Kandidat Independen yang Sebut Israel “Negara Teroris” Terpilih Jadi Presiden Irlandia

kandidat

Dublin, Purna Warta – Catherine Connolly, kandidat independen sekaligus pengkritik vokal terhadap rezim Israel, memastikan kemenangan telak dalam pemilihan presiden Irlandia, mengalahkan lawannya dari kubu kanan-tengah.

Baca juga: Profesor Israel Sebut Rezim Tel Aviv “Kehilangan Hak untuk Ada” Seperti Nazi Jerman

Hasil resmi yang diumumkan pada Minggu (26/10) menunjukkan dukungan besar dari para pemilih untuk Connolly, yang akan menempati jabatan presiden — posisi yang sebagian besar bersifat seremonial di Irlandia.

Connolly meraih 63 persen suara pilihan pertama (setelah suara tidak sah dikeluarkan), sementara rivalnya Heather Humphreys dari partai kanan-tengah Fine Gael hanya memperoleh 29 persen suara.

Kandidat Independen Irlandia itu telah lama mengecam Israel atas perlakuannya yang menindas terhadap rakyat Palestina.

Dalam sebuah video kampanye yang diunggah ke halaman Facebook-nya pada Juni lalu, ia menegaskan:

“Jika di Dáil (parlemen Irlandia) kita tidak bisa mengakui bahwa Israel adalah negara teroris, maka kita berada dalam masalah besar.”

Ia juga menyebut aksi-aksi rezim Israel di Gaza sebagai bentuk genosida.

Pada September, Connolly mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer atas pernyataannya mengenai Hamas, dengan menegaskan bahwa “bukan haknya untuk menentukan peran gerakan perlawanan Palestina dalam politik masa depan negara Palestina.”

“Saya berasal dari Irlandia, negara yang punya sejarah penjajahan. Saya akan sangat berhati-hati untuk memberi tahu rakyat berdaulat bagaimana mereka harus menjalankan negaranya,” ujar Connolly.
“Rakyat Palestina harus memutuskan sendiri, secara demokratis, siapa yang mereka inginkan untuk memimpin negara mereka.”

Ia menekankan bahwa Hamas, yang dipilih secara sah oleh rakyat Gaza melalui pemilu, tetap merupakan bagian penting dari masyarakat sipil Palestina.
“Kami bergantung pada mereka untuk data statistik korban dalam genosida yang dilakukan Israel,” katanya, merujuk pada genosida yang telah menewaskan sedikitnya 68.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Baca juga: Skenario Utama Untuk Masa Depan Gencatan Senjata Gaza: Apakah Perang Benar-Benar Berakhir?

Connolly juga mempertanyakan kredibilitas kekuatan Barat — termasuk Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat — dalam berbicara mengenai masa depan rakyat Palestina, dengan menyoroti bahwa negara-negara tersebut terus mendukung Israel meskipun rezim itu melakukan kekejaman terhadap warga sipil.

Dengan kemenangan ini, Connolly menjadi presiden ke-10 Irlandia dan perempuan ketiga yang menduduki jabatan tersebut.
Mantan psikolog klinis dan pengacara itu sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua parlemen rendah Irlandia (Dáil Éireann) pada 2016.

Kemenangan Connolly secara luas dianggap sebagai bentuk dukungan publik terhadap kandidat independen yang berpegang pada prinsip pribadi, bukan kesetiaan partai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *