Tehran, Purna Warta – Harga minyak dunia melemah pada Senin, seiring investor menyeimbangkan kekhawatiran potensi gangguan pasokan dari Iran dengan ekspektasi kembalinya ekspor minyak mentah Venezuela ke pasar global.
Minyak mentah Brent turun 22 sen atau 0,4 persen ke level USD 63,12 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 25 sen atau 0,4 persen menjadi USD 58,87 per barel. Pekan lalu, kedua patokan tersebut sempat menguat lebih dari 3 persen, mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober.
Pelemahan harga terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kondisi di negaranya berada dalam situasi “sepenuhnya terkendali” menyusul pecahnya kekerasan pada akhir pekan.
Araghchi menuding pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memicu aksi kelompok teroris yang menyerang demonstran maupun aparat keamanan, sehingga menciptakan dalih bagi campur tangan asing. Dalam sepekan terakhir, Iran menghadapi ancaman terbuka dari Trump dan sejumlah pejabat Israel, bersamaan dengan demonstrasi yang awalnya dipicu tuntutan perbaikan ekonomi, namun kemudian dibajak oleh perusuh dan kelompok bersenjata.
Pada Senin, jutaan warga Iran turun ke jalan untuk menyatakan dukungan terhadap Republik Islam Iran serta menolak intervensi Amerika Serikat dalam urusan dalam negeri negara tersebut. Di sisi lain, Trump dilaporkan tengah menerima pengarahan dan mempertimbangkan berbagai opsi militer, termasuk kemungkinan serangan terhadap Iran.
Pasar Dinilai Meremehkan Risiko Eskalasi Iran
Meski harga minyak sempat menguat, sejumlah analis menilai pasar masih meremehkan risiko geopolitik dari potensi konflik Iran yang lebih luas, yang dapat mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Kepala riset energi MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan kepada Reuters bahwa pelaku pasar masih menunggu terjadinya gangguan pasokan secara nyata sebelum mendorong harga minyak naik lebih tajam.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis energi global yang menangani sekitar 20–25 persen perdagangan minyak dunia melalui laut, serta sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global. Jalur ini menjadi penghubung utama pengiriman minyak mentah, produk minyak, dan LNG dari kawasan Teluk, terutama menuju pasar Asia. Eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas produksi minyak, tidak hanya arus perdagangan.
Iran sendiri berisiko terdampak jika terjadi serangan. Industri minyak negara tersebut memproduksi sekitar 4 juta barel per hari, setara dengan sekitar 4 persen pasokan minyak global.
Ekspor Minyak Venezuela Berpotensi Dilanjutkan
Di saat yang sama, perhatian pasar juga tertuju pada Venezuela. Ekspor minyak negara itu diperkirakan akan kembali berlangsung setelah insiden penculikan Presiden Nicolas Maduro. Trump menyatakan pekan lalu bahwa Caracas berencana melepas hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi untuk diekspor ke Amerika Serikat.
Perkembangan ini memicu perlombaan di kalangan perusahaan minyak untuk mengamankan kapal tanker dan mempersiapkan pengiriman dari pelabuhan-pelabuhan Venezuela. Perusahaan perdagangan energi Trafigura menyebut kapal pertamanya berpotensi mulai memuat kargo dalam waktu satu pekan ke depan.
Analis pasar memperkirakan harga minyak akan bergerak terbatas kecuali terjadi pemulihan permintaan yang jelas atau gangguan pasokan berskala besar. Analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai kontrak berjangka minyak semakin mencerminkan narasi kelebihan pasokan menjelang 2026.
Investor juga mencermati potensi risiko pasokan dari Rusia, di tengah serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi serta kemungkinan penerapan sanksi Amerika Serikat yang lebih ketat, yang dapat memengaruhi ekspor minyak mentah Rusia.


