Presiden Iran: Rakyat adalah Kunci Mewujudkan Kebebasan yang Sah

Teheran, Purna Warta – Kebebasan yang sah dipandang sebagai hak ilahi rakyat dan tugas utama pemerintah dalam pandangan Pemimpin Besar Revolusi Islam, ujar Presiden Iran Masoud Pezeshkian, seraya menambahkan bahwa rakyat tidak hanya dianggap sebagai pemegang hak tetapi juga sebagai aktor kunci dalam mewujudkan kebebasan tersebut.

Baca juga: Venezuela Menghargai Dukungan Iran dalam Menghadapi Ancaman AS

Berbicara pada “Konferensi Internasional tentang Hak-Hak Rakyat dan Kebebasan yang Sah dalam Pemikiran Ayatollah Khamenei”, yang diselenggarakan di Teheran pada hari Rabu, Pezeshkian menekankan perlunya pemenuhan hak-hak publik dan kebebasan yang sah secara praktis.

Presiden mencatat bahwa Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei memandang perlindungan kebebasan yang sah sebagai salah satu tugas utama Peradilan dan mendefinisikan kebebasan bukan sebagai gagasan yang tak terbatas, melainkan sebagai kebebasan yang sah dan berakar pada prinsip-prinsip Islam.

Pezeshkian mengatakan bahwa pandangan umum Pemimpin tentang kebebasan mencakup pembebasan lahir dan batin dari perbudakan kepada apa pun selain Tuhan.

Ia menambahkan bahwa dalam kerangka ini, kebebasan yang sah merupakan hak rakyat sekaligus kewajiban negara, dengan publik sendiri dipandang sebagai agen utama dalam mewujudkan kebebasan tersebut.

Kebebasan para pejabat harus selalu disertai dengan tanggung jawab, komitmen, dan kesalehan, tegas Presiden, seraya menambahkan bahwa pemahaman Republik Islam tentang kebebasan harus diartikulasikan secara sadar dan berbeda dari interpretasi peradaban Barat.

Pezeshkian menyatakan bahwa batasan dan definisi kebebasan dalam Islam berbeda dengan yang ada di Barat. Ia menjelaskan bahwa logika politik Barat cenderung membatasi kebebasan pada batasan hukum dan penghormatan terhadap hak orang lain, sementara ajaran Islam dapat mempersempit atau memperluas cakupan kebebasan tergantung konteksnya.

Baca juga: Ayatollah Khamenei Tolak Pandangan Barat terhadap Perempuan, Menyoroti Pendekatan Islam yang Berbeda

Pemikiran Islam mengidentifikasi dua jenis hambatan terhadap kebebasan: tekanan eksternal seperti kekuatan asing dan aktor kolonial, dan kecenderungan internal manusia terhadap kepasifan, penghinaan, ketundukan, dan kelemahan batin, tegas presiden.

Pezeshkian menambahkan bahwa masyarakat yang terhindar dari jeratan sifat-sifat negatifnya sendiri tidak akan rentan terhadap dominasi kekuatan eksternal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *