Tehran, Purna Warta – Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan “Israel” mengandalkan kelompok teroris untuk menyerang Iran setelah gagal mencapai tujuan mereka dalam perang 12 hari. Pernyataan tersebut disampaikan Mousavi pada Selasa dalam pesan kepada rakyat Iran.
Dalam pesannya, Mousavi menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerahkan sedikit pun kemerdekaan, keutuhan wilayah, dan kepentingan nasionalnya. Ia memperingatkan bahwa para penjaga keamanan Iran tidak akan memberi ruang bagi kelompok teroris ISIS maupun apa yang ia sebut sebagai “agen kesombongan global” untuk mewujudkan tujuan mereka.
“Biarlah musuh mengetahui bahwa kami akan mempertahankan Iran dengan seluruh jiwa kami dan tidak akan membiarkan terorisme merongrong keamanan nasional,” ujarnya.
Senjata Amerika Disita
Mousavi juga menuding kekuatan asing mengeksploitasi kelompok teroris untuk melawan Iran. Menurutnya, Amerika Serikat dan entitas Israel menggunakan teroris untuk menyerang rakyat Iran sebagai upaya menutupi apa yang ia sebut sebagai kekalahan bersejarah mereka dalam agresi terhadap Iran.
Ia menjelaskan bahwa para teroris kerap memanfaatkan warga biasa yang tidak mengetahui rencana teror. Mousavi memuji aparat keamanan Iran yang disebutnya telah menjadi perisai bagi rakyat, bahkan mengorbankan nyawa demi menjaga keamanan negara.
Sementara itu, Kementerian Intelijen Iran menangkap sejumlah sel teroris yang dikaitkan dengan “Israel” dan dilaporkan memasuki Iran melalui perbatasan timur. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa sel-sel tersebut tersebar di tujuh lokasi di Zahedan dan diduga merencanakan pengeboman terhadap sejumlah pusat layanan publik.
Kementerian menyebut para anggota sel telah dilatih untuk melakukan aksi teror dan sabotase, serta ditangkap dengan membawa senjata buatan Amerika dan bahan peledak.
Pengiriman Senjata Digagalkan
Sebelumnya, pada 12 Januari, Kementerian Intelijen Iran mengumumkan telah menggagalkan pengiriman 273 senjata dari berbagai jenis dan menangkap tiga orang yang terkait dengan operasi tersebut. Senjata-senjata itu disebut disembunyikan secara profesional di dalam sebuah truk transit asing, meski otoritas tidak mengungkap asal maupun tujuan pengiriman.
Pejabat Iran juga berulang kali menuduh Amerika Serikat dan “Israel” berada di balik kerusuhan yang terjadi belakangan. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mengatakan penyelidikan menemukan bukti jelas dan terselubung mengenai keterlibatan asing. Ia menambahkan bahwa keamanan telah dipulihkan di berbagai wilayah dan menyebut sebagian besar korban tewas dalam insiden terbaru dibunuh oleh agen asing.
Rezaei menggambarkan situasi tersebut sebagai “perang teroris terhadap rakyat Iran” dan memperingatkan bahwa respons Teheran akan bersifat tegas dan menyakitkan.
Pemerintah: Protes Damai Dibajak Terorisme
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menyuarakan kecaman serupa dalam konferensi pers mingguan. Ia menyatakan bahwa “perang teroris telah membajak protes damai rakyat Iran, sebagaimana agresi Amerika-Israel membajak proses negosiasi Iran.”
Mohajerani menegaskan bahwa rakyat Iran secara jelas mengecam terorisme dan menolak kekerasan, merujuk pada aksi massa besar yang digelar sehari sebelumnya. Ia menuduh kekuatan asing mendukung kerusuhan dan menyebut Amerika Serikat serta entitas Israel telah menunjukkan niat buruk mereka terhadap rakyat Iran dengan mendukung apa yang disebutnya sebagai perang teroris di jalanan Iran.
Dari Protes Ekonomi ke Kerusuhan Bersenjata
Iran belakangan mengalami kerusuhan bersenjata dan aksi sabotase yang, menurut otoritas, menyusup ke dalam protes damai terkait kondisi ekonomi. Insiden tersebut mengakibatkan korban jiwa dari kalangan warga sipil dan aparat keamanan.
Pejabat Iran menegaskan bahwa sabotase bersenjata telah membajak tuntutan ekonomi yang sah, serta menuding jaringan yang terkait dengan Amerika Serikat dan “Israel” sebagai pihak yang memicu kekerasan. Aparat keamanan terus memburu para perusuh dan pelaku sabotase, sekaligus mengungkap keterkaitan mereka dengan organisasi teroris atau kelompok separatis yang disebut melayani kepentingan Mossad dan Washington.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 12 Januari menegaskan bahwa Iran siap menghadapi segala bentuk agresi dan menyatakan kesiapan pertahanan negara berada pada tingkat tertinggi. Ia juga mengungkap sejumlah insiden brutal, termasuk penembakan terhadap korban luka di dalam ambulans serta pembakaran masjid. Menurutnya, sedikitnya 53 masjid dibakar, lebih dari 10 ambulans dan bus transportasi diserang, serta sejumlah toko diancam pembakaran dalam gelombang kekerasan tersebut.
Aksi Massa Tolak Kekacauan
Pada pagi hari 12 Januari, jutaan warga Iran turun ke jalan di berbagai kota untuk mengecam kerusuhan bersenjata dan menegaskan dukungan terhadap Republik Islam Iran. Aksi tersebut digelar setelah pemerintah menyerukan partisipasi publik dalam demonstrasi bertajuk “Solidaritas Nasional dan Penghormatan terhadap Perdamaian dan Persahabatan.”
Dalam pernyataannya, pemerintah menegaskan seluruh anggota kabinet dan pejabat negara berkomitmen mendengarkan aspirasi serta kritik para pengunjuk rasa dan berupaya menjawab tuntutan mereka melalui dialog. Namun, pemerintah juga menuduh Amerika Serikat dan “Israel” memanfaatkan situasi tegang dengan mengerahkan tentara bayaran untuk melakukan sabotase di jalanan Iran, menyusul apa yang disebut sebagai agresi terbaru terhadap negara tersebut.


