Purna Warta – Belum pernah sebelumnya Amerika Serikat terlibat dalam perang di mana mereka menelan kekalahan dalam segala aspek sedangkan perang ini hanya dilakukan demi memenuhi ambisi jahat negara lain.
Meski presiden Amerika terus membohongi rakyatnya perihal kemenangan semu atas Iran di Asia Barat, argumen-argumen tersebut tidak mempan memengaruhi sebagian besar rakyat Amerika yang sudah paham betul akan retorika usangnya itu. Washington tidak berhasil dan tidak akan pernah berhasil mengelabui rakyatnya sendiri.
Sejumlah analis mencoba membandingkan kegagalan Amerika di bawah kepemimpinan Donald Trump dalam perang melawan Iran secara efektif dengan kekalahan serta kesalahan strategis yang pernah mencoreng reputasi presiden-presiden terdahulu; namun, kasus kali ini sangatlah berbeda.
Membahas seluruh perang agresi AS tentu merupakan tugas berat, namun ada beberapa perbandingan yang kerap muncul dan layak untuk dianalisis: Perang Irak, Perang Vietnam dan Operasi Eagle Claw.
Semua perbandingan yang disebutkan di atas sangat berbeda sifatnya dari agresi militer berskala besar yang dijalankan oleh pemerintahan Trump. Jika kita meninjau perbandingan dengan Perang Vietnam, hal itu sering kali hanya digunakan sebagai kiasan yang merupakan cara sebagian analis mengaitkan situasi Vietnam dengan apa yang kita saksikan saat ini.
Meskipun ada argumen bahwa AS sedang terjebak dalam situasi sulit terkait perang dengan Iran, situasinya sangat berbeda dibandingkan dengan apa yang terjadi di Vietnam. Pada tahap awal eskalasi konflik, yakni Oktober 1965, jajak pendapat Gallup mencatat tingkat dukungan publik sebesar 64% terhadap intervensi AS di Vietnam; angka ini kemudian berubah pada tahun 1970, di mana sekitar 55% masyarakat AS menyatakan keinginan agar pasukan ditarik pulang.
Pada masa itu, AS telah meyakinkan warganya mengenai perlunya memerangi komunisme dan pentingnya Perang Vietnam, dengan narasi bahwa jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan pemerintahan komunis akan memicu efek domino yang menyebabkan pemerintahan di berbagai negara Asia lainnya turut jatuh ke dalam ideologi tersebut. Momok komunisme begitu membekas dalam benak masyarakat Barat yang menentang Uni Soviet dan Tiongkok di bawah kepemimpinan Mao Zedong.
Dalam kasus Trump, dukungan publik terhadap perang dengan Iran sejak awal memang tidak pernah ada. Data jajak pendapat Ipsos dari awal konflik menunjukkan bahwa 58% warga Amerika menentang perang dengan Iran, sementara hanya 38% yang menyatakan dukungan. Dua minggu setelah konflik bermula, data jajak pendapat Pew Research mengungkapkan bahwa 61% warga negara tersebut tidak menyetujui perang itu. Kini, bahkan basis penggemar Trump yang sangat fanatik pun mulai berbalik menentang perang ini; data jajak pendapat Politico menunjukkan bahwa hanya sedikit lebih dari sepertiga pendukung gerakan MAGA yang menganggap biaya ekonomi perang dengan Iran sepadan dengan hasilnya.
Dalam kasus Perang Vietnam, tingkat dukungan publik pada titik terendahnya pun masih lebih tinggi dibandingkan dukungan pada awal perang dengan Iran. Sementara itu, terkait invasi Irak tahun 2003 yang berujung bencana, jajak pendapat Gallup News mencatat tingkat dukungan sebesar 72%, dengan hanya 25% warga Amerika yang menentangnya.
Lalu ada perbandingan dengan Operasi Eagle Claw, yakni misi gagal total yang diperintahkan oleh mantan Presiden AS Jimmy Carter yang bertujuan membebaskan kembali warga negara Amerika yang ditahan oleh Republik Islam Iran pada saat itu. Nama Jimmy Carter dan operasi gagalnya yang menewaskan delapan personel militer AS kini kembali disebut-sebut akibat Presiden Trump mengomentari pemerintahan Carter.
Jika terjadi invasi darat yang bertujuan menguasai wilayah Iran dengan Pulau Kharg sebagai target pendudukan yang paling banyak dibicarakan publik, hampir dapat dipastikan Presiden AS akan menghadapi situasi di mana sejumlah tentara Amerika berisiko tertawan.
Semua kasus yang disebutkan di atas memiliki satu perbedaan mendasar dibandingkan dengan tindakan pemerintahan Trump saat ini: operasi-operasi tersebut tidak diluncurkan semata-mata demi kepentingan negara asing.
Meskipun Israel jelas berperan mendorong AS untuk melancarkan Perang Irak, konflik tersebut pada kenyataannya menegaskan dominasi Washington di kawasan, semakin menempatkan negara-negara Teluk Arab di dalam genggaman, dan terbukti dapat dimenangkan. Dampak invasi tersebut tidak langsung terasa namun nyata adanya; publik Amerika akhirnya memercayai narasi “musuh Islam” yang menggantikan narasi “musuh merah” (komunisme) yang sebelumnya disebarluaskan kepada masyarakat di seluruh dunia Barat selama Perang Dingin.
Perang Vietnam juga mengalami insiden bendera palsu di Teluk Tonkin yang membantu membenarkan perang tersebut, sementara Irak mengalami serangan 11 September. Perang Iran bahkan tidak menggunakan insiden apa pun sebagai alasan; perang ini dimulai dengan terburu-buru dan bahkan ceroboh.
Kali ini, Iran berhasil menggunakan penutupan Selat Hormuz sebagai alat untuk melawan AS, sementara Ansharullah Yaman kini memperketat hambatannya dengan menerapkan blokade balasan terhadap Arab Saudi di Laut Merah. Jika Angkatan Bersenjata Yaman memilih untuk melakukan hal tersebut, mereka juga dapat memblokir Selat Bab al-Mandab secara total, sehingga menghambat dua jalur perdagangan terpenting di dunia. Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk terus menggempur pangkalan militer AS dan mempermalukan upaya Angkatan Laut AS untuk mengoordinasikan perjalanan kapal keluar dari Teluk.
Kompleks industri militer AS juga mendapat pukulan telak, karena Iran berhasil menembak jatuh jet tempur F-15, bahkan mengunci dan menyerang F-35. Itu bukanlah pesawat tempur biasa, melainkan salah satu penjelmaan dari dominasi perang udara Amerika. Keberhasilan Iran dalam hal ini menghancurkan ilusi dominasi yang dibangun selama puluhan tahun tersebut.
Sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, yang telah berjanji untuk menginvestasikan triliunan dolar dalam perekonomian Amerika, mengalami pukulan telak dalam bidang ekonomi, dengan kemungkinan bahwa beberapa kawasan bahkan akan menjadi tidak dapat dihuni lagi jika perang meningkat. Dari proyeksi kekuasaan hingga penjualan senjata, perampasan sumber daya dan gambaran kemenangan, tidak ada keuntungan apa pun yang bisa dibayangkan.
Hanya Israel yang bisa mendapatkan keuntungan dari perang yang sangat tidak populer ini. Mereka berusaha menggunakan militer Amerika Serikat untuk melakukan pekerjaan kotor mereka dengan menyerang infrastruktur Iran dan memberikan pukulan ekonomi terhadap Republik Islam. Hal ini karena Tel Aviv memahami bahwa pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan oleh mereka sendiri dan selama Iran bisa mendapatkan pukulan, mereka bersedia untuk terus menggunakan pemerintahan Trump untuk melaksanakan perintah mereka.
Perang seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat, dimana Amerika mengalami kekalahan dalam semua kategori dan konflik tersebut dilakukan semata-mata untuk memenuhi keinginan ekspansionis rezim asing. Donald Trump bukanlah Jimmy Carter atau George Bush Jr.; ia akan dikenang sebagai presiden yang meluncurkan perang agresi ofensif atas nama rezim genosida yang tidak peduli bagaimana dampaknya terhadap Amerika Serikat dan seluruh dunia.


