh AS membuat Wakil Presiden Vance menunda keberangkatan ke Pakistan. Trump bukannya mengakui adanya pelanggaran senjata, justru menuduh para komandan IRGC tidak mampu mengatur diri mereka sendiri.

Terlepas dari blokade, strategi keluar tersedia untuk kedua belah pihak. Namun, jalan menuju perdamaian harus melalui hukum, bukan perang. Mengancam meledakkan semua jembatan dan pembangkit listrik dan menghancurkan Iran hingga kembali ke zaman batu hanya memperkeruh suasana dan menjadikan jalan keluar semakin sempit.

Strategi keluar harus lebih dari sekadar rencana pelarian ala Houdini. Strategi harus mengarah pada serangkaian tindakan dan kesepakatan memastikan keberlanjutannya. Kesepakatan dadakan tidak bertahan lama dan ini sepertinya yang disukai Trump dan sekutunya untuk kemudian mempersiapkan serangan penentu dalam satu bentuk pelanggaran kesepakatan sebagaimana terjadi berulang kali.

Kesepakatan dengan Iran cepat atau lambat harus terwujud dan ini akan membutuhkan kerja keras dalam segala rinciannya. Kita berbicara di sini tentang serangkaian kesepakatan dan jaminan yang mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk diselesaikan. Kesepakatan nuklir JCPOA yang disepakati pada 2015 membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk dinegosiasikan. Namun negosiasi yang berlangsung 2 tahun dengan segala kerugian yang diderita Iran tersebut pada akhir dirusak Trump pada 2018 begitu saja.

AS, Israel dan negara-negara Arab Teluk terkejut dengan daya tahan pasukan pesisir dan komando IRGC. Mereka secara efektif menguasai Teluk dan selat tersebut.

Program perdamaian akan menjadi sebuah proses yang cukup rumit karena dua faktor. Pertama, Iran sebagai pihak yang memegang kendali Selat Hormuz dan berada di posisi kuat memiliki tuntutan terkait negosiasi perang dan garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan. Kedua, AS yang terus menerus menekankan pembatasan nuklir dan program rudal Iran disamping tuntutan-tuntutan lainnya. Hal ini bermasalah karena dua hal yang paling ditekankan AS adalah salah satu garis merah Iran yang tidak bisa dinegosiasikan, ini disamping posisi AS yang tidak memegang kendali perang dengan kegagalannya membuka Selat Hormuz.

Tim negosiator Iran di Islamabad menyebut banyaknya tuntutan AS kendati pihak penuntut sebenarnya adalah Iran membuat negosiasi tersebut tidak membuahkan hasil.

Iran menyetujui untuk hadir dalam negosiasi Islamabad usai AS setuju dengan syarat dan tuntutan Iran. Namun, di Islamabad, AS justru berbalik menuntut Iran ini berkontradiksi dengan tujuan awal negosiasi, yaitu membahas tuntutan Iran.

Semua upaya AS untuk bernegosiasi dengan Iran pada akhirnya mereka hancurkan itu semua dengan arogannya. Iran yang tidak mau dipermainkan, tentu tidak tinggal diam dan akan mengambil tindakan demi memperkuat pengaruhnya. AS kini terjebak antara memaksakan keinginannya terhadap Iran yang tentu tidak akan sukses atau menerima tuntutan Iran.

 

M. Rumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *