Jajak Pendapat: Hampir 90 Persen Warga Negara Arab Menentang Normalisasi dengan Israel

Arab

Purna Warta – Mayoritas mutlak masyarakat di seluruh dunia Arab menentang pengakuan terhadap Israel dan menolak normalisasi hubungan, menurut sebuah survei opini regional terbaru.

Indeks Opini Arab 2025 (Arab Opinion Index 2025) yang dilakukan oleh Arab Center for Research and Policy Studies yang berbasis di Doha menemukan bahwa 87 persen responden menentang negara mereka mengakui Israel, sementara hanya 6 persen yang menyatakan mendukung langkah tersebut.

Hasil survei ini muncul meskipun adanya Perjanjian Abraham yang dimediasi Amerika Serikat, di mana beberapa negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020.

Di antara minoritas kecil yang mendukung normalisasi, sekitar separuh menyatakan bahwa hal itu hanya dapat dilakukan setelah berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Libya dan Yordania mencatat tingkat penolakan tertinggi terhadap pengakuan Israel, masing-masing sebesar 96 persen dan 95 persen, disusul Kuwait sebesar 94 persen, wilayah Palestina yang diduduki sebesar 91 persen, Lebanon sebesar 89 persen, serta Maroko dan Qatar yang juga masing-masing sebesar 89 persen.

Hasil survei tersebut juga mengungkapkan bahwa responden dari kawasan Teluk Persia dan Afrika Utara termasuk di antara kelompok yang paling menentang pengakuan terhadap Israel.

Indeks tersebut mencatat perubahan signifikan dalam sikap sejumlah negara, terutama Sudan, di mana persentase responden yang mendukung pengakuan terhadap Israel turun menjadi 7 persen, dari kisaran 13 hingga 23 persen pada periode 2013–2022.

Persentase pendukung normalisasi di Maroko juga menurun tajam, dari 20 persen pada 2022—setelah penandatanganan perjanjian normalisasi—menjadi 6 persen pada 2025. Sebaliknya, persentase penolakan terhadap pengakuan Israel di Kuwait meningkat menjadi 94 persen, dibandingkan 85 persen pada 2022.

Mereka yang menentang pengakuan terhadap Israel menyebutkan sifat kolonial, apartheid, dan ekspansionis rezim tersebut serta kelanjutan pendudukannya atas wilayah Palestina sebagai alasan utama penolakan, sementara alasan budaya atau keagamaan hampir tidak muncul dalam argumen penolakan.

Laporan tersebut menekankan bahwa alasan-alasan ini mencerminkan sikap yang konsisten dalam opini publik Arab, dan bahwa tidak ada pergeseran mendasar yang diperkirakan akan terjadi selama sifat kolonial Israel tetap berlangsung.

Indeks Opini Arab 2025 merupakan hasil dari siklus kesembilan survei berkala Arab Opinion Index. Studi ini disusun selama satu tahun dan dilaksanakan di lapangan antara November 2024 hingga Agustus 2025 di 15 negara Arab, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Irak, Yordania, Palestina, Lebanon, Libya, Mesir, Sudan, Tunisia, Maroko, Aljazair, Mauritania, dan Suriah.

Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan sampel sebanyak 40.130 responden di negara-negara tersebut, menjadikannya proyek survei terbesar yang pernah dilakukan di kawasan Arab.

Jajak pendapat ini memakan waktu lebih dari 413.000 jam pengerjaan dan melibatkan sekitar 1.000 peneliti—setengah di antaranya perempuan—dengan total jarak tempuh peneliti lapangan melebihi satu juta kilometer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *