Paus Leo XIV Menunjukkan Dunia Bagaimana Berdiri Menghadapi Trump

Paus Leo menghadapi

Purna WartaAkhir-akhir ini, Paus Leo XIV menggunakan wewenangnya untuk menghadapi seorang pengganggu yang seharusnya dihadapi sejak lama.

Pengganggu itu tentu saja adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melontarkan ancaman kekanak-kanakan dan penuh kata-kata kasar untuk mengintimidasi pemerintahan negara-negara lain agar tunduk.

Selama bertahun-tahun, modus operandi Trump selalu berhasil. Sudah terlalu banyak pemimpin-pemimpin negara yang memilih untuk menenangkannya, alih-alih melawan.

Penalaran mereka sempit, menyangka bahwa menenangkan ego Trump akan meredakan nalurinya. Hal itu justru hanya semakin membuat presiden narsis tersebut semakin menjadi-jadi dan akan terus memanfaatkan kelemahan negara-negara tersebut dalam rangka mewujudkan ambisinya.

Jelas, Paus Leo tidak menerima menggunakan cara lunak dalam menghadapi kekerasan dan kebencian.

Berbeda dengan sejumlah politisi yang menyembunyikan keraguan mereka dalam kata-kata halus. Paus Leo patut dipuj karena mengambil sikap terbuka dan blak-blakan melawan para arsitek perang yang emosional dan bodoh.

Dalam hal ini, Paus Leo tidak hanya mengadopsi sikap mulia pendahulunya, Paus Fransiskus dalam menentang penderitaan dan ketidakadilan, tetapi juga menyempurnakannya menjadi kritik tajam tanpa kompromi menghadapi kesombongan otokratis.

Sementara sebagian besar pemimpin demokrasi liberal Barat enggan mengutuk pernyataan blak-blakan Trump untuk melakukan genosida, Paus Leo menyampaikan keberatannya dengan jelas.

“Seperti yang kita semua ketahui, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran dan ini benar-benar tidak dapat diterima,” kata Paus Leo dalam bahasa Italia. “Dan saya ingin mengajak semua orang untuk benar-benar merenungkan dalam hati mereka tentang… orang-orang tak berdosa yang juga menjadi korban dari eskalasi perang ini.”

Tidak mengherankan, teguran dan seruan Paus Leo mendorong Trump dan para pendukung evangelisnya untuk menegaskan bahwa memikirkan penderitaan orang-orang tak berdosa adalah konsep yang tidak menyenangkan dan asing bagi mereka.

Trump dan kelompok pecinta perangnya menggambarkan penyerangan terhadap Iran sebagai Perang Suci yang diperlukan dan disetujui oleh Tuhan.

Paus Leo menolak mentah-mentah penistaan ​​agama yang terang-terangan itu.

Dalam khotbah yang disampaikan selama misa Minggu, Paus Leo menolak gagasan aneh bahwa Tuhan yang ia layani dan sembah mendengarkan seruan para penghasut perang.

Ia justru bersikeras bahwa “tangan mereka berlumuran darah”.

“Saudara-saudari, inilah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang namanya tidak dapat digunakan oleh siapa pun untuk membenarkan perang,” kata Paus Leo. “Ia tidak mendengarkan doa-doa mereka yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata: ‘Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: Tanganmu berlumuran darah.’”

Paus Leo tidak menyebut namanya, namun serangan tajamnya itu, tanpa diragukan lagi, ditujukan kepada menteri perang Amerika yang sombong, Pete Hegseth dan kelompoknya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak luput dari kecaman Paus Leo.

Paus Leo mengecam “khayalan akan kemahakuasaan yang mengelilingi kita semakin tidak bisa diprediksi dan kian agresif”.

Trump dan Netanyahu menyerupai saudara kembar siam yang memiliki “khayalan kemahakuasaan” dan hasrat tak terpuaskan untuk berperang.

Paus Leo mendesak mereka untuk menghentikan pembantaian terhadap warga Iran.

“Kepada mereka kita berteriak: Hentikan. Sudah waktunya untuk perdamaian. Duduklah di meja dialog dan mediasi, bukan di meja tempat direncanakannya persenjataaan ulang dan diputuskannya tindakan kejam.

“Cukup sudah pameran kekuasaan! Cukup sudah perang! Kekuatan sejati ditunjukkan dalam mengabdi pada kehidupan,” tambahnya.

Respons rezim Trump, seperti yang dapat diprediksi, mencerminkan kebrutalan dan keangkuhan khas panglima tertinggi AS.

Dilaporkan, bahwa Kardinal Christophe Pierre diperingatkan bahwa Washington “memiliki kekuatan militer untuk melakukan apa pun yang diinginkannya dan bahwa Gereja sebaiknya memihak mereka”.

Dihadapkan dengan permusuhan tak terkendali dari seorang presiden yang menuntut kepatuhan, Paus Leo menyindir si pembual. Jawaban Paus sederhana namun menunjukkan tekad yang luar biasa.

“Saya tidak takut pada pemerintahan Trump atau berbicara lantang tentang pesan Injil, yang menurut saya adalah tugas saya di sini, tugas Gereja di sini,” kata Paus Leo.

Aspek yang memperjelas dari bentrokan antara seorang demagog dan seorang paus ini menjadi jelas ketika Trump memposting sebuah gambar lalu kemudian menghapusnya yang menggambarkan dirinya sebagai sosok Kristus.

Itu merupakan upaya menyedihkan untuk mendewakan diri sendiri dan pengingat akan besarnya kesombongan dan keangkuhan Trump.

Itu adalah upaya murahan meraih kesucian dari seorang pria yang hidupnya merupakan antitesis dari nilai-nilai dan keyakinan yang ia ingin capai dalam tujuan politiknya.

Dalam kontes kepribadian dan kehendak, perbedaannya sangat mencolok: Satu pihak menawarkan kiasan pemimpin yang kuat, sementara pihak lain mengingatkan kita bahwa martabat adalah toleransi dan pengertian.

Si pengganggu mungkin memiliki rudal dan kepemimpinan, tetapi ia bertemu dengan lawan berprinsip yang tidak akan diintimidasi, dibeli, atau ditekan.

Dan tampaknya, itulah satu-satunya gagasan yang tidak dapat diterima oleh Donald Trump persis sebagaimana yang ia hadapi di Timur Tengah menghadapi Iran dan kelompok perlawanan. Sebuah kekalahan yang tidak akan pernah terbesit di benak seorang pemimpin angkuh nan sombong seperti Trump.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *