Beirut, Purna Warta – Pada 27 April, saluran media sosial yang berafiliasi dengan Hizbullah memposting sebuah video berdurasi tiga menit yang menarik tentang operasi melawan pasukan pendudukan Israel di Lebanon Selatan.
Bagi mereka yang mengikuti perkembangan di lapangan di Lebanon setelah peristiwa 7 Oktober, video ini pada pandangan pertama akan terasa cukup familiar.
Gaya penyuntingan, musik yang kini ikonik, serta elemen grafis telah menjadi ciri khas video yang dirilis oleh gerakan perlawanan Lebanon tersebut sejak akhir 2023.
Namun, video singkat ini menandai evolusi besar dalam taktik Hizbullah, menunjukkan potensi mematikan dari adopsi luas drone First Person View (FPV) terhadap personel dan aset militer Israel—sebuah pergeseran yang akan semakin berdampak seiring waktu.
Video tersebut menampilkan dua serangan FPV yang terpisah namun saling terkait terhadap pasukan pendudukan Israel. Serangan pertama menargetkan sekelompok tentara yang berdiri di dekat kendaraan lapis baja mereka, sementara serangan kedua menargetkan helikopter yang mengevakuasi korban dari serangan awal.
Serangan pertama berhasil mengenai sasaran secara langsung dan mengakibatkan setidaknya satu korban tewas serta sejumlah luka-luka menurut pihak militer Israel, kemungkinan membuat beberapa tentara tidak dapat bertugas untuk sementara.
Serangan FPV kedua meleset hanya beberapa meter dari helikopter evakuasi Black Hawk pada detik terakhir, kemungkinan akibat gangguan drone, peperangan elektronik Israel, kurangnya pengalaman operator, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut.
Video ini dengan jelas menunjukkan bahwa ruang udara di atas Lebanon sedang mengalami perubahan besar. Pasukan pendudukan tidak lagi aman di balik garis depan mereka.
Meski memiliki keunggulan jumlah dan teknologi, pasukan Israel mengalami dua serangan beruntun yang menghancurkan dalam hitungan menit, dan hanya terhindar dari korban massal berkat keberuntungan semata.
Faktanya, belum ada solusi pasti untuk ancaman FPV, dan sebagaimana terlihat dari serangan-serangan Hizbullah setelah 27 April, keberuntungan bukanlah pertahanan yang dapat diandalkan terhadap lawan yang gigih.
Asal-usul dan penggunaan awal FPV
Drone FPV adalah kendaraan udara tak berawak berukuran kecil, sangat lincah, dan murah yang dikendalikan menggunakan headset realitas virtual atau monitor.
Headset ini menampilkan video langsung dengan latensi rendah dari kamera yang terpasang di bagian depan drone. Meski awalnya bersifat sipil, penggunaannya dalam perang terjadi karena biaya rendah dan aksesibilitas tinggi.
Adaptasi awal di medan perang terjadi selama perang Suriah dan konflik melawan kelompok teroris Daesh. Namun, perang Ukraina sejak 2022 benar-benar mengubahnya menjadi senjata modern yang mendominasi konflik saat ini.
Adopsi FPV oleh Hizbullah
Adopsi drone FPV oleh Hizbullah tidak terjadi secara tiba-tiba. Penggunaan FPV dalam perang meningkat pesat secara global setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina, ketika pihak-pihak yang bertikai menyadari bahwa memasang hulu ledak anti-tank atau bahan peledak fragmentasi pada drone balap komersial murah dapat menghasilkan dampak yang sangat besar.
Medan perang Ukraina membuktikan bahwa drone seharga $500 yang dikendalikan operator dengan kacamata VR dapat menghancurkan tank utama bernilai jutaan dolar, membersihkan posisi pertahanan, dan mengganggu rantai logistik.
Pengalaman awal Hizbullah dengan FPV bermula dari keterlibatannya dalam perang melawan Daesh dan kelompok lain di Suriah dan Irak. Mereka juga menggunakan FPV secara terbatas dalam bentrokan perbatasan dengan Israel sebelum perang Lebanon 2024.
Namun, sebagian besar serangan awal menargetkan objek statis seperti radar dan perangkat pengawasan, sementara Hizbullah lebih mengandalkan rudal anti-tank (ATGM) untuk menyerang Israel.
Dari perang 2024, Hizbullah memperoleh pelajaran penting. Realitas perang modern—seperti penggunaan AI dalam manajemen medan perang, pengawasan drone 24 jam, dan munisi udara presisi—menjadi tantangan besar bagi tim ATGM mereka.
Keterbatasan operasional ATGM lama membahayakan operator berpengalaman, sementara model baru yang lebih efektif seperti keluarga Almas terlalu mahal untuk digunakan secara masif oleh kelompok non-negara seperti Hizbullah. Jelas bahwa taktik lama perlu dilengkapi.
Dari penyergapan darat ke perang gerilya udara
Perkembangan regional terbaru setelah konflik Israel-AS melawan Iran menandai penggunaan FPV secara luas dan terkoordinasi pertama oleh Hizbullah.
Sejak awal konflik, Hizbullah menggunakan FPV dengan efektivitas tinggi terhadap personel dan peralatan militer Israel, dan frekuensi serangan ini terus meningkat meski ada gencatan senjata.
Untuk memahami doktrin FPV Hizbullah saat ini, perlu melihat kembali operasi mereka pada 1980-an dan 1990-an. Saat itu, mereka mengembangkan strategi perang asimetris melawan Israel dengan taktik serangan cepat dan pemanfaatan medan pegunungan Lebanon.
Pejuang akan muncul dari semak atau terowongan, menyerang, lalu menghilang sebelum serangan balasan datang.
Integrasi FPV merupakan kelanjutan langsung dari doktrin ini. Kini operator dapat menyerang dari jarak jauh tanpa terpapar langsung.
Tujuan strategisnya tetap sama: melemahkan musuh yang lebih kuat secara teknologi melalui kerugian terus-menerus.
Dampak taktis dan psikologis
Secara taktis, drone FPV berfungsi seperti ATGM yang lebih fleksibel. Tidak seperti rudal anti-tank tradisional, FPV dapat bermanuver, masuk melalui jendela, atau menyerang target tersembunyi.
Dalam konflik saat ini, Hizbullah menggunakan drone ini untuk menargetkan kendaraan militer, infanteri, dan peralatan Israel secara sistematis.
Dampak psikologisnya sangat besar. Suara khas drone FPV menimbulkan kecemasan terus-menerus. Tidak seperti artileri, drone ini dikendalikan manusia dan dapat mengejar target.
Hal ini menciptakan rasa rentan di kalangan tentara, terutama reservis yang tidak terbiasa dengan pertempuran aktif.
Kegagalan pertahanan tradisional
Sistem pertahanan udara tradisional tidak dirancang untuk menghadapi FPV. Sistem seperti Iron Dome kesulitan mendeteksi drone kecil yang terbang rendah dan tidak terduga.
Bahkan jika terdeteksi, mencegat drone $500 dengan rudal mahal tidaklah ekonomis.
Peperangan elektronik dan gangguan sinyal memberi perlindungan terbatas, namun Hizbullah beradaptasi dengan teknologi baru.
Ke depan, penggunaan drone FPV berbasis serat optik dapat membuat upaya gangguan sinyal menjadi tidak efektif.
Prospek ke depan
Seiring berlanjutnya konflik di Lebanon Selatan, jelas bahwa militer Israel belum memiliki solusi efektif terhadap ancaman FPV.
Sementara itu, Hizbullah terus meningkatkan kemampuan dan taktiknya.
Kesederhanaan teknologi FPV memungkinkan produksi cepat di bengkel kecil yang tersembunyi.
Pengalaman dari Ukraina menunjukkan bahwa keterampilan operator berkembang pesat seiring waktu, dan Hizbullah menunjukkan tren yang sama.
FPV telah mengubah keseimbangan perang asimetris, menciptakan ancaman berkelanjutan bagi kekuatan konvensional.
Ke depan, medan perang di Lebanon kemungkinan akan semakin mematikan, dengan drone jarak jauh dan taktik serangan yang lebih canggih.
Bagi Israel, ini menunjukkan kenyataan strategis yang sulit: mempertahankan pendudukan di Lebanon Selatan akan membutuhkan biaya besar dalam korban jiwa.
Oleh Mohammad Molaei


