Purna Warta – Dengan berlalunya 28 hari sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang diumumkan dari operasi tersebut yang tidak tercapai, tetapi juga semakin banyak bukti yang menunjukkan kebuntuan strategis serta kegagalan di medan perang dan politik bagi pihak penyerang.
Perang ini, yang dimulai dengan serangan luas dan pembunuhan warga sipil termasuk para pelajar tak berdosa, dengan cepat memperoleh dimensi kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas, serta memicu berbagai reaksi di media internasional.
Media dunia, masing-masing dengan pendekatan tersendiri, berusaha membentuk narasi tentang perang ini. Mengkaji berbagai pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi sebenarnya dari perang serta prospek ke depannya.
Media Barat
Surat kabar The Guardian menulis dalam sebuah artikel:
“Ilusi kemenangan mudah melalui serangan udara telah menyeret Amerika ke dalam perang lain. Diperkirakan bahwa superioritas di udara akan membawa kemenangan cepat. Namun sejarah menunjukkan bahwa janji tersebut lebih menyerupai angin sesaat.
Untuk memahami akar strategi militer Donald Trump terhadap Iran serta nada agresif Menteri Pertahanannya, Pete Hegseth, kita harus kembali 105 tahun ke belakang. Pada tahun 1921, seorang jenderal Italia bernama Giulio Douhet menerbitkan buku The Command of the Air, yang menawarkan revolusi dalam metode peperangan.
Menurutnya, kemenangan di masa depan tidak lagi diperoleh melalui perang parit seperti dalam Perang Dunia I, tetapi melalui pemboman udara skala besar, termasuk menargetkan warga sipil dan infrastruktur.
Teori Douhet, yang menekankan ‘mematahkan semangat rakyat sipil’, kemudian menginspirasi penggunaan kekuatan udara oleh Hitler dan juga menarik perhatian para perencana militer Amerika seperti Jenderal Curtis LeMay.”
Artikel tersebut menambahkan bahwa janji kampanye udara “paling mematikan dan paling presisi dalam sejarah” yang disampaikan Hegseth tidak terlihat sebagai strategi baru, melainkan versi ulang dari gagasan lama.
Dampak Ekonomi Global
Laporan Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika (CFR) menyatakan bahwa:
“Perang Iran sedang mendefinisikan ulang strategi keamanan energi Asia. Dalam beberapa minggu saja, konflik ini telah menciptakan ketidakpastian besar di Timur Tengah dan mengguncang ekonomi global.”
Harga minyak meningkat tajam setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, sementara sejumlah produsen minyak dan LNG di Teluk Persia mengurangi atau menghentikan operasi.
Direktur IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa kenaikan harga energi sebesar 10 persen yang berlangsung selama satu tahun dapat meningkatkan inflasi global dan menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia.
Menurut Badan Energi Internasional, dunia kini menghadapi gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Analisis Carnegie
Lembaga pemikir Carnegie menulis dalam artikel berjudul “Perang Iran Membuat Amerika Lebih Tidak Aman”:
Perang yang dimulai dengan alasan meningkatkan keamanan Amerika justru menghasilkan dampak sebaliknya. Konflik ini merusak aliansi Washington, memperkuat lawan-lawan Amerika, dan meningkatkan sentimen anti-Amerika.
Ketika Trump kini mencoba mencari jalan keluar dari perang, Iran memandang niat Washington dengan kecurigaan mendalam, yang semakin memperlebar jurang ketidakpercayaan.
Analisis Foreign Affairs
Majalah Foreign Affairs melaporkan bahwa ketika Amerika dan Israel mulai membombardir Iran pada akhir Februari, pemerintah Trump mungkin memperkirakan bahwa mereka dapat melemahkan sistem politik Iran dengan cepat.
Namun yang terjadi justru menyerupai perang Rusia di Ukraina, bukan operasi cepat seperti intervensi Amerika di Venezuela.
Respons keras Iran telah menyebabkan konflik berubah menjadi perang panjang dan berpotensi menemui jalan buntu. Amerika tidak memiliki jalan jelas menuju kemenangan menentukan dan berisiko terjebak dalam perang berkepanjangan.
Media Arab dan Regional
Situs Al-Ahed menulis bahwa sejak Revolusi 1979, Amerika telah berusaha selama empat dekade untuk menggulingkan sistem politik Iran melalui berbagai cara: dukungan terhadap kelompok bersenjata, perang Iran-Irak, sanksi berat, hingga upaya memicu kerusuhan internal.
Namun luasnya wilayah Iran, kemandirian militernya, persatuan nasional, serta aliansinya dengan kekuatan Timur menggagalkan rencana Washington dan Tel Aviv.
Analisis Al-Mayadeen
Media Al-Mayadeen membahas konsep “perang hibrida” antara Amerika, Iran, dan Israel.
Menurut analisis tersebut:
- Amerika menggunakan strategi “negosiasi di bawah tembakan”, meningkatkan tekanan sambil tetap membuka jalur diplomasi.
- Israel khawatir terhadap kemungkinan kesepakatan buruk dengan Iran yang tidak menghilangkan ancaman nuklir atau misil.
- Iran, dengan memanfaatkan geografi dan kapasitas pertahanan, tidak terburu-buru mengakhiri perang.
Media Turki dan Asia
Seorang ekonom Turki menulis di surat kabar Sabah bahwa dengan menargetkan Selat Hormuz, salah satu titik paling rentan dalam sistem energi global telah terganggu.
Sebelumnya sekitar:
- 20% minyak dunia
- 25% LNG global
melewati jalur tersebut setiap hari.
Gangguan ini tidak hanya memicu krisis energi tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan global, karena hubungan erat antara energi dan produksi makanan.
Analisis Media Rusia dan Tiongkok
Media RT (Russia Today) menyatakan bahwa perubahan sikap Trump dari ancaman menuju negosiasi menunjukkan bahwa Amerika tidak memperoleh kemenangan menentukan.
Menurut analisis tersebut, Iran justru memilih strategi memperpanjang konflik, karena setiap hari perang meningkatkan biaya militer, ekonomi, dan reputasi bagi Amerika.
Reaksi di Eropa
Anggota Parlemen Eropa dari Belgia, Rudi Kennes, mengatakan kepada RT bahwa banyak warga Eropa menentang perang tersebut, namun para pejabat Uni Eropa tetap mengikuti kebijakan Washington karena pengaruh lobi industri militer.
Analisis Media Israel
Media Israel seperti The Times of Israel memperingatkan bahwa upaya merebut Pulau Khark, pusat ekspor minyak Iran, akan menghadapi risiko militer yang sangat besar.
Bahkan jika pulau itu berhasil direbut, Iran masih dapat melanjutkan serangan terhadap jalur pelayaran dan fasilitas energi selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Sementara itu, surat kabar Israel Hayom menyebut bahwa jika perang berakhir tanpa penghancuran uranium yang diperkaya Iran atau penghentian kemampuan misilnya, hal itu akan dianggap sebagai kegagalan strategis bagi Israel.
Kritik Internal di Israel
Surat kabar Maariv juga melaporkan kritik keras terhadap pemerintah Israel karena kurangnya perlindungan sipil dan pengeluaran besar untuk kepentingan politik.
Artikel tersebut menggambarkan kabinet Israel sebagai “lumpuh, tidak bertanggung jawab, dan tidak peduli terhadap keselamatan rakyat.”


