Iran: Ketika Konspirasi Gagal dan Kesadaran Rakyat Menguat

Iran

Tehran, Purna Warta – Negara dapat dikepung dan dijadikan sasaran, namun hanya rakyat yang sadar yang mampu menggagalkan konspirasi serta menuliskan bab terakhir keteguhan dan kemenangan atas para musuhnya.

“Negara yang benar-benar besar bukanlah negara yang tak pernah dikepung, melainkan negara yang mampu mengubah pengepungan menjadi kekuatan, konspirasi menjadi kesadaran, dan tekanan menjadi keteguhan.”

Di tengah berbagai peristiwa yang belakangan terjadi di Iran, muncul banyak suara yang menyerang negara dengan sejarah panjang dan peradaban yang mengakar ini, dalam upaya terang-terangan untuk mencemarkan citranya, seolah-olah Iran adalah entitas yang baru muncul di peta atau asing dalam lintasan sejarah. Padahal, Iran bukanlah negara buatan atau entitas hasil rekayasa, melainkan salah satu peradaban tertua umat manusia yang telah meninggalkan jejak mendalam dalam budaya, politik, dan ilmu pengetahuan. Warisan ini tidak mungkin dihapus hanya dengan narasi media atau kampanye disinformasi.

Seluruh upaya pencemaran tersebut tidak dapat dipisahkan dari konteks yang lebih luas, yakni usaha sistematis untuk mengalihkan fokus dari musuh utama di kawasan, yaitu entitas Zionis (“Israel”), melalui penciptaan dan pembesaran krisis internal, lalu menyajikannya sebagai tanda keruntuhan menyeluruh—sebuah narasi yang tidak bertahan ketika dihadapkan pada fakta di lapangan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa telah terjadi aksi protes di sejumlah kota di Iran, dengan tuntutan utama perbaikan kondisi ekonomi dan kesejahteraan. Hal ini merupakan fenomena yang wajar di negara mana pun di dunia. Iran bukanlah negara utopis dan tidak pernah mengklaim kesempurnaan. Tidak ada satu pun negara yang terbebas dari korupsi atau krisis, termasuk Amerika Serikat sendiri, yang seiring waktu semakin terbongkar tingkat korupsi struktural yang mendalam dalam sistemnya, meskipun citranya terus dipoles melalui dominasi media dan hegemoni narasi Barat.

Namun demikian, apa yang terjadi di Iran saat ini sengaja dibesar-besarkan untuk melayani propaganda Zionis–Amerika. Faktanya, skala dan dampak protes tersebut lebih kecil dibandingkan gelombang protes sebelumnya, termasuk yang terjadi pasca-insiden Mahsa Amini. Kecurigaan semakin menguat ketika eskalasi ini berlangsung pada momentum sensitif, beriringan dengan pernyataan terbuka dari Mossad yang mengakui keterlibatannya, serta sikap pemerintah Amerika Serikat yang menampilkan diri sebagai pembela semu “hak-hak rakyat”, padahal sepanjang sejarahnya tidak pernah menunjukkan kepedulian tulus terhadap penderitaan bangsa-bangsa tertindas.

Dalam konteks ini, muncul pula sosok yang mengklaim diri sebagai putra mahkota, Reza Pahlavi, yang perannya tak lebih dari atraksi akrobatik dalam sirkus politik, berusaha menobatkan diri sebagai pemimpin gerakan tersebut. Meski sebagian pihak yang naif memberikan tepuk tangan, bahkan Amerika Serikat sendiri tidak menempatkannya dalam kalkulasi serius. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar: permainan apa yang sesungguhnya sedang dijalankan di balik layar? Untuk menjawabnya, perhatian harus diarahkan pada inti kekuatan Iran, bukan sekadar gejolak di permukaan.

Banyak pihak mengabaikan fakta bahwa Iran berhasil mengubah sanksi dan pengepungan menjadi sumber kekuatan, bukan titik kehancuran. Iran merupakan negara produktif yang tidak sepenuhnya bergantung pada impor, dengan basis industri, pertanian, dan medis yang maju. Iran termasuk negara pengekspor gas terbesar di dunia, produsen minyak utama, serta menempati peringkat pertama global dalam produksi saffron. Negara ini juga merupakan salah satu produsen utama kurma dan pistachio, pemain kunci dalam industri petrokimia—khususnya metanol dan plastik—serta memiliki cadangan dan produksi mineral strategis seperti besi, baja, dan tembaga.

Di sektor industri dan kesehatan, Iran memproduksi kendaraan sendiri dan memiliki sektor medis yang maju, yang menjadi salah satu faktor utama ketahanannya hingga saat ini. Secara geografis, posisinya memberikan bobot regional dan internasional yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, mengaitkan stabilitas Iran semata-mata dengan nilai tukar dolar merupakan pembacaan yang dangkal dan keliru. Iran adalah negara yang memproduksi lebih banyak daripada yang dikonsumsinya, meskipun masih memerlukan sejumlah teknologi tertentu.

Aksi unjuk rasa merupakan hak yang sah dan tidak dapat dirampas. Namun, ketika dimanfaatkan untuk melayani agenda asing dan berubah menjadi alat perusakan yang mengancam keamanan nasional, maka hal tersebut keluar dari ranah protes yang sah dan memasuki wilayah kekacauan serta pengkhianatan. Di sinilah karakter rakyat Iran tampak jelas: rakyat yang nasionalis, berwatak patriotik, dan memiliki rasa memiliki yang kuat terhadap negaranya—bahkan dalam sikap oposisi sekalipun. Mereka bangga akan sejarahnya dan tidak menerima perendahan martabat bangsa maupun negaranya.

Inilah sebabnya mengapa terlihat konsolidasi luas di sekitar Iran sebagai negara, sebagai tanah air, dan sebagai kepemimpinan—bukan karena perbedaan internal telah lenyap, melainkan karena prioritas kelangsungan hidup, persatuan nasional, dan penangkalan agresi ditempatkan di atas segala kepentingan lainnya. Rakyat Iran telah berhasil melewati ujian kesadaran di masa lalu, dan tampaknya kembali berhasil hari ini, sebagaimana tercermin dari meredanya intensitas protes di kota-kota yang sebelumnya diharapkan menjadi pemicu gejolak internal.

Adapun wacana mengenai serangan militer Amerika Serikat atau Zionis lebih merupakan upaya pemerasan politik daripada kemampuan nyata. Jika “Amerika yang adidaya” atau entitas Zionis benar-benar mampu memenangkan konfrontasi militer, mereka tidak akan bergantung pada penggerakan instrumen internal. Fakta ini sendiri merupakan bukti ketidakmampuan, meskipun tidak menutup kemungkinan tindakan ceroboh—sebuah karakteristik yang kerap melekat pada penghuni Gedung Putih, yang telah membawa negaranya dari satu krisis ke krisis lainnya, dari Ukraina hingga Suriah, dari Yaman hingga Venezuela dan Kuba, dalam demonstrasi terang-terangan dari delusi kebesaran yang justru mempercepat kejatuhan.

Kesimpulan dari keseluruhan gambaran ini adalah bahwa Iran tidak diserang semata-mata karena merupakan negara Islam, dan bukan pula semata karena menghadapi kesulitan ekonomi akibat sanksi—sebab Barat tidak pernah benar-benar peduli pada penderitaan rakyat.

Iran diserang karena berani mengatakan “tidak” terhadap hegemoni, karena secara terbuka dan tanpa rasa malu mendukung gerakan perlawanan, serta karena konstitusinya secara tegas menegaskan pembelaan terhadap kaum tertindas dan terzalimi. Iran diserang karena merupakan faktor penentu yang sulit diabaikan, sebuah negara tua yang mengakar kuat dan memiliki tingkat kesadaran yang layak menjadi pelajaran.

Jalan Iran ke depan tidak bebas dari tantangan, dan kewaspadaan tetap diperlukan, karena upaya kolonial tidak akan pernah berhenti. Namun, apa yang gagal dicapai oleh “Israel” dan “Amerika adidaya” melalui konfrontasi langsung tidak akan berhasil diwujudkan melalui kekacauan internal, selama kesadaran rakyat dan tingkat nasionalisme mereka tetap tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *