Tehran, Purna Warta – Pemerintah Iran pada Minggu menyerukan kepada seluruh warga negara untuk berpartisipasi dalam aksi “solidaritas nasional serta penghormatan terhadap perdamaian dan persahabatan” yang dijadwalkan berlangsung pada Senin.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah menegaskan bahwa seluruh anggota kabinet dan pejabat negara berkomitmen untuk mendengarkan aspirasi serta kritik para demonstran, sekaligus bekerja menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Pemerintah menekankan bahwa dialog tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi situasi terkini.
Pernyataan tersebut juga menuding Amerika Serikat dan “Israel” sebagai pihak yang berulang kali berupaya memicu ketidakstabilan pasca apa yang disebut pemerintah Iran sebagai agresi terbaru terhadap negara tersebut. Menurut pernyataan itu, situasi yang tegang dimanfaatkan dengan mengirimkan elemen bayaran untuk melakukan aksi sabotase di berbagai wilayah Iran.
Pemerintah menyebutkan bahwa sejumlah besar warga sipil Iran, serta anggota pasukan keamanan dan Basij, tewas akibat tindakan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan “Israel”.
Di akhir pernyataannya, pemerintah Iran kembali menegaskan pengakuan terhadap hak warga untuk melakukan aksi protes secara damai, serta menyatakan akan meningkatkan upaya dalam mengatasi tantangan ekonomi dan memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat di seluruh negeri.
Sementara itu, Provinsi Kermanshah di wilayah barat Iran menyaksikan demonstrasi besar-besaran yang mengecam kerusuhan bersenjata yang terjadi di sejumlah daerah. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan penolakan terhadap campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Iran, termasuk seruan “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel”.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga menggelar pemakaman umum berskala besar bagi anggota Pasukan Keamanan Dalam Negeri yang tewas selama kerusuhan. Di Bojnurd, Provinsi Khorasan Utara, dua perwira dimakamkan, sementara upacara serupa berlangsung di Gachsaran, Provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad, serta di Ilam, wilayah barat daya Iran, untuk menghormati personel keamanan lain yang gugur.
Menanggapi perkembangan tersebut, Kepala Kepolisian Iran Ahmad Reza Radan memperingatkan masyarakat agar tidak memberikan dukungan kepada para perusuh. Ia menyatakan bahwa siapa pun yang berpihak kepada perusuh berpotensi menjadi korban dari kekerasan yang mereka lakukan.
Radan menekankan pentingnya membedakan antara demonstran damai dan pelaku sabotase, seraya menuduh kelompok perusuh menjalankan rencana terorganisir yang menyasar generasi muda Iran. Ia juga mengonfirmasi bahwa sejumlah tokoh penghasut utama telah ditangkap dalam operasi semalam dan akan diproses hukum tanpa toleransi.
Dalam perkembangan terpisah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh Amerika Serikat secara aktif memicu kekacauan di Republik Islam Iran. Ia menegaskan bahwa upaya tersebut tidak akan menggoyahkan persatuan nasional.
Berbicara dalam pertemuan di Teheran pada Sabtu dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, Pezeshkian mengatakan bahwa Amerika Serikat berupaya “menyulut kekacauan dan ketidakstabilan”, namun rakyat Iran tetap bersatu dan teguh mendukung negara serta sistem politiknya.
Iran sendiri telah mengalami gelombang kerusuhan bersenjata sejak awal tahun, yang ditandai dengan serangan terhadap fasilitas umum dan situs keagamaan, serta gugurnya sejumlah anggota kepolisian dan pasukan Basij. Kerusuhan tersebut juga beriringan dengan meningkatnya bentrokan antara pasukan keamanan dan kelompok separatis di provinsi-provinsi barat, yang mengakibatkan tewasnya beberapa anggota Korps Garda Revolusi Islam.
Perkembangan ini terjadi setelah pernyataan publik mantan Presiden AS Donald Trump, yang mengancam akan mencampuri urusan Iran dengan dalih “melindungi para demonstran dan rakyat Iran”.


