New Delhi, Purn Warta – Meskipun United States dan Israel memulai perang baru di Asia Barat, pada akhirnya Israel dan Iran—yang memiliki kejelasan mengenai tujuan perang mereka—kini berhadapan langsung satu sama lain.
Dalam kondisi tersebut, dua hal kemungkinan besar akan terjadi. Pertama, terlepas dari klaim terbaru Presiden Donald Trump mengenai adanya negosiasi, perang ini tidak akan segera berakhir dan justru berpotensi meningkat eskalasinya.
Kedua, karena dunia kini bersifat multipolar, dinamika geopolitik kawasan tidak lagi akan sama seperti sebelumnya.
Dua Faktor Regional yang Terdampak
Dua faktor utama di kawasan diperkirakan akan berubah secara signifikan:
- Kontrol atas Strait of Hormuz
- Pengaturan keamanan antara Amerika Serikat dan negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC)
GCC meliputi Saudi Arabia, Kuwait, United Arab Emirates, Bahrain, Qatar, dan Oman.
Selama beberapa dekade, hubungan keamanan ini menghasilkan aliran petrodollar yang sangat penting bagi stabilitas ekonomi Amerika Serikat serta statusnya sebagai kekuatan besar dunia.
Awal Perang dan Perhitungan yang Keliru
Tanpa mempertimbangkan bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar dalam satu abad terakhir—dan bahwa Iran tidak akan tunduk meskipun telah menghadapi sanksi Amerika selama puluhan tahun—Presiden Trump memulai perang ini sebagai sebuah “operasi singkat” atau excursion, sebagaimana ia sendiri menyebutnya.
Trump diyakinkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa seperti kasus Venezuela, Iran akan mudah dikalahkan jika kepemimpinan seniornya dieliminasi.
Namun, Netanyahu diduga memahami bahwa skenario tersebut tidak akan berjalan demikian. Eliminasi kepemimpinan Iran justru berpotensi memicu perang yang lebih luas, yang dapat memberinya kendali lebih besar atas militer AS untuk mencapai tujuan perang, termasuk apa yang disebut sebagai “perubahan rezim.”
Strategi Energi dan Eskalasi Konflik
Menyadari bahwa Iran kemungkinan akan menutup Strait of Hormuz pada awal perang, Netanyahu sebelumnya mengusulkan jalur alternatif melalui darat melintasi Arab Saudi menuju Israel dan kemudian ke Eropa melalui Laut Mediterania.
Dengan skema ini, negara-negara Asia tetap harus menggunakan jalur Hormuz.
Untuk meningkatkan tekanan, Israel menyerang ladang gas South Pars Gas Field milik Iran. Iran kemudian membalas dengan menargetkan infrastruktur energi di Qatar, UEA, Arab Saudi, serta kilang minyak Haifa Oil Refinery di Israel.
Kerusakan pada fasilitas tersebut dapat mengganggu pasokan bahan bakar bagi mesin perang Israel.
Dimona dan Garis Merah Israel
Setelah AS dan Israel menyerang fasilitas nuklir Iran, Teheran membalas dengan menyerang kota Dimona, yang menampung fasilitas nuklir Israel.
Iran memperingatkan bahwa jika fasilitas nuklirnya kembali diserang, maka serangan berikutnya akan langsung menargetkan fasilitas nuklir Dimona itu sendiri.
Ini merupakan garis merah bagi Israel, karena dalam setiap perang sebelumnya fasilitas nuklir Dimona tidak pernah disentuh.
Peringatan Iran juga dinilai sebagai upaya untuk menguji deterrence nuklir Israel. Jika Israel kembali menyerang fasilitas nuklir Iran dan Iran membalas, dunia akan melihat apakah Israel akan menggunakan senjata nuklirnya atau tidak.
Persiapan Militer Iran
Iran telah mempersiapkan kemungkinan perang ini sejak 1988, ketika perang delapan tahun dengan Iraq berakhir.
Persiapan tersebut meliputi:
- pembangunan kota rudal dan drone bawah tanah
- pengembangan jalur produksi senjata
- penguatan sekutu regional seperti Hezbollah dan Houthis
Dalam proses tersebut, Iran juga mendapatkan bantuan signifikan dari Russia dan China.
Selain itu, Iran juga memetik pelajaran dari perang 12 hari pada Juni 2025, termasuk beralih ke sistem navigasi satelit Baidu-3 milik China dan meninggalkan sistem Global Positioning System (GPS) milik AS.
Hal ini disebut menjelaskan mengapa serangan rudal dan drone Iran dalam konflik terbaru memiliki akurasi yang lebih tinggi.
Kontrol Iran atas Selat Hormuz
Iran juga memperkuat pertahanan di Persian Gulf, Gulf of Oman, dan khususnya Strait of Hormuz.
Wilayah ini kini dilengkapi dengan berbagai kemampuan militer bawah laut, termasuk:
- rudal jelajah anti-kapal
- ranjau laut berbagai jenis
- kapal selam mini yang dapat menembakkan rudal dan torpedo
- kapal cepat yang mampu menyerang tanker minyak
Dengan kemampuan tersebut, Iran disebut telah mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden Trump kemudian meminta negara-negara NATO membantu Angkatan Laut AS mematahkan kendali Iran atas jalur minyak dan gas dunia, namun negara-negara tersebut dilaporkan menolak karena menilai operasi tersebut sangat berisiko.
Dilema Baru bagi Amerika Serikat
Situasi ini menciptakan dilema bagi Washington.
Di satu sisi, AS tidak dapat mengklaim kemenangan dan meninggalkan kawasan karena Iran mengontrol jalur pelayaran vital tersebut.
Iran bahkan dapat mengatur perdagangan melalui jalur itu menggunakan Chinese Yuan alih-alih United States Dollar.
Jika hal ini terjadi, maka sistem petrodollar antara AS dan negara-negara GCC—di mana minyak hanya diperdagangkan dalam dolar—akan runtuh.
Di sisi lain, berakhirnya sistem petrodollar dapat mempersulit Amerika Serikat mengelola utang nasionalnya yang mencapai sekitar 40 triliun dolar.
Hal ini berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi domestik serta mengurangi kemampuan AS mempertahankan sekitar 800 pangkalan militer di seluruh dunia, yang selama ini menopang statusnya sebagai kekuatan militer global.
Iran Menolak Gencatan Senjata
Iran juga menolak tawaran gencatan senjata dari Amerika Serikat.
Sebaliknya, Teheran menginginkan perdamaian permanen di Asia Barat dengan sejumlah tuntutan, salah satunya adalah penutupan seluruh pangkalan militer AS di kawasan.
Selain itu, Iran menyatakan bahwa ancaman Amerika untuk menghancurkan jaringan listrik dan layanan sipil Iran tidak efektif.
Iran bahkan memperingatkan akan membalas dengan serangan serupa terhadap negara-negara GCC dan Israel.
Perang Berbalik Merugikan AS
Menurut analisis ini, Israel yang memicu konflik kini berada dalam posisi defensif, sementara operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat justru berbalik merugikan citranya sebagai kekuatan besar dunia.
Dalam kondisi saat ini, Iran dinilai menentukan syarat-syarat baik untuk perang maupun perdamaian di Asia Barat.
Oleh Pravin Sawhney
Pravin Sawhney adalah jurnalis dan komentator yang berbasis di New Delhi. Ia juga merupakan editor majalah FORCE Magazine, yang berfokus pada isu keamanan nasional dan pertahanan.


