Washington, Purna Warta – Eric Trump berinvestasi pada produsen drone Israel yang senjatanya digunakan di Gaza, sebuah langkah yang menurut para pengkritik bertolak belakang dengan klaim ayahnya bahwa ia ingin “membawa perdamaian” dan pada akhirnya membantu membangun kembali wilayah yang hancur tersebut.
Investasi itu terkait dengan merger senilai 1,5 miliar dolar AS antara perusahaan drone Israel, XTEND, dan perusahaan pengembang properti berbasis di Florida, JFB Construction Holdings.
Kesepakatan tersebut dirancang untuk membawa XTEND melantai di bursa saham Amerika Serikat pada akhir tahun ini, sehingga memberinya akses yang lebih luas terhadap modal dan kapasitas manufaktur di AS.
Drone produksi XTEND telah menuai kontroversi. Perusahaan itu menyatakan bahwa sistemnya telah digunakan secara luas oleh pasukan Israel di Gaza, termasuk untuk memasuki terowongan, menembus jendela, memantau bangunan, dan dalam beberapa kasus membawa bahan peledak kecil yang mampu menghancurkan pintu sebelum menjatuhkan granat.
Perusahaan tersebut mempromosikan produknya sebagai memiliki “biaya rendah per pembunuhan” (low cost per kill), istilah yang menarik perhatian Pentagon.
Pentagon telah memberikan sejumlah kontrak kepada XTEND, termasuk perjanjian bernilai jutaan dolar yang dikonfirmasi pada November 2024 dan kontrak lain senilai 8,8 juta dolar AS pada Desember.
Bulan ini, perusahaan tersebut terpilih dalam Program Dominasi Drone Pentagon, sebuah inisiatif yang bertujuan meningkatkan produksi drone serangan berbiaya rendah secara cepat.
Pada saat yang sama, Donald Trump secara terbuka memposisikan dirinya sebagai negosiator yang mampu mengakhiri perang di Gaza. Ia berbicara tentang upaya menengahi perdamaian dan mengemukakan gagasan rekonstruksi, dengan menyatakan bahwa Gaza dapat dibangun kembali menjadi wilayah yang layak secara ekonomi setelah perang berakhir.
Para pengkritik berpendapat bahwa wacana pembangunan kembali terdengar tidak selaras ketika anggota keluarganya sendiri berinvestasi pada perusahaan yang produknya digunakan dalam konflik yang sedang berlangsung.
Sejak Israel melancarkan invasi ke Gaza pada 7 Oktober 2023, otoritas kesehatan Palestina menyebut sedikitnya 72.000 orang tewas dan 172.000 lainnya terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Dampak kemanusiaan tersebut memicu kecaman luas dari komunitas internasional serta tuduhan serius terkait kejahatan perang.
Eric Trump menepis kritik tersebut, dengan mengatakan bahwa ia “sangat bangga” berinvestasi pada perusahaan yang ia yakini dan menyebut drone sebagai “gelombang masa depan.” Ia juga mengatakan XTEND memiliki “potensi luar biasa.”
Kasus ini menambah sorotan panjang terhadap bagaimana keluarga Trump memadukan politik dan bisnis. Pada masa jabatan pertama Trump, para pengkritik menyoroti pengeluaran pemerintah asing di hotel dan properti milik Trump.
Sejak kembali menjadi figur politik terkemuka, Trump kembali menghadapi pertanyaan terkait perjanjian lisensi, kemitraan internasional, dan apakah anggota keluarganya memperoleh keuntungan dari kedekatan dengan kekuasaan.
Investasi di Gaza ini kini menambah dimensi baru. Strategi ekspansi XTEND antara lain bergantung pada peningkatan produksi di Amerika Serikat serta akses ke pasar modal publik AS, termasuk kontrak Pentagon yang diberikan oleh pemerintahan yang dipimpin ayah Eric Trump.


