Sentralitas Palestina: Dari Pemuda Somalia di Minnesota Hingga Perjuangan Anti-Kolonial Global

Palestina somalia

Purna Warta – Akademisi dan aktivis ikonik Palestina-Amerika, Edward Said, pernah menulis:

“Sejak fase paling awal evolusi modernnya hingga berpuncak pada pembentukan Israel, Zionisme ditujukan kepada audiens Eropa yang bagi mereka penggolongan wilayah seberang laut dan penduduk pribumi ke dalam berbagai kelas yang timpang dianggap kanonik dan ‘alami’.

Baca juga: Israel Perintahkan Pembongkaran 25 Bangunan Hunian di Kamp Pengungsi Tepi Barat

Itulah sebabnya, misalnya, setiap negara atau gerakan di wilayah Afrika dan Asia yang pernah berada dibawah jajahan kolonial saat ini mengidentifikasi diri, sepenuhnya mendukung, dan memahami perjuangan Palestina. Dalam banyak kasus… terdapat kesesuaian yang tak terbantahkan antara pengalaman warga Palestina Arab di bawah Zionisme dan pengalaman orang-orang kulit hitam, kuning, dan cokelat yang oleh kaum imperialis abad ke-19 digambarkan sebagai inferior dan tidak manusiawi.”

Apa yang digambarkan Said beberapa dekade lalu masih tetap relevan hingga kini. Saya sepenuhnya menggemakan kata-katanya. Hal itu benar saat itu, dan menjadi semakin jelas setelah peristiwa Banjir Al-Aqsa.

Momen Banjir Al-Aqsa membelah pemahaman tentang kebrutalan, perlawanan, dan makna bertahan melawan rintangan yang nyaris mustahil.

Pemimpin dan ahli strategi Hamas yang gugur, Yahya Sinwar, juga menyinggung hal tersebut dalam sebuah wawancara:

“Dunia mengharapkan kami menjadi korban yang patuh sementara kami dibunuh—disembelih tanpa bersuara. Ini mustahil. Kami memutuskan untuk membela rakyat kami dengan apa pun senjata yang kami miliki,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Sinwar sederhana: inilah alasan mereka melintasi perbatasan Gaza, menginjakkan kaki di tanah Palestina yang diduduki, dan mengirimkan pesan kepada dunia melalui paralayang yang membelah langit.

Apa yang dialami rakyat Palestina sebelum Banjir Al-Aqsa terkubur, diabaikan, dan disisihkan. Kini, pengalaman itu bukan hanya didengar secara global, tetapi juga dirasakan, diakui, dan menjadi panggung bagi kaum tertindas di mana pun untuk kembali menemukan diri mereka.

Sebelum 7 Oktober, Palestina bukanlah pusat perhatian utama. Namun setelah hari itu, Palestina menjadi definisi paling gamblang dari barbarisme kolonial.

Tanggal 7 Oktober mengguncang dunia—bukan secara simbolik, melainkan secara nyata. Kita belum pernah menyaksikan gempa yang mengguncang seluruh planet sekaligus, tetapi 7 Oktober melakukannya.

Peristiwa itu menyeret wacana yang terkubur keluar dari lemari akademik, tempat istilah “anti-kolonial” dan “dekolonial” direduksi menjadi jargon dan kata kunci kosong—pengalih perhatian bagi kiri Eropa-sentris yang tak lagi memiliki tangan untuk berjuang.

Ia menghidupkan kembali wacana tersebut. Mengembalikannya kepada rakyat.
Kepada kaum muda.
Kepada masyarakat kulit hitam dan masyarakat adat.
Kepada setiap komunitas yang diajari untuk menumpulkan rasa sakitnya sendiri, melupakan sejarahnya, dan mengejar “kesuksesan” versi kapitalisme alih-alih martabat.

Banjir Al-Aqsa memaksa kaum tertindas untuk membaca ulang diri mereka, untuk mengingat. Ia membantu miliaran orang yang pernah dijajah merebut kembali apa yang selama ini didorong untuk mereka lupakan: bahwa pembebasan itu mungkin—bahkan ketika jalannya berdarah.

Era pasca-Banjir Al-Aqsa menyingkap dengan kejernihan baru sentralitas perjuangan Palestina dalam gerakan keadilan global.

Baca juga: Tahanan Palestina Kembali Meninggal di Penjara Israel di Tengah Maraknya “Eksekusi Perlahan”

Momen ini menawarkan lensa penting untuk memahami apa yang terjadi di komunitas Somalia di Minnesota, di mana anak-anak muda menggunakan media sosial untuk memparodikan klaim Zionis bahwa Palestina adalah “tanah yang dijanjikan” dengan secara jenaka menyatakan Minnesota sebagai tanah yang dijanjikan bagi mereka.

Di permukaan, itu tampak sebagai lelucon; di baliknya, ia merupakan tindakan politik yang tajam. Para pemuda ini membongkar absurditas mitologi Zionis dan, melalui humor, menghidupkan kembali realitas historis kolonialisme pemukim, pengusiran, dan kekerasan rasial yang membentuk baik Amerika Serikat maupun Israel.

Satire ini bukan sekadar kritik cerdas—ia menandai kesadaran politik yang mendalam. Pemuda Somalia dan kulit hitam di Amerika Serikat menyadari bahwa perjuangan Palestina memperkuat perjuangan mereka sendiri. Mereka memandang Palestina bukan sekadar ketidakadilan yang jauh, melainkan sebuah panggung yang memperbesar perjuangan mereka melawan supremasi kulit putih dan rasisme.

Humor mereka menyingkap lapisan terdalam sejarah AS: genosida terhadap masyarakat adat, pemindahan paksa orang-orang Afrika melalui perbudakan, serta pembangunan masyarakat kolonial pemukim di atas tanah curian dan kehidupan yang dieksploitasi. Dalam konteks ini, Palestina menjadi cermin yang memantulkan kekerasan fondasional Amerika Serikat itu sendiri.

Genosida yang berlangsung di Palestina hari ini mewujudkan logika kolonial pemukim yang sama yang membentuk benua Amerika: tanah dirampas dari pemiliknya, dialokasikan ulang kepada pendatang baru atas nama klaim ilahi atau peradaban, dan dipertahankan melalui kekerasan yang berkelanjutan.

Para pemukim Zionis yang bermigrasi ke Palestina melakukannya sebagai rekrutan ideologis—bagian dari perangkat propaganda yang menjanjikan sebuah tanah air yang, pada kenyataannya, menuntut pengusiran dan penghapusan populasi lain. Paralel strukturalnya tak terbantahkan.

Selama bertahun-tahun, kekuatan imperialis berupaya merongrong sentralitas Palestina dengan mengerahkan strategi whataboutism: “Bagaimana dengan Sudan? Bagaimana dengan Kongo? Bagaimana dengan Myanmar?”

Tujuan strategi ini bukanlah kepedulian tulus terhadap komunitas tertindas lainnya, melainkan memecah solidaritas, memastikan Palestina tidak tetap menjadi titik fokus perlawanan global, dan dengan demikian melemahkan wacana perlawanan itu sendiri.

Jika Palestina menghilang dari kesadaran politik, bahasa pembebasan, pembelaan tanah, dan perjuangan anti-kolonial akan kehilangan jangkar utamanya.

Namun taktik ini gagal. Alih-alih memecah solidaritas, gelombang perlawanan global untuk Palestina justru kembali menghubungkan perjuangan-perjuangan yang selama ini diupayakan untuk diisolasi oleh kekuatan imperialis.

Dari komunitas adat di Australia, Kanada, dan Amerika Serikat yang menari dengan bendera Palestina, hingga komunitas kulit hitam yang mengenali pola kekerasan rasial yang familier, kaum tertindas melihat Palestina bukan hanya sebagai tragedi yang harus ditentang, tetapi sebagai pola sejarah yang juga mereka alami. Dukungan terhadap Palestina lahir bukan semata dari kewajiban moral, melainkan dari pengenalan diri.

Pengenalan ini juga berakar pada keterhubungan material. Struktur dan kekuatan yang sama yang mendanai genosida di Gaza juga terlibat dalam kekerasan yang berlanjut di berbagai wilayah Afrika, termasuk di Kongo hari ini. Jaringan ekstraktif, termiliterisasi, dan imperialis yang menopang Zionisme juga menopang eksploitasi global. Ini bukanlah perjuangan paralel—melainkan saling terkait secara mendalam.

Kembali ke komunitas Somalia di Minnesota, humor mereka menjadi tindakan politik berupa ingatan sejarah, kesadaran global, dan solidaritas. Mereka memahami bahwa perjuangan Palestina memperkuat perjuangan mereka sendiri untuk martabat, keamanan, dan pembebasan.

Bukan hanya karena Palestina mewakili salah satu contoh paling terang dari pendudukan dan perampasan, tetapi juga karena perlawanan terhadap penindasan tersebut berdiri sebagai salah satu inspirasi paling kuat bagi kaum tertindas di seluruh dunia.

Sentralitas Palestina terletak pada realitas ganda ini: kejelasan ketidakadilannya dan kekuatan perlawanannya. Ia adalah panji tempat berbagai perjuangan global bertemu—bukan karena perjuangan lain bersifat sekunder, melainkan karena Palestina menerangi struktur universal penindasan sekaligus kemungkinan universal perlawanan.

Dengan menyaksikan Palestina, komunitas-komunitas di seluruh dunia sesungguhnya sedang menyaksikan diri mereka sendiri.

Nahid Poureisa adalah analis asal Iran dan peneliti akademik yang berfokus pada Asia Barat dan Tiongkok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *