Damaskus, Purna Warta – Menurut laporan Khabaronline, perusahaan minyak besar asal Amerika Serikat, Chevron, akan mulai beroperasi di Suriah. Sementara itu, Asr-e Iran melaporkan bahwa pemerintah Suriah telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan minyak Amerika Chevron dan perusahaan Qatar Power International Holding untuk eksplorasi minyak dan gas di perairan pantai Suriah.
Chevron merupakan salah satu raksasa industri minyak dunia. Pada tahun 2019, perusahaan ini mencatat pendapatan sebesar 159 miliar dolar AS dengan laba bersih 15 miliar dolar AS. Chevron memproduksi sekitar 3,1 juta barel minyak per hari dan termasuk salah satu perusahaan multinasional terbesar di dunia.
Hingga kini, Suriah hanya memproduksi minyak dari ladang darat, namun kini negara tersebut berencana memulai eksplorasi ladang minyak dan gas di wilayah perairannya di Laut Mediterania. Negara-negara tetangga Suriah seperti Turki, Lebanon, Israel, dan Mesir telah lebih dahulu menemukan ladang gas di kawasan Mediterania.
Suriah memiliki garis pantai sepanjang sekitar 200 kilometer di Laut Mediterania, yang membentang dari perbatasan Turki di utara hingga perbatasan Lebanon di selatan. Latakia dan Tartus merupakan pelabuhan terpenting Suriah.
Saat ini, Suriah memproduksi sekitar 120 ribu barel minyak mentah per hari, jauh menurun dibandingkan sebelum krisis dan perang saudara, ketika produksinya mendekati 400 ribu barel per hari.
Hingga sebelum tahun 2024, Suriah berada di bawah sanksi ketat Amerika Serikat, sementara perang saudara dan sanksi tersebut menghambat masuknya investasi asing ke negara itu.
Rincian Nota Kesepahaman
Dalam upacara penandatanganan MoU tersebut, Yusuf Qablawi, Direktur Utama Perusahaan Minyak Suriah, menegaskan pentingnya perjanjian semacam ini dalam memperkuat perekonomian Suriah.
Pejabat Suriah itu menyatakan, “Kami telah membentuk sebuah tim khusus dan melalui upaya mereka, kami akan mendukung konversi nota kesepahaman ini menjadi kontrak resmi.”
Qablawi menambahkan bahwa sumur-sumur minyak sebelumnya mengalami sabotase sebelum pemerintah berhasil merebut kembali kendali atasnya dalam operasi militer melawan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di provinsi timur laut Raqqa dan Deir ez-Zor.
Kesepakatan Evaluasi Eksplorasi
Juru bicara perusahaan minyak Amerika Chevron menyatakan bahwa perusahaan tersebut telah menandatangani kesepakatan awal untuk mengevaluasi eksplorasi minyak dan gas lepas pantai di pesisir Suriah.
Garis pantai Suriah terletak di kawasan Mediterania Timur, wilayah yang telah menyaksikan penemuan gas signifikan di Mesir dan Israel. Sebagian besar produksi minyak Suriah saat ini berasal dari ladang darat di timur laut, seperti ladang al-Omar.
Pada tahun 2013, sebuah perusahaan Rusia sempat menandatangani kontrak untuk eksplorasi gas lepas pantai di pesisir Suriah, namun proyek tersebut dibatalkan dua tahun kemudian akibat perang saudara.
Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa menanggapi penandatanganan MoU ini dengan mengatakan, “Chevron adalah salah satu perusahaan paling penting dan terbesar yang selalu mengikuti arah kebijakan Amerika Serikat. Kerja sama ini merupakan langkah transformatif dalam membentuk citra baru Suriah setelah bertahun-tahun penderitaan.”
Ia menambahkan, “Investasi di sektor energi akan membuka prospek lapangan kerja dan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Suriah.”
Pada 25 Januari, Perusahaan Minyak Suriah mengumumkan bahwa tim teknisnya telah memulai kembali produksi minyak dari ladang-ladang yang baru direbut kembali oleh tentara Suriah, setelah bertahun-tahun berada di bawah kendali SDF.
Menurut para pengamat, pengambilalihan penuh kendali ladang minyak dan gas oleh pemerintah Suriah merupakan titik balik ekonomi terpenting negara itu dalam beberapa dekade terakhir.
Cadangan minyak Suriah diperkirakan mencapai sekitar 2,5 miliar barel, dengan produksi saat ini sekitar 100 ribu barel per hari. Negara tersebut juga memiliki cadangan gas sekitar 285 miliar meter kubik, dengan produksi saat ini diperkirakan 12,5 juta meter kubik per hari.
Pemerintah Suriah masih menghadapi berbagai tantangan, terutama rekonstruksi infrastruktur energi yang rusak, pemenuhan kerja sama teknis asing, serta penarikan investasi yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap.


