Dosen UMY Berikan Analisa Lulusan Perguruan Tinggi Banyak Jadi Ojol Apakah Cerminan Ekonomi Bermasalah?

Jakarta, Purna Warta – Lulusan perguruan tinggi ramai-ramai bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) setelah lulus. Apa penyebabnya?

Baca juga: KH Anwar Iskandar Ditetapkan sebagai Ketua Umum MUI Periode 2025-2030

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Dr Imamudin Yuliadi, SE, MSi, memberikan pendapatnya mengenai fenomena ini. Menurut Imamudin, maraknya lulusan pendidikan tinggi yang bekerja sebagai pengemudi ojol tidak bisa langsung dimaknai sebagai kegagalan pendidikan tinggi.

Ia menilai, sebagian besar lulusan masih bercita-cita bekerja sesuai bidang keilmuannya, tetapi proses menuju pekerjaan ideal kerap membutuhkan waktu.

“Menjadi driver ojek online lebih sebagai aktivitas antara atau batu loncatan. Mereka melakukannya sambil menunggu pekerjaan yang sesuai bidangnya,” jelasnya dalam laman UMY dikutip Minggu (23/11/2025).

Tak hanya lulusan perguruan tinggi, banyak orang memilih bekerja sebagai pengemudi ojol karena sifatnya yang sangat inklusif. Seseorang bisa langsung bekerja hanya dengan kendaraan pribadi, tanpa modal besar atau pengalaman khusus.

“Mengapa pilihannya ojek online? Karena itu yang paling mudah dan paling murah. Bisa langsung menghasilkan pendapatan sembari menunggu pekerjaan formal,” terangnya.

Menurut Imamudin, fenomena ini menjadi semacam katup pengaman untuk situasi ketenagakerjaan nasional yang masih menghadapi angka pengangguran tinggi. Bahkan, pekerjaan ini juga digeluti mereka yang terkena PHK akibat kontraksi ekonomi di beberapa sektor.

Meski demikian, Imamudin berpendapat jika fenomena sarjana menjadi ojol tetap harus menjadi peringatan bagi perguruan tinggi. Menurutnya, kampus perlu memperkuat link and match mengingat dinamika industri yang berubah cepat. Mahasiswa juga harus diberi pengalaman nyata agar memahami peta dunia kerja sejak dini.

“Model magang yang sekarang diprogramkan pemerintah itu positif. Mahasiswa harus dikenalkan pada dunia nyata sehingga tahu peta kerja yang sesungguhnya saat lulus,” jelasnya.

Baca juga: Gus Yahya Tegaskan Tak Akan Mundur dari Jabatan Ketum PBNU Meski Ditekan Syuriah

Untuk menghadapi persoalan ketenagakerjaan ini, Imamudin menekankan pentingnya tiga hal yaitu:

· Pembangunan iklim investasi yang kondusif.

· Perbaikan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efisien.

· Penguatan UMKM dan koperasi.

Ia yakin generasi muda memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi daerah.

“Setiap daerah punya karakter dan potensi ekonomi. Generasi muda bisa memanfaatkannya untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *