Garda Revolusi Iran Tegaskan Kesiapan Penuh di Tengah Perang Hibrida

Garda Revolusi Iran Tegaskan Kesiapan Penuh di Tengah Perang Hibrida

Tehran, Purna Warta Komandan Pasukan Darat Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Islamic Revolution Guard Corps, Brigadir Jenderal Mohammad Karami, menegaskan bahwa pasukannya berada dalam kondisi “siap tempur penuh” untuk merespons setiap potensi agresi terhadap Iran.

Karami menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran kuat dan sepenuhnya siap memberikan respons tegas serta menentukan atas setiap “kesalahan” yang dilakukan pihak lawan. Ia menekankan tingginya tingkat koordinasi antarkomponen militer Iran, seraya menyebut pengembangan kapabilitas terus dilakukan di seluruh lini guna menghadapi ancaman yang berkembang.

Menurut Karami, Iran saat ini menghadapi “perang hibrida komprehensif” yang mencakup dimensi ekonomi, sosial, budaya, politik, siber, keamanan, dan pertahanan. Ia menambahkan bahwa keamanan nasional Iran telah terjaga dari perbatasan hingga ke wilayah terdalam negara, serta memperingatkan bahwa angkatan bersenjata akan menindak tegas setiap pihak yang mengincar wilayah Iran.

Stok Rudal dan Kesiapan Pertahanan Udara Ditingkatkan

Sehari sebelumnya, Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara dan rudal Iran berada pada tingkat kesiapan tertinggi untuk menghadapi serangan apa pun. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk ancaman agresi dari Amerika Serikat.

Dalam rapat Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Mousavi menegaskan bahwa pasukan dirgantara akan memberikan respons “tegas dan menghancurkan” terhadap setiap tindakan agresi yang menargetkan rakyat Iran. Ia juga mengungkapkan bahwa produksi rudal dan output keseluruhan pasukan dirgantara meningkat dibandingkan sebelum perang 12 hari terakhir, menandakan penguatan kemampuan pertahanan.

Pernyataan tersebut sejalan dengan peringatan Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh, yang mengatakan Teheran memiliki “kejutan” bagi pihak-pihak yang mengancam aksi militer. Nasirzadeh menegaskan bahwa setiap penyerang akan menghadapi “rasa sakit dan penderitaan berat,” serta memperingatkan bahwa kepentingan mereka di mana pun dapat menjadi sasaran jika aset Iran diserang. Negara mana pun yang memfasilitasi serangan atau menyediakan pangkalan juga akan dianggap target sah.

Persiapan Militer AS dan Perubahan Narasi Washington

Di sisi lain, Amerika Serikat bersama sekutu regionalnya meluncurkan sel koordinasi pertahanan udara dan rudal baru di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, untuk meningkatkan kemampuan bersama di Timur Tengah.

Sebelumnya, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah memperingatkan negara-negara kawasan akan menargetkan pangkalan militer AS jika Washington melancarkan serangan. Sejumlah diplomat menyebut personel di Pangkalan Al Udeid disarankan meninggalkan lokasi hingga Rabu malam.

Ancaman AS muncul di tengah tudingan Teheran mengenai kampanye berkelanjutan yang bertujuan memicu perubahan rezim melalui kerusuhan bersenjata dan pemberontakan lebih luas. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa kematian di antara para perusuh dapat memicu serangan langsung Amerika terhadap Iran.

Pada Rabu, Trump mengatakan ia menerima informasi bahwa “pembunuhan telah berhenti” di Iran dan menambahkan harapannya agar tidak terjadi eksekusi. Ia menyatakan Washington akan “mengamati proses yang berlangsung,” seraya mengklaim menerima penilaian positif dari pihak-pihak yang disebut memahami situasi di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *