AS Menggunakan Disinformasi untuk Menutupi Guncangan Harga Minyak Akibat Perang di Iran

Teheran, Purna Warta – Saat perang AS-Israel di Iran memasuki minggu kedua, pemerintahan Trump semakin mengandalkan pernyataan palsu dan unggahan media sosial yang dihapus untuk memanipulasi pasar minyak global dan meredakan tekanan domestik.

Polanya jelas: setiap kali harga minyak melonjak karena gangguan aliran energi Teluk Persia akibat perang, para pejabat AS—termasuk Presiden Donald Trump dan Menteri Energi Chris Wright—mengeluarkan klaim yang tidak berdasar, hanya untuk kemudian menarik kembali atau membantahnya beberapa jam kemudian. Hasilnya? Pelepasan sementara pasar, reli singkat di indeks saham Eropa seperti FTSE 100, dan krisis kredibilitas yang semakin meningkat bagi Washington.

Tweet yang Dihapus yang Menggerakkan Pasar

Pada hari Selasa, Menteri Energi Chris Wright mengunggah—dan kemudian dengan cepat menghapus—klaim bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Unggahan tersebut, yang dibuat pada pukul 13.02 Waktu Bagian Timur AS, menyebabkan harga minyak anjlok dan memicu kenaikan 1,6% pada indeks FTSE 100 London, karena para pedagang bertaruh pada kembalinya keadaan normal di jalur pasokan minyak paling penting di dunia.

Namun Gedung Putih dengan cepat menarik kembali pernyataan tersebut. Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengakui, “Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini,” yang menunjukkan bahwa unggahan tersebut tidak berdasar. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengejek klaim tersebut, bertanya, “Sebuah kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz dengan dikawal oleh kapal Angkatan Laut AS? Mungkin hanya di PlayStation!”

Peristiwa ini bukanlah insiden terisolasi. Ini mengikuti skenario yang sekarang sudah familiar: pejabat AS membuat pernyataan berani dan tidak didukung bukti tentang kemajuan perang atau keamanan minyak, pasar bereaksi positif, dan klaim tersebut kemudian dibantah atau ditarik kembali.

Retorika Trump tentang “Perang Telah Berakhir”: Taktik Manipulasi Pasar Lainnya

Hanya beberapa jam setelah cuitan Wright yang dihapus, Trump sendiri menyatakan perang terhadap Iran “sangat lengkap, hampir” dan menyarankan perang akan berakhir “segera”. Pernyataan tersebut, yang disampaikan selama konferensi pers, menyebabkan harga minyak anjlok lagi—minyak mentah Brent turun menjadi $90,28, dan FTSE 100 melonjak 145 poin.

Namun, realitas di lapangan menceritakan kisah yang berbeda. Selat Hormuz tetap tertutup secara efektif, dengan militer Iran menegaskan “kendali penuh” atas jalur air tersebut dan memperingatkan bahwa kapal apa pun yang mencoba melewatinya berisiko terkena serangan rudal atau drone. Lalu lintas maritim “hampir terhenti” sejak perang dimulai pada 28 Februari, dan analis menggambarkan gangguan pasokan minyak sebagai “yang terbesar dalam sejarah”.

Klaim Trump tentang berakhirnya perang yang akan segera terjadi juga bertentangan dengan tindakan pemerintahannya sendiri. Departemen Luar Negeri telah memerintahkan staf non-darurat untuk meninggalkan Arab Saudi, dan militer AS belum memulai operasi apa pun untuk melindungi kapal tanker minyak di Teluk Persia, menurut Jenderal Dan Caine, kepala Kepala Staf Gabungan AS.

Pola Penipuan: Bagaimana AS Menangani Krisis Minyak

Minggu lalu telah terjadi siklus yang berulang: Harga minyak melonjak karena gangguan terkait perang di Teluk Persia. Pejabat AS membuat klaim yang tidak berdasar—tentang pengawalan militer, berakhirnya perang, atau “tidak ada kekurangan energi”—untuk menenangkan pasar. Pasar menguat sebentar, dengan indeks Eropa seperti FTSE 100, DAX, dan CAC 40 mencatatkan kenaikan. Klaim tersebut dibantah atau ditarik kembali, mengungkapkan keputusasaan pemerintah untuk menutupi tingkat keparahan krisis.

Pola ini bukan hanya tentang informasi yang salah; ini tentang kelangsungan hidup ekonomi. Harga minyak yang melonjak—minyak mentah Brent mencapai $110 pekan lalu, level yang belum pernah terlihat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022—mengancam akan menggagalkan ekonomi AS dan memicu tsunami inflasi global. Harga bensin di AS telah melonjak 43 sen dalam seminggu, dan maskapai penerbangan seperti SAS memperkenalkan “penyesuaian harga terkait bahan bakar sementara” untuk mengimbangi lonjakan tersebut.

Namun, alih-alih mengatasi akar penyebabnya—agresi AS-Israel yang telah melumpuhkan Teluk Persia—pemerintahan Trump justru menggunakan kebohongan sebagai senjata untuk mengulur waktu.

Iran Mengungkap Kebohongan

Para pejabat Iran dengan cepat mengungkap taktik Washington. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengecam AS karena “menyebarkan berita palsu untuk memanipulasi pasar,” menambahkan bahwa dunia menghadapi “kekurangan minyak terbesar dalam sejarah” akibat perang.

Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa pengangkatan Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin baru telah “menyebabkan musuh-musuh yang bermusuhan dan gemar berperang putus asa”.

Pesan dari Teheran jelas: AS mungkin mengendalikan narasi di media Barat, tetapi tidak dapat mengendalikan Teluk Persia—atau dampak ekonomi dari perangnya sendiri.

Perang yang Dibangun di Atas Kebohongan, Krisis yang Diperburuk oleh Penipuan

Perang AS-Israel terhadap Iran tidak hanya menggoyahkan Timur Tengah tetapi juga memicu guncangan minyak global. Alih-alih mengakui kegagalan atau mencari solusi diplomatik yang nyata, pemerintahan Trump malah semakin gencar menyebarkan informasi yang salah dan memanipulasi pasar. Dari cuitan yang dihapus hingga janji-janji kemenangan yang hampa, polanya tak terbantahkan: Washington lebih peduli dengan menopang harga saham daripada mengakhiri perang yang telah menyebabkan “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah minyak”.

Selama Selat Hormuz tetap tertutup dan perang terus berkecamuk, dunia akan terus membayar harganya—baik dalam hal harga bahan bakar maupun kredibilitas mereka yang mengklaim memimpinnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *