Teheran, Purna Warta – Sekretaris Jenderal Forum Dunia untuk Kedekatan Mazhab-Mazhab Pemikiran Islam, Hojatoleslam Hamid Shahriari, menekankan pentingnya perdamaian yang berkelanjutan dan adil di dunia, seraya menambahkan, “Tidak ada perdamaian yang dapat bertahan tanpa kekuatan yang berkelanjutan.”
Baca juga: Larijani: Barat Telah Mengaitkan Hubungan Global Dengan Kekuasaan
Berbicara pada Forum Perdamaian Dunia edisi ke-9 di Jakarta, Indonesia, pada hari Selasa, Shahriari mengatakan, “Perdamaian tidak dapat bertahan tanpa kekuatan yang berkelanjutan, dan mencapai perdamaian sejati dan adil hanya dapat diwujudkan melalui dialog yang etis, melawan arogansi, dan menjaga keseimbangan antara kekuatan keras dan lunak.”
Ia menggarisbawahi bahwa perdamaian yang berkelanjutan dan adil membutuhkan berbagai elemen, termasuk dialog untuk pemahaman dan rekonsiliasi, perlawanan terhadap kekuatan yang menindas, dan pengembangan kekuatan lunak yang seimbang untuk melawan narasi palsu.
Shahriari menunjukkan kontradiksi di dunia, dengan menyatakan bahwa meskipun perdamaian dikhotbahkan, perang tetap ada dalam praktiknya. Ia mengkritik lembaga-lembaga internasional karena tetap diam dalam menghadapi kekejaman—seperti yang terjadi di Gaza—sementara juga memfasilitasi kejahatan-kejahatan ini dengan memasok senjata kepada para agresor. Ia mengatakan paradoks yang meresahkan ini menimbulkan pertanyaan kritis: Apa solusi nyata untuk perdamaian ketika dialog dan lembaga-lembaga yang ada terbukti tidak efektif?
Baca juga: Iran Bergabung dengan Perjanjian Wina dan Strasbourg
Ia menegaskan kembali bahwa dialog adalah langkah awal menuju perdamaian, menggambarkannya sebagai sebuah proses, bukan peristiwa sesaat. Proses ini melibatkan keterlibatan dalam percakapan, pembentukan kerangka kerja bersama, pencapaian kesepakatan, dan penghormatan terhadap komitmen sekaligus pemantauan implementasinya untuk mencapai perdamaian yang langgeng dan adil, tambahnya.
Shahriari menekankan, “Untuk mengubah kebijakan global, pertama-tama kita harus mengubah wacana global”, seraya menambahkan bahwa narasi kebencian, penolakan identitas, dan unilateralisme harus digantikan dengan narasi yang menganjurkan belas kasih, keragaman budaya, dan multilateralisme.


