New York, Purna Warta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan melancarkan serangan “tanpa preseden” terhadap Iran apabila Teheran menyerang fasilitas militer atau kepentingan komersial AS.
“Jika mereka melakukan itu, kami akan menghantam mereka pada tingkat yang belum pernah mereka alami sebelumnya, dan mereka bahkan tidak akan mempercayainya. Saya memiliki berbagai opsi, dan semuanya sangat kuat,” kata Trump kepada wartawan pada Jumat.
Trump Bahas Opsi Tindakan terhadap Iran
Trump dijadwalkan bertemu dengan para pejabat senior pemerintahannya pada Selasa untuk mengevaluasi kemungkinan langkah terhadap Iran, di tengah berlanjutnya kerusuhan bersenjata di negara tersebut. Laporan The Wall Street Journal, yang mengutip sumber pemerintah, menyebutkan pertemuan itu akan membahas spektrum respons yang tersedia.
Pertemuan tersebut diperkirakan dihadiri Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine. Menurut laporan tersebut, opsi yang dipertimbangkan mencakup serangan siber rahasia terhadap infrastruktur militer dan sipil Iran, pengetatan sanksi tambahan, hingga kemungkinan serangan militer terbatas.
Meski belum ada keputusan final yang diharapkan dari pertemuan itu, Gedung Putih disebut tengah menimbang berbagai opsi di tengah meningkatnya tekanan terhadap Iran, yang sedang menghadapi gelombang protes anti-pemerintah.
Presiden Iran Tuding AS Picu Kekacauan
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh Amerika Serikat secara aktif menghasut ketidakstabilan di Republik Islam Iran. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran tetap bersatu dan teguh mendukung negara serta sistem politiknya.
Dalam pertemuan di Teheran pada Sabtu dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi, Pezeshkian menyatakan bahwa AS “menyulut kekacauan dan ketidaktertiban,” namun menilai upaya tersebut tidak akan berhasil melemahkan persatuan nasional.
“Iran sedang menghadapi penghasutan kekacauan oleh Amerika Serikat, sementara rakyat Iran justru semakin bersatu dan akan terus mendukung negara dan sistemnya,” kata Pezeshkian.
Iran sendiri dilaporkan mengalami gelombang kerusuhan bersenjata sejak awal tahun, yang ditandai dengan serangan terhadap fasilitas umum dan situs keagamaan, serta gugurnya sejumlah anggota kepolisian dan pasukan Basij. Kerusuhan tersebut juga beriringan dengan meningkatnya bentrokan antara pasukan keamanan dan kelompok separatis di provinsi-provinsi barat, yang mengakibatkan tewasnya sejumlah anggota Korps Garda Revolusi Islam.
Perkembangan ini terjadi setelah Trump melontarkan ancaman publik untuk mencampuri urusan Iran dengan dalih “melindungi para demonstran dan rakyat Iran.”


