Purna Warta – Target telah ditetapkan, koordinat telah dikunci, dan presiden Amerika Serikat telah memberikan persetujuan atas apa yang seharusnya menjadi serangan berskala besar.
Donald Trump secara pribadi menyetujui tindakan agresi terhadap Dahiyeh, kawasan pinggiran selatan Beirut, sebuah serangan yang dimaksudkan untuk melumpuhkan poros perlawanan dan menghancurkan moral rakyat.
Kemudian, secara tiba-tiba, muncul berbagai bocoran kepada media Amerika dan Israel yang tampaknya bertujuan menyiapkan opini publik melalui narasi yang sudah dikenal: Trump yang marah dikabarkan “membentak Netanyahu yang gila”, lalu memaksanya untuk mundur karena kemarahannya sebagai presiden.
Narasi tersebut dirancang untuk menampilkan Washington sebagai pihak pencinta damai yang menahan sekutunya yang dianggap bertindak di luar kendali.
Namun kenyataan berbicara lain. Iran tidak mengeluarkan siaran pers, melainkan menyampaikan apa yang oleh penulis disebut sebagai perintah tempur. Pesannya jelas: jika Dahiyeh dibakar, maka wilayah Palestina pendudukan bagian utara juga akan terbakar, dan api itu mungkin tidak berhenti di sana.
Dalam hitungan jam, persetujuan Trump menguap dan serangan tersebut dibatalkan. Apa yang disebut sebagai “pembekuan serangan terhadap Dahiyeh” bukanlah terobosan diplomatik, melainkan sebuah kemunduran yang memalukan.
Menurut penulis, langkah mundur yang penuh sandiwara ini merupakan salah satu penghinaan strategis paling besar yang dialami Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa tahun terakhir. Presiden dari negara yang menganggap dirinya sebagai adidaya dipaksa menelan ancaman secara langsung, membatalkan operasi militer, lalu berusaha menampilkan seolah-olah keputusan itu berasal dari dirinya sendiri.
Saat ini, menurut penulis, Gedung Putih meyakini bahwa perang ekonomi terhadap Iran—melalui sanksi yang dianggap melumpuhkan, blokade maritim, dan tekanan sistematis terhadap perekonomian Iran—memberikan hasil yang lebih menguntungkan. Serangan langsung Iran terhadap wilayah utara Palestina pendudukan akan memaksa mesin perang Amerika untuk terlibat secara militer, memicu eskalasi regional dan menghancurkan hasil yang diharapkan dari kampanye tekanan ekonomi tersebut.
Namun demikian, Washington belum menghapus opsi agresi militer terhadap Iran. Opsi itu hanya ditunda sambil menunggu kondisi yang lebih menguntungkan. Karena itu, mundurnya Amerika tidak boleh disalahartikan sebagai perdamaian. Menurut penulis, Trump mundur dari rencana menyerang Dahiyeh bukan karena belas kasihan, melainkan untuk menjaga agar strategi pengepungan terhadap Iran tetap berjalan. Bom-bom hanya ditangguhkan agar tekanan ekonomi dapat terus diperketat tanpa gangguan.
Ketika dampak penghinaan itu mulai mereda, muncul kampanye terkoordinasi yang menyebar di media sosial dan menjangkau komunitas-komunitas pengungsi. Kampanye tersebut mengangkat pertanyaan yang sama: Di mana Iran? Mengapa Teheran bergerak begitu jauh untuk melindungi Dahiyeh, tetapi membiarkan Lebanon Selatan terus dibombardir?
Penulis berpendapat bahwa pertanyaan tersebut bukanlah ekspresi spontan dari kesedihan masyarakat, melainkan operasi psikologis yang dirancang untuk memecah hubungan antara rakyat Lebanon dan satu-satunya kekuatan yang menurutnya berdiri bersama mereka.
Untuk menjawab keraguan tersebut, penulis mengemukakan beberapa argumen.
Pertama, menurutnya, posisi resmi Lebanon sejak awal telah membatasi ruang gerak Iran. Teheran disebut telah mendorong tercapainya gencatan senjata menyeluruh yang mencakup seluruh wilayah Lebanon sejak awal pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat. Hambatan utama, menurut penulis, bukan berasal dari keraguan Iran, melainkan dari presiden dan pemerintah Lebanon yang dinilai tidak mendukung penghentian total permusuhan. Karena itu, menurutnya, tidak adil menuntut Iran mencapai sesuatu yang bahkan tidak didukung penuh oleh pejabat Lebanon sendiri.
Kedua, penulis menyatakan bahwa Iran sedang bertempur dengan senjatanya yang paling tajam sekaligus paling sunyi, yaitu diplomasi. Di balik pintu tertutup, Teheran disebut tengah menjalankan pertempuran diplomatik yang intens dengan menempatkan gencatan senjata menyeluruh di kawasan, khususnya Lebanon, sebagai syarat utama dalam pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat. Menurut penulis, Iran menolak memberikan konsesi apa pun sebelum pemboman terhadap Lebanon dihentikan.
Ketiga, dan menurut penulis yang paling penting, Iran disebut telah mengaitkan pembukaan kembali jalur minyak paling vital di dunia dengan tercapainya gencatan senjata permanen di Lebanon. Ia mengklaim bahwa Selat Hormuz telah ditutup sejak dimulainya perang yang dipaksakan terhadap Iran, dan Teheran menolak membukanya kembali sampai tercapai gencatan senjata yang kuat, menyeluruh, dan nyata di Lebanon.
Dalam pandangan penulis, Iran sedang memegang urat nadi perekonomian global bukan semata-mata untuk keuntungan sendiri, tetapi untuk memaksa negara-negara Barat menghentikan pertumpahan darah di Lebanon Selatan. Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan pentingnya Lebanon dalam perhitungan strategis Teheran.
Keempat, penulis mengajak pembaca melihat hasil di medan perang dan mempertanyakan apakah Lebanon Selatan benar-benar ditinggalkan. Ia berpendapat bahwa Israel justru sedang terjebak dalam perang yang merugikan dirinya sendiri.
Menurut penulis, drone berbasis serat optik yang tidak dapat dideteksi radar dan kebal terhadap gangguan elektronik setiap hari memburu pasukan dan kendaraan lapis baja Israel. Ia juga mengklaim bahwa para perwira Israel sendiri mengakui tidak memiliki solusi terhadap ancaman tersebut.
Penulis menyatakan bahwa 286 tank Merkava telah hancur dan berubah menjadi besi hangus. Ia menambahkan bahwa setiap prajurit baru yang dikirim Israel ke Lebanon Selatan pada akhirnya menjadi sasaran serangan. Dalam pandangannya, ini bukanlah tentara yang sedang menuju kemenangan, melainkan tentara yang sedang memperluas kuburannya sendiri.
Ketahanan Lebanon Selatan, menurutnya, merupakan bukti bahwa strategi poros perlawanan—yang mengandalkan pemberdayaan lokal dan adaptasi teknologi—berjalan efektif. Karena itu, Iran tidak perlu meluncurkan rudal untuk membuktikan komitmennya selama Lebanon Selatan masih mampu menggagalkan apa yang disebutnya sebagai invasi darat paling maju yang pernah disaksikan dunia.
Kelima, penulis berpendapat bahwa telah terbentuk formula baru yang efektif: serangan terhadap Dahiyeh akan memicu respons Iran, sementara pemboman Lebanon Selatan akan dibalas oleh Hizbullah melalui serangan terhadap wilayah utara Israel.
Menurutnya, pembagian peran ini bukanlah bentuk pengabaian, melainkan rantai pencegahan yang telah teruji. Musuh telah mencoba menghancurkannya dan gagal. Bahkan presiden Lebanon, menurut penulis, juga gagal mengatasinya.
Dalam kerangka tersebut, penderitaan Lebanon Selatan dibalas dengan serangan terhadap permukiman di wilayah utara Israel, sementara para pengambil keputusan Israel memahami bahwa perluasan perang ke Beirut akan secara langsung mengundang keterlibatan Iran.
Penulis menyimpulkan bahwa keputusan Trump untuk mundur dari rencana menyerang Dahiyeh merupakan bukti bahwa aturan main baru yang dibentuk Iran dan Hizbullah telah berhasil. Menurutnya, sebuah negara adidaya yang memiliki kemampuan menghancurkan kota-kota akhirnya dipaksa membatalkan serangan dan kemudian memasarkan kemundurannya sebagai diplomasi.
Ia juga menilai bahwa perlawanan yang terus bertahan di Lebanon Selatan telah memperbesar kerugian yang harus ditanggung musuh dari hari ke hari.
Pada akhirnya, penulis menyatakan bahwa pertanyaan “Di mana Iran?” akan terjawab ketika para sejarawan kelak menulis bahwa Lebanon Selatan mampu bertahan bukan meskipun ada strategi Teheran, tetapi justru karena strategi tersebut.
Hingga hari itu tiba, menurut penulis, penghinaan yang dialami “imperium” tersebut menunjukkan satu kenyataan yang tidak dapat dihapus oleh reruntuhan perang: bom-bom terbesar di dunia sekalipun masih dapat dihentikan hanya oleh kemungkinan adanya respons yang tegas dan penuh tekad.
Ali Hammoud adalah penulis dan peneliti asal Lebanon.


