New York, Purna Warta – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, pergerakan sejumlah pesawat militer AS melintasi kawasan Pasifik dalam beberapa hari terakhir menarik perhatian pengamat militer dan komunitas intelijen sumber terbuka. Aktivitas ini muncul bersamaan dengan mengerasnya retorika politik dan sinyal eskalasi di Timur Tengah, memunculkan pertanyaan mengenai arah langkah Washington selanjutnya.
Berdasarkan data pelacakan penerbangan, pesawat yang terdeteksi bukan pesawat tempur maupun pembom, melainkan pesawat pengisi bahan bakar di udara jenis KC-135R Stratotanker dan KC-46A Pegasus. Pesawat-pesawat ini berperan krusial dalam mendukung operasi udara jarak jauh, memungkinkan jet tempur dan pembom strategis melakukan penerbangan lintas benua tanpa perlu mendarat di pangkalan antara.
Sedikitnya delapan KC-135R dilaporkan mendarat di Honolulu, Hawaii, yang diduga menjadi titik persinggahan awal sebelum melanjutkan perjalanan ke arah barat. Rute ini kembali menyorot Diego Garcia, pangkalan militer strategis AS di Samudra Hindia, yang dikenal sebagai simpul penting dalam penempatan dan rotasi kekuatan udara menuju Timur Tengah. Menariknya, pesawat KC-135R yang terpantau berada di Diego Garcia pada 12–13 Januari juga tercatat mendarat di Honolulu, mengindikasikan pola penerbangan yang konsisten dan terencana.
Para analis menilai pergerakan ini sebagai bagian dari fase pre-positioning, yakni langkah awal untuk memastikan kesiapan logistik dan operasional agar dapat diaktifkan dengan cepat jika situasi memburuk. Meski tidak serta-merta menandakan dimulainya operasi serangan, aktivitas ini juga sulit dikategorikan sebagai rutinitas biasa mengingat konteks keamanan yang menyertainya.
Pembaruan: Dua pesawat KC-135R dilaporkan telah meninggalkan Honolulu dan bergerak ke arah barat menuju Asia. Pesawat tersebut teridentifikasi dengan nomor 59-1455 dan 59-1483, menggunakan callsign EDDIE91. Perkembangan ini memperkuat indikasi reposisi bertahap guna mendukung opsi operasi jarak jauh.
Secara keseluruhan, pergerakan pesawat tanker ini mencerminkan tingkat kesiapan militer yang tinggi. Arah perkembangan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh indikator tambahan, seperti pengerahan pembom strategis atau perubahan signifikan pada pengaturan ruang udara regional.


