Jakarta, Purna Warta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti pentingnya penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Ia menegaskan bahwa keberhasilan implementasi aturan tersebut sangat ditentukan oleh keterlibatan keluarga dalam mengawasi aktivitas digital anak.
Menurut Wihaji, keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk perlindungan dan pengawasan terhadap anak sejak dini.
“Dari keluargalah nilai perlindungan dan pengawasan pertama bagi anak terbentuk,” kata Wihaji dalam keterangannya, Selasa (16/3/2026) malam.
Ia juga menyoroti bahwa pengalaman dari berbagai negara, termasuk Australia, menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan usia dalam mengakses media sosial memang memiliki urgensi. Namun, dalam praktiknya, kebijakan tersebut masih dapat disiasati oleh anak-anak, misalnya dengan meminjam perangkat milik orang tua atau menggunakan identitas orang dewasa.
Karena itu, Wihaji menekankan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya mengandalkan regulasi dan teknologi. Peran keluarga sebagai unit terkecil dalam negara menjadi faktor penentu keberhasilan kebijakan tersebut.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin ketahanan keluarga terganggu oleh maraknya konten negatif di ruang digital. Sebagai langkah konkret, melalui aturan turunan dari PP TUNAS yang diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, seluruh platform digital kini diwajibkan menyediakan mekanisme persetujuan orang tua serta fitur kontrol bagi anak.
Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa keberadaan teknologi saja tidak cukup tanpa keterlibatan aktif dari orang tua.
“Namun demikian, teknologi ini hanya akan efektif jika didukung oleh keterlibatan aktif orangtua,” ujar dia.
Oleh karena itu, Wihaji mengajak para orang tua untuk lebih berperan dalam kehidupan digital anak, baik dalam mendampingi, mengawasi, maupun menjadi tempat berbagi cerita.
“Kami mengajak para orangtua untuk lebih hadir dalam kehidupan digital anak, mendampingi, mengawasi, sekaligus menjadi tempat pertama bagi anak untuk berbagi cerita,” ujar dia.


