[KARIKATUR] – Tekanan Trump Terhadap Universitas Harvard Melalui Pentagon

Kisah Universitas Harvard di bawah tekanan Trump dan Pentagon mengingatkan bahwa bahkan lembaga ilmiah paling bergengsi pun dapat menjadi sasaran ambisi politik dan ekonomi Presiden Amerika Serikat.

Manuver pemerintahan Donald Trump terhadap institusi ilmiah dan akademis dalam beberapa bulan terakhir mencapai titik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Melaporkan dari Nournews, ParsToday, Sabtu, 14 Februari 2026, menulis bahwa apa yang terjadi sebagai kampanye terhadap universitas dan kalangan elit, khususnya Harvard, melampaui sekadar perselisihan politik biasa. Tindakan ini dinilai sebagai serangan sistematis terhadap independensi ilmiah dan kebebasan penelitian. Pemerintah Trump, dengan menggunakan anggaran federal sebagai alat, berupaya memaksa universitas untuk tunduk pada tuntutan politik dan ideologisnya.

Tekanan Finansial yang Belum Pernah Terjadi

Contoh terbaru dari tekanan ini adalah keputusan Pentagon di bawah pimpinan Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS, untuk menghentikan semua program pelatihan militer, beasiswa, dan kontrak kerja sama dengan Universitas Harvard. Hegseth menyebut Universitas Harvard sebagai “pusat kegiatan kebencian terhadap Amerika” dan menyatakan bahwa kehadiran militer di universitas tersebut tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Menurut laporan Associated Press, langkah ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam konflik berkepanjangan antara pemerintahan Trump dan universitas terkait tuntutan Gedung Putih untuk reformasi.

Tindakan ini merupakan kelanjutan dari kampanye luas di mana pemerintahan Trump menuntut ganti rugi satu miliar dolar dari Harvard atas tuduhan antisemitisme.

Tuntutan ini diajukan setelah sebelumnya pemerintahan Trump membekukan dana universitas karena ketidaksejalanannya dengan kebijakan pemerintah.

Seorang hakim federal menyatakan tindakan pemerintah tersebut ilegal dan melanggar kebebasan berekspresi universitas, serta menggambarkannya sebagai kedok untuk tujuan lain. Meskipun demikian, pemerintah AS mengabaikan putusan pengadilan dan melanjutkan kampanye tekanannya.

Dalam hal ini, Stephen Walt, profesor Universitas Harvard, menulis dalam Foreign Policy, “Apakah kita pada akhirnya menyaksikan negara-negara yang hingga baru-baru ini dianggap sebagai teman dan sekutu dekat Amerika kini mulai melakukan penyeimbangan terhadap Amerika yang ‘nakal’? Jika pergeseran ini benar-benar terjadi, maka harus dianggap sebagai transformasi fundamental dalam tatanan dunia.

Transformasi yang, jika terwujud, lebih dari segalanya merupakan produk dari kesempitan strategis pemerintahan Trump dan kecenderungan agresif seorang presiden yang perilaku dan keputusannya semakin tidak dapat diprediksi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *