Abdul-Malik al-Houthi, pemimpin Ansarullah Yaman, Rabu (12/3/2025) menyatakan bahwa larangan bagi kapal-kapal Israel melintasi Laut Merah, Selat Bab-el-Mandeb, Teluk Aden dan Laut Arab telah diberlakukan, dan setiap kapal Israel yang melintasi kawasan tersebut akan diserang.
Baca juga: [KARIKATUR] – Iran Masuk ke Top 3 Dunia dalam Operasi Transplantasi Sumsum Tulang Belakang
Menurut laporan Parstoday, al-Houthi seraya menegaskan bahwa langkah pelarang kapal Israel di Laut Merah ini merupakan respons yang diperlukan terhadap pengepungan dan kelaparan yang terus terjadi terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza, menambahkan: “Rezim Zionis bermaksud untuk memberikan tekanan lebih besar kepada rakyat Gaza dengan mencegah masuknya bantuan kemanusiaan dan menutup penyeberangan, yang dianggap sebagai kejahatan perang.”
Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman juga mengkritik sikap negara-negara Arab terkait perkembangan di Palestina, dengan menyatakan bahwa para penguasa Arab bersekongkol dengan Amerika dan rezim Zionis dan menghalangi tindakan apa pun untuk melayani Palestina. Ia mengatakan, “Diam dan tidak adanya tindakan negara-negara Arab dalam menghadapi kejahatan rezim Israel merupakan dosa besar dan tanda penghindaran tanggung jawab.”
Abdul-Malek al-Houthi, menunjukkan bahwa pernyataan para pemimpin Arab hanya merupakan kecaman lisan dan tidak ada tindakan praktis yang telah diambil terhadap rezim Zionis di bidang politik, ekonomi, atau diplomatik, juga mengungkapkan bahwa beberapa negara Arab telah membuka rute darat untuk menerobos blokade Yaman terhadap rezim Israel, dan masalah ini bahkan telah tercermin dalam laporan Bank Dunia.
Pemimpin Ansarullah Yaman lebih lanjut seraya merujuk pada peran Amerika dalam mendukung Israel dan menekankan bahwa “pemerintahan Biden telah melangkah lebih jauh daripada pemerintahan Donald Trump dalam mendukung kejahatan Tel Aviv,” mengatakan bahwa menargetkan kapal-kapal Israel hanyalah permulaan, dan bahwa jika pengepungan Gaza berlanjut, Ansarullah akan mengambil tindakan yang lebih keras.
Abdul-Malik al-Houthi menyimpulkan dengan menekankan bahwa semua opsi praktis untuk menghadapi rezim Zionis ada di atas meja, dan penghentian tindakan Tel Aviv terhadap Palestina hanya akan mungkin terjadi jika ada tanggapan yang kuat dan bersifat pencegahan.