Tehran, Purna Warta – Garda Revolusi Iran (IRGC) pada hari Jumat mengumumkan bahwa Selat Hormuz telah ditutup sepenuhnya, serta menegaskan bahwa setiap upaya untuk melintasinya akan menghadapi tanggapan tegas, di tengah berlanjutnya konfrontasi militer di kawasan tersebut.
IRGC juga menekankan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas menuju atau dari pelabuhan negara-negara sekutu Amerika Serikat dan Israel melalui jalur mana pun.
Kantor berita Iran Tasnim mengutip pernyataan Garda Revolusi yang menyebutkan bahwa tiga kapal kargo dari berbagai kewarganegaraan mencoba menuju jalur khusus yang diperuntukkan bagi kapal yang memiliki izin melintas. IRGC menambahkan bahwa upaya tersebut didasarkan pada apa yang disebutnya sebagai “kebohongan” Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pembukaan kembali selat tersebut.
IRGC menegaskan bahwa kapal-kapal tersebut akhirnya dipaksa berbalik setelah menerima peringatan dari angkatan laut Garda Revolusi.
Kapal Perusahaan Pelayaran Tiongkok Juga Berbalik
Dalam perkembangan terkait, Kantor Berita Jerman (DPA) melaporkan bahwa dua kapal kontainer besar yang terkait dengan perusahaan pelayaran milik pemerintah Tiongkok, Cosco Shipping, pada hari Jumat mencoba meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz sebelum akhirnya berbalik secara tiba-tiba di dekat perairan Iran.
Data pelacakan kapal yang dikumpulkan oleh Bloomberg menunjukkan bahwa kedua kapal tersebut mengubah rute mereka di dekat Pulau Larak dan Qeshm di Iran, di pintu masuk selat, setelah sebelumnya bergerak ke arah utara di lepas pantai Dubai.
Upaya ini dianggap sebagai percobaan pertama kapal milik Cosco untuk melintasi Selat Hormuz sejak diumumkannya penutupan selat tersebut.
Ratusan Kapal Menunggu Izin Iran
Sementara itu, kantor berita Iran Fars melaporkan bahwa lebih dari 350 kapal tanker minyak dan gas masih menunggu izin dari Teheran untuk melintasi selat tersebut.
Menurut laporan tersebut, otoritas Iran meminta kapal-kapal tersebut mematikan sistem mereka dan terus menunggu.
Data Iran menyebutkan bahwa kapal-kapal yang tertahan meliputi:
- 25 kapal tanker minyak raksasa
- sekitar 200 kapal tanker minyak konvensional
- sekitar 70 kapal tanker gas alam
Kapal-kapal tersebut saat ini berada di Teluk Persia dan Teluk Oman.
Sebelumnya, data dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan bahwa sekitar 3.200 kapal terjebak di sebelah barat Selat Hormuz, dengan sekitar 20.000 pelaut di dalamnya sejak pengumuman penutupan selat tersebut.
Selain itu, setidaknya 21 kapal telah diserang atau melaporkan insiden penargetan sejak pecahnya perang.
Reaksi Internasional
Di tingkat internasional, Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper menyerukan penyelesaian cepat terhadap konflik tersebut, dan menuduh Teheran “menjadikan ekonomi global sebagai sandera” dengan mengganggu navigasi di jalur pelayaran penting tersebut.
Dalam sela-sela pertemuan menteri negara-negara G7 di Prancis, Cooper mengatakan bahwa Inggris ingin stabilitas kawasan segera dipulihkan, serta menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz tidak boleh diancam.
Pernyataan Trump
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran sedang bersiap mengizinkan beberapa kapal tanker minyak melintasi selat tersebut sebagai tanda itikad baik dalam kerangka pembicaraan yang sedang berlangsung.
Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai “hadiah” untuk menunjukkan keseriusan Teheran dalam bernegosiasi guna mengakhiri perang.
Jalur Energi Paling Strategis di Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis terpenting bagi perdagangan energi global. Oleh karena itu, setiap gangguan terhadap pelayaran di jalur ini memiliki dampak langsung terhadap pasar minyak dan perekonomian internasional, terutama ketika konfrontasi militer di kawasan masih berlangsung dan dampaknya semakin meluas di tingkat regional maupun global.


