Tehran, Purna Warta – Pemerintah Iran memamerkan sejumlah besar perangkat Starlink yang disita, termasuk terminal, modem, dan penguat sinyal, di tengah langkah tegas untuk menekan penggunaan jaringan internet satelit tersebut di dalam negeri. Otoritas menilai Starlink telah berfungsi sebagai infrastruktur digital tersembunyi yang dimanfaatkan untuk koordinasi kekerasan dan operasi keamanan asing.
Berdasarkan estimasi media, jumlah terminal Starlink yang aktif di Iran diperkirakan berkisar antara 30.000 hingga 100.000 unit. Pemerintah menyatakan bahwa pola yang berulang telah teridentifikasi: di wilayah tempat Starlink beroperasi, kekerasan terkoordinasi kerap menyusul. Temuan ini menjadikan pelacakan dan penonaktifan Starlink sebagai prioritas strategis utama.
Starlink, layanan internet satelit milik Starlink, dipandang oleh Tehran sebagai jalur masuk digital yang dimanfaatkan oleh badan intelijen asing, termasuk CIA dan Mossad.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, Iran mengerahkan berbagai instrumen. Di antaranya adalah jammer kelas militer—yang menurut laporan kemungkinan berasal dari Rusia atau Tiongkok—untuk mengganggu koneksi terminal ke satelit Starlink hingga sekitar 80 persen. Selain itu, kendaraan pendeteksi sinyal dan drone digunakan untuk melacak lokasi penggunaan, sehingga pasukan dapat menurunkan antena dan menyita perangkat.
Iran juga mengembangkan perangkat lunak, yang disebut dibuat setelah perang Iran–Israel pada Juni 2025, yang meniru aplikasi Starlink guna mengumpulkan informasi pengguna. Di sisi hukum, kepemilikan dan penyelundupan terminal Starlink kini dikenai hukuman berat, mulai dari dua hingga sepuluh tahun penjara, hingga ancaman hukuman mati dalam kasus yang diklasifikasikan sebagai spionase bagi musuh asing.
Pemerintah menilai penindakan ini mendesak karena Starlink digunakan untuk menerobos pembatasan jaringan lokal dan mengoordinasikan kerusuhan, menyebarkan pesan, deepfake, unggahan bot media sosial, serta berbagai operasi informasi lainnya. Pejabat dan media Amerika Serikat serta Israel disebut tidak menyangkal bahwa aktivitas semacam itu berlangsung.
Pada agresi Israel terhadap Iran pada Juni 2025, Elon Musk menyatakan bahwa “beams” Starlink telah diaktifkan di Iran. Menurut otoritas Iran, jaringan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh penyusup Israel untuk mengoordinasikan operasi drone dan serangan udara.
Perkembangan terbaru, laporan Bloomberg menyebutkan bahwa SpaceX menawarkan akses internet Starlink gratis di Iran, setelah Donald Trump berjanji akan “berbicara dengan Elon” terkait hal tersebut. Iran menilai langkah ini sejalan dengan kebijakan Amerika Serikat yang pada 2022 mengecualikan Starlink dari sanksi terhadap Iran.
Otoritas Iran juga menyoroti keterkaitan erat Starlink dengan struktur keamanan Amerika Serikat dan Israel. Varian khusus Starlink, Starshield, digunakan oleh militer AS serta lembaga intelijen seperti CIA, NSA, dan DIA, sementara Musk disebut pernah mengaktifkan layanan tersebut untuk militer Israel sebelum invasi ke Gaza pada 2023. Bagi Tehran, rangkaian fakta ini menegaskan bahwa Starlink bukan sekadar layanan komunikasi sipil, melainkan alat operasi keamanan dan perang informasi.


