Araghchi ke PBB: Aksi Damai Disabotase Kelompok Teroris

Araghchi ke PBB: Aksi Damai Disabotase Kelompok Teroris

Tehran, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Presiden Dewan Keamanan PBB, serta Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk, yang memaparkan posisi Teheran terkait kerusuhan terbaru dan menuding adanya hasutan serta campur tangan asing.

Dalam surat tersebut, Araghchi menjelaskan bahwa aksi protes yang bermula secara damai pada 28 Desember 2025 akibat keluhan ekonomi dengan cepat disabotase oleh unsur teroris bersenjata. Kerusuhan pada 8–10 Januari 2026 berubah menjadi aksi kekerasan serius, termasuk laporan pemenggalan kepala, pembakaran, dan pemukulan terhadap warga sipil maupun aparat kepolisian, serta perusakan ambulans, fasilitas kesehatan, dan tempat ibadah.

Sekitar 300 syuhada—terdiri dari personel keamanan dan warga sipil—dijadwalkan dimakamkan pada Rabu di Teheran.

Situasi Kembali Stabil

Dalam wawancara dengan Fox News pada Rabu, Araghchi menyatakan bahwa demonstrasi di Iran telah berakhir dan situasi nasional kembali stabil setelah beberapa hari gejolak. Ia menegaskan kondisi di lapangan tetap tenang selama empat hari berturut-turut.

Teheran Kecam Hasutan Asing, Singgung Keterlibatan Mossad

Araghchi mengungkapkan “keprihatinan mendalam” atas pernyataan provokatif dan tidak bertanggung jawab dari pejabat Amerika Serikat, baik yang masih menjabat maupun mantan pejabat, yang dituding secara langsung menghasut kekerasan dan melanggar hukum internasional. Ia secara khusus menyinggung pernyataan seorang mantan Menteri Luar Negeri AS yang mengakui keberadaan agen Mossad Israel di tengah para demonstran.

Menurut Araghchi, eksploitasi protes untuk agenda politik—ditambah dampak berkelanjutan sanksi sepihak AS yang ilegal—telah merusak hak-hak dasar rakyat Iran. Ia menyebut klaim AS yang mengatasnamakan dukungan terhadap HAM Iran sebagai “memalukan”.

Merujuk pada aksi “Solidaritas Nasional dan Penghormatan terhadap Perdamaian dan Persahabatan” yang digelar pada 12 Januari 2026, Araghchi menyatakan unjuk rasa tersebut mencerminkan penolakan rakyat Iran terhadap campur tangan asing serta dukungan terhadap persatuan nasional, hukum, dan ketertiban.

Ia juga menekankan bahwa otoritas Iran, meski menghadapi kekerasan ekstrem, tetap menunjukkan pengendalian maksimal dengan menghormati hak aksi damai dan menjalankan kewajiban melindungi keselamatan publik serta keamanan nasional.

Seruan Kecaman Internasional terhadap Terorisme

Di akhir suratnya, Araghchi menyerukan kecaman tegas dan tanpa ambiguitas terhadap aksi terorisme yang terjadi selama kerusuhan, apa pun motif politiknya. Ia juga meminta PBB dan negara-negara anggotanya untuk mengecam hasutan serta campur tangan asing yang melanggar kedaulatan dan keutuhan wilayah Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *