HomeAnalisaSepertinya Bersatu, Tapi Aslinya Saling Jotos

Sepertinya Bersatu, Tapi Aslinya Saling Jotos

Purna Warta – Hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab secara lahir selalu menunjukkan persahabatan yang baik dan saling membantu. Dalam banyak momen internasional, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa tanda yang mengungkap kebobrokan relasi keduanya, yang menurut analisa sebagian pengamat, tahun ini akan menjadi tahun antagonisme.

Menurut analisa Arabi21, silang arah politik dan prioritasi kepentingan pribadi akan menambah panjang retak Saudi-UEA, meski para politikus Riyadh-Abu Dhabi terus mendengungkan suara yakinnya akan hubungan mendalam keduanya dan mengatakan, persilangan hanyalah masalah lahir, tidak akan memengaruhi relasi.

Sementara Arabi21 membuktikan beberapa masalah yang mungkin menjadi faktor keretakan hubungan Saudi-Emirat.

Yaman

Sedari hari awal agresi ke Yaman pada April 2015, Saudi sudah menegaskan dukungannya terhadap pemerintahan Abdrabbuh Mansur Hadi dan menolak segala macam aksi separatisme. Namun Emirat, secara transparan menyokong Pemerintahan Transisi Selatan Yaman yang terus menuntut separatisme. Bahkan beberapa kali menyerang prajurit proxy Saudi dan pemerintah Mansur Hadi dan menuding Ikhwan al-Muslimin sebagai pemegang kontrol pemerintah.

Salah satu tanda perselisihan Saudi-Emirat adalah aksi brutal Dewan Transisi Selatan Yaman yang terus mengangkangi resolusi Riyadh dan pemerintah Abdrabbuh Mansur Hadi. Dewan Transisi dukungan Emirat enggan melaksanakan isi perjanjian.

Pertikaian Emirat-Saudi sebenarnya sudah terbongkar semenjak hari pertama agresi. Ketika Eissa al-Mazrouei, Komando militer UEA di Yaman, menjelaskan tujuan perang Emirat di Yaman yaitu melawan al-Houthi, Ikhwan al-Muslimin, al-Qaeda dan ISIS. Pernyataan ini dikeluarkan di saat para petinggi Ikhwan al-Muslimin Yaman (partai al-Islah) bermalam di Hotel Riyadh.

Salah satu serpihan yang membongkar kontroversial Saudi-Emirat adalah di saat Emirat pada bulan Juni 2019 mengabarkan kebijakannya untuk menarik mundur pasukan Abu Dhabi dari Sanaa.

Radio Monte Carlo ketika itu melaporkan, “Kebijakan ini diputuskan Emirat dengan dua tujuan. Satu; mengirim unsur-unsur Yaman dukungannya ke medan Sanaa, pasukan yang telah mereka latih sebelumnya. Kedua; kebijakan Emirat diputuskan demi menarik perhatian Iran. Sedari tahun 2013, baru kali itu delegasi Iran disambut baik oleh Abu Dhabi.”

Arabi21 melanjutkan analisanya dan mengatakan bahwa Emirat memutuskan untuk selangkah lebih dekat dengan penguasaan pelabuhan Aden. Pelabuhan yang menjadi bagian dari perdagangan internasional.

Adapun yang urgen dalam mata Arab Saudi adalah mengusir dan mencegah al-Houthi untuk terus mencengkramkan taringnya di wilayah perbatasan Selatan. Menurut Saudi, kehadiran al-Houthi sama dengan kehadiran Iran. Tapi harus dikatakan bahwa mereka (Saudi) hingga saat ini masih belum menemukan hidayah, alias gagal.

Di medan pertempuran, sangatlah sulit untuk mengkoordinasikan tentara proxy Saudi dan Emirat. Meskipun demikian, Saudi dan Emirat selalu berusaha menutupi kontroversi dalam tubuh diplomatik kedua belah pihak.

Arabi21 bertanya, di antara keduanya, mana yang lebih dominan? Arabi21 sendiri menegaskan bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu dipersoalkan dalam urusan Saudi-Emirat.

Semenjak Mohammed bin Salman menduduki kursi Putra Mahkota, sebagian analis politik dan media mengatakan bahwa sedari detik itu sampai sekarang, politik luar negeri Riyadh diambil berdasarkan bisikan-bisikan Mohammed bin Zayed.

Namun oposisi Riyadh, Abdullah al-Ghamdi menolak prediksi ini dan mengatakan, “Hubungan Riyadh-Abu Dhabi adalah hubungan bilateral. Meskipun banyak perbedaaan dalam detail kecil, namun memiliki banyak kesamaan secara umum.”

“Tujuan kedua pihak adalah normalisasi dengan Israel dan mendukung anti revolusi dunia Arab,” tambah Abdullah al-Ghamdi, kemudian menegaskan, “Secara mental MBS dan MBZ sangatlah dekat, hanya dengan satu perbedaan, Bin Zayed lebih banyak pengalaman.”

Oposisi Saudi yang lain, Sa’ad al-Faqih dalam wawancara dengan stasiun televisi menjelaskan, “Bin Salman menuntut damai dengan Qatar. Namun Emirat meskipun menolak hal ini, tapi di saat yang sama memaksa MBS untuk mundur. Menurut MBS, krisis Qatar hanya dikarenakan tekanan Donald Trump. Emirat tidak memiliki pengaruh dalam hal ini.”

Perselisihan yang Mengakar

Para analis terus menyorot perbedaan Emirat dan Arab Saudi. Rektor politik Qatar, Ali al-Hail dalam hal ini menyatakan, “Kedua pihak berselisih pendapat mengenai ladang minyak al-Shaybah. Emirat ingin menguasai sebagian tanah Saudi dengan begitu tamaknya demi ekspedisi sumber-sumber minyak dan gas.”

Silang pendapat ini sudah ada sejak dahulu, yaitu semenjak resolusi Jeddah tahun 1974 yang memaksa Saudi untuk menutup mata atas wilayah al-Buraymi, sedangkan UEA harus menyerahkan 5 kilometer wilayah pantainya ke Saudi dan menyebabkan Emirat mundur untuk mengakuisisi al-Shaybah, daerah kaya minyak yang bisa menyumbangkan pendapatan 500 ribu barel emas hitam perhari. Dan pertikaianpun terus berjalan hingga sekarang.

Pada tahun 1999, Emirat menolak menghadiri konferensi negara-negara Teluk Persia tingkat Kemenlu, karena Saudi menolak usulan UEA untuk membagi saham produksi minyak al-Shaybah.

Dan pada tahun 2004, Khalifa bin Zayed menduduki tampuk kekuasaan Emirat dan membuka kembali lampiran-lampiran dokumen resolusi 1974. Penasihat Bin Zayed, Abdulkhaleq Abdulla menyatakan, “Resolusi 1974 ditandatangani dalam situasi tak lazim. Dan Abu Dhabi tidak setuju dengan isi resolusi.”

Pada tahun 2006 Emirat menebar sebuah peta yang menunjukkan kawasan Inland Sea atau Khawr al-Udayd sebagai wilayah bagian Dubai. Ini membuat Saudi naik pitam dan memutuskan untuk memberlakukan visa pada setiap warga UEA yang ingin mengunjungi pulau tersebut.

Relasi dengan Iran

Pada bulan Agustus 2019, delegasi garda maritim Emirat memasuki kota Tehran. Menurut pernyataan pemerintah Emirat, kunjungan dalam rangka pertemuan membahas perbatasan penangkapan ikan dan wilayah kelautan kedua negara.

Oraib al-Rantawi, jurnalis Sudan, dalam makalahnya kala itu menulis, “Berbeda dengan Saudi, Emirat berupaya menjaga hubungannya dengan Iran. Lebih dari setengah juta warga Iran tinggal di Emirat, ribuan perusahaan dan organisasi berdiri di Abu Dhabi atas nama sendiri. Terjalin miliaran dolar perdagangan bersama Iran-Emirat dan di ranah diplomatik tingkat tinggi, keduanya berjalan mulus.”

Al-Rantawi mengklaim bahwa hubungan Emirat-Iran inilah yang menyebabkan Abu Dhabi aman dari serangan rudal dan drone Yaman.

Baca juga: Netanyahu Secara Tak Langsung Akui Telah Kunjungi Arab Saudi

Must Read

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − nine =