Kataib Hezbollah Peringatkan AS Agar Tidak Memulai Perang Melawan Iran

Kataib Hezbollah Peringatkan AS Agar Tidak Memulai Perang Melawan Iran

Beirut, Purna Warta Sekretaris Jenderal Kataib Hezbollah, Abu Hussein al-Hamidawi, pada Senin memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melancarkan perang terhadap Iran. Ia menyatakan kawasan kini memasuki apa yang ia sebut sebagai “babak baru konflik antara barisan kebenaran dan kebatilan,” dengan garis pemisah antara kedua kubu yang semakin jelas.

Dalam pernyataannya, al-Hamidawi menilai apa yang ia sebut sebagai “front kebatilan” telah menampakkan jati dirinya melalui tindakan kriminal dan pendekatan agresif terhadap bangsa-bangsa merdeka yang menolak dominasi imperialis. Ia memperingatkan bahwa kepemimpinan kubu tersebut tengah mempersiapkan langkah-langkah yang menyasar Republik Islam Iran, yang ia sebut sebagai salah satu pilar kekuatan dunia Islam.

Al-Hamidawi menegaskan bahwa kewajiban agama dan moral menuntut dukungan terhadap rakyat Iran yang sedang menghadapi tekanan. Menurutnya, membela Republik Islam Iran sama dengan menjaga kehormatan dan kesucian umat Islam. Dalam pesannya kepada rakyat Iran, ia menyatakan bahwa Kataib Hezbollah berdiri bersama mereka “dalam suka dan duka” serta tetap berkomitmen membela Iran dan nilai-nilai sucinya.

Seruan Kewaspadaan Regional

Ia juga menyerukan kepada rakyat Irak dan kelompok-kelompok dalam Poros Perlawanan agar tetap waspada, serta memperingatkan bahaya sikap lengah dan pengaruh suara-suara pengkhianatan, kampanye disinformasi, serta upaya-upaya yang bertujuan menciptakan kebingungan.

Lebih lanjut, al-Hamidawi memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melancarkan perang terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa konflik semacam itu tidak akan menjadi “urusan ringan” dan akan membawa konsekuensi serta biaya yang sangat besar.

Pernyataan tersebut muncul menyusul ancaman dari sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel, termasuk Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menyuarakan kemungkinan intervensi militer terhadap Iran dengan dalih “melindungi para demonstran.” Ancaman itu muncul di tengah apa yang dinilai pengamat sebagai kampanye media yang semakin intens terkait situasi di Iran.

Israel Tingkatkan Kesiagaan

Reuters pada Minggu melaporkan bahwa otoritas Israel meningkatkan tingkat kesiagaan keamanan di tengah kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat melancarkan agresi terhadap Iran, menyusul gelombang kerusuhan bersenjata yang didukung pihak asing dan dibingkai sebagai aksi protes anti-pemerintah oleh kelompok-kelompok zionis-imperialis.

Mengutip tiga sumber Israel, Reuters menyebutkan bahwa peningkatan kewaspadaan tersebut lebih dipicu oleh kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi Amerika Serikat, bukan karena adanya rencana intervensi Israel yang diumumkan secara terbuka. Para sumber tidak merinci langkah-langkah keamanan konkret, yang mencerminkan ketidakpastian terkait arah kebijakan Washington setelah pernyataan Trump yang memperingatkan kepemimpinan Iran agar tidak menggunakan kekuatan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kerusuhan, serta menyatakan Amerika Serikat “siap membantu.” Retorika ini dipandang Teheran sebagai bentuk intervensi terselubung, bukan kepedulian kemanusiaan.

Sikap Israel tersebut muncul dengan latar belakang perang 12 hari pada Juni lalu, ketika Israel, dengan keterlibatan langsung Amerika Serikat, melancarkan serangan udara dan operasi intelijen di wilayah Iran. Serangan itu menyasar tidak hanya infrastruktur militer, tetapi juga fasilitas sipil dan objek berfungsi ganda, menandai eskalasi tajam dari konfrontasi tidak langsung selama bertahun-tahun. Teheran saat itu memperingatkan bahwa setiap agresi baru AS-Israel akan dibalas dengan tindakan keras terhadap aset Amerika Serikat dan Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *