UNRWA: 660.000 Anak Gaza Tetap Tidak Sekolah di Tengah Genosida Israel

UNRWA

Amman, Purna Warta – “Perang di Gaza adalah perang terhadap anak-anak, dan ini harus dihentikan. Anak-anak harus dilindungi setiap saat,” tegas UNRWA dalam pernyataan terbarunya terkait situasi di Gaza.

Baca juga: Pelapor Khusus PBB Nyatakan Dukungan untuk Armada Gaza, Sebut Aktivis sebagai ‘Pejuang Moral’

Badan PBB itu juga memperingatkan bahwa generasi muda di Gaza berisiko menjadi “generasi yang hilang.”

Kementerian Pendidikan Palestina mencatat sekitar 700.000 pelajar di Gaza telah terpaksa menghentikan pendidikan mereka akibat serangan tanpa henti pasukan pendudukan Israel.
Lebih dari 70.000 siswa bahkan tidak dapat mengikuti ujian sekolah menengah selama dua tahun berturut-turut.

Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 17.000 pelajar sekolah dan lebih dari 1.200 mahasiswa universitas di Gaza, sementara puluhan ribu lainnya terluka. Hampir 1.000 tenaga pendidik juga tewas, dan ribuan lainnya mengalami luka-luka atau ditahan.

Di Tepi Barat yang diduduki, puluhan pelajar pun turut terbunuh, terluka, atau ditangkap, bersama sejumlah guru dan staf akademik.

Dalam unggahan di media sosial pada Minggu, UNRWA menegaskan bahwa anak-anak Gaza kini bukan berjalan menuju sekolah, melainkan kembali dipaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat aman.
“Namun, tidak ada tempat yang aman,” tulis UNRWA di X.

Badan itu menambahkan bahwa serangan Israel yang semakin intensif membuat ribuan warga Gaza terpaksa hidup tanpa kepastian.
“Tidak ada cukup ruang. Tidak ada cukup tenda,” katanya.

UNRWA menegaskan bahwa Israel telah melarang masuknya pasokan kebutuhan darurat, termasuk tenda dan perlengkapan tempat tinggal, selama hampir enam bulan terakhir. Larangan ini semakin memperparah kondisi ribuan keluarga yang kini hidup tanpa tempat berlindung.

Baca juga: Beberapa Indikator Kunci Krisis Besar Israel

UNRWA dan organisasi kemanusiaan kembali menyerukan izin masuk bagi bantuan dasar serta pasokan penyelamat nyawa ke Gaza.

Sementara itu, tentara Israel terus melanjutkan kampanye genosidanya, membunuh lebih banyak warga sipil, termasuk mereka yang sedang mengantri untuk mendapatkan bantuan makanan.

Dalam 24 jam terakhir saja, 30 warga Palestina yang sedang mencari bantuan tewas, sementara tujuh lainnya meninggal akibat kelaparan.

Sejak Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 63.400 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, di Jalur Gaza. Agresi tersebut menghancurkan hampir seluruh wilayah yang diblokade itu, dan kini menghadapi ancaman kelaparan massal.

Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri perangnya, Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait perang brutalnya di wilayah Palestina yang terkepung tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *