Teheran, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menekankan perlunya memperkuat kekuatan nasional dan kemampuan pertahanan negara, menekankan bahwa peningkatan berkelanjutan kekuatan penangkal Iran sangat penting untuk menjaga kepentingan nasional.
Baca juga: Komandan Iran Peringatkan, Salah Kalkulasi Akan Merugikan Musuh
Menteri Luar Negeri Araqchi menghadiri pertemuan para imam salat Jumat dari seluruh Iran pada hari Selasa dan menguraikan perkembangan terkini dalam kebijakan luar negeri dan hubungan internasional Iran.
Meninjau arah kebijakan luar negeri selama setahun terakhir, Araqchi menggambarkan pertahanan heroik bangsa Iran terhadap perang agresi yang dipaksakan oleh rezim Zionis dan AS pada bulan Juni sebagai titik balik dalam sejarah negara tersebut.
Menyoroti upaya berkelanjutan Kementerian Luar Negeri untuk membela hak dan kepentingan rakyat Iran, ia mengatakan bahwa menjaga persatuan dan kohesi nasional merupakan tanggung jawab bersama dan prasyarat bagi keberhasilan negara dalam menghadapi permusuhan musuh.
Araqchi juga mengutip kebijaksanaan, keberanian, dan tekad kuat Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, pengorbanan Angkatan Bersenjata Iran, serta persatuan dan solidaritas nasional rakyat Iran sebagai elemen kunci dalam membentuk kemenangan bersejarah dalam perang 12 hari.
Menteri Luar Negeri juga menekankan perlunya terus memperkuat kekuatan dan otoritas nasional dalam berbagai dimensi pertahanan, serta menjaga dan meningkatkan modal sosial dan kohesi nasional.
Pada 13 Juni, rezim Zionis melancarkan perang agresi yang tak terprovokasi terhadap Iran, yang menargetkan wilayah militer, nuklir, dan permukiman selama 12 hari berturut-turut. Amerika Serikat kemudian meningkatkan konflik dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan pada 22 Juni.
Baca juga: Latihan Sahand-2025 Tunjukkan Peran Iran dalam Operasi Antiteror Gabungan
Angkatan Bersenjata Iran memberikan respons yang segera dan tegas. Pasukan Dirgantara Garda Revolusi melancarkan 22 gelombang serangan rudal balasan dalam Operasi True Promise III, yang menimbulkan kerusakan signifikan dan kerugian besar di berbagai kota di wilayah pendudukan.
Sebagai balasan atas serangan AS, pasukan Iran juga menyerang Pangkalan Udara al-Udeid di Qatar—instalasi militer Amerika terbesar di Asia Barat—dengan rentetan rudal.
Konfrontasi berakhir pada 24 Juni, ketika gencatan senjata diberlakukan.


