Washington, Purna Warta – Menurut laporan harian Amerika Huffington Post, perang yang dilancarkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Iran kini telah berlangsung hampir satu bulan, namun Rubio dan Vance dinilai masih menunjukkan sikap diam yang tidak biasa mengenai konflik tersebut.
Media tersebut menyebut bahwa kedua tokoh yang dipandang sebagai calon potensial dalam pemilihan presiden AS tahun 2028 pada akhirnya akan menghadapi tuntutan untuk menjelaskan dukungan mereka terhadap perang yang sejak awal dinilai tidak populer di kalangan masyarakat Amerika.
Ketidakhadiran dalam Penjelasan Publik
Huffington Post juga menyoroti ketidakhadiran Rubio dan Vance dalam berbagai konferensi pers terkait perang dengan Iran. Padahal, keduanya sebelumnya diperkirakan akan menjelaskan kebijakan luar negeri pemerintahan Trump kepada publik dalam beberapa pekan terakhir.
Sebaliknya, tugas untuk menyampaikan penjelasan mengenai kebijakan tersebut kepada publik justru lebih banyak dilakukan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Menurut laporan itu, sejumlah kandidat Partai Republik dalam pemilihan Kongres mendatang—terutama mereka yang pernah menjabat dalam pemerintahan Trump seperti Rubio dan Vance—diperkirakan akan diminta mempertanggungjawabkan alasan di balik perang terhadap Iran di hadapan para pemilih.
Dampak Ekonomi terhadap Publik AS
Media tersebut juga menilai bahwa perang terhadap Iran tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat Amerika, antara lain karena dampaknya terhadap kondisi ekonomi domestik.
Menurut laporan itu, konflik tersebut telah menyebabkan kenaikan inflasi serta peningkatan harga bahan bakar lebih dari satu dolar per galon, yang turut menambah tekanan ekonomi bagi masyarakat.
Latar Belakang Konflik
Menurut laporan yang sama, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang disebut sebagai bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Serangan tersebut memicu respons militer Iran, yang menyatakan bertindak dalam kerangka hak pertahanan diri, termasuk dengan menargetkan wilayah yang dikuasai Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Iran juga dilaporkan mengambil langkah-langkah untuk membatasi pelayaran kapal yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.


