Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant, dua tokoh sentral Israel, kini terlibat dalam pertarungan sengit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keduanya saling berhadapan terkait penolakan tanggung jawab atas kekalahan besar 7 Oktober 2023.
Krisis politik dan keamanan di Wilayah Pendudukan pasca-7 Oktober 2023 tidak mereda. Sebaliknya, konflik ini memasuki fase yang lebih dalam dan penuh ketegangan. Menurut laporan ParsToday, Jumat, 13 Februari 2026, apa yang bermula sebagai kegagalan militer dan intelijen yang luar biasa kini berubah menjadi arena pertarungan wacana dan pertanggungjawaban. Dua tokoh utama berada di pusat pusaran ini: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Perang Yoav Gallant.
Akar Konflik; dari Kabinet hingga Pemecatan
Perselisihan Netanyahu dan Gallant lahir dari rahim kekalahan itu. Ketika sejumlah komandan militer dan pejabat intelijen menerima tanggung jawab atas kegagalan 7 Oktober, Netanyahu justru menolak. Ia berupaya mengalihkan kesalahan kepada keputusan militer dan kabinet-kabinet sebelumnya.
Gallant, yang saat itu menjabat Menteri Perang, berada dalam posisi yang sulit. Ketegangan keduanya sejatinya sudah membara sebelum 7 Oktober.
Namun pemecatan Gallant pada akhir 2024 menjadi titik balik yang membuka pintu bagi konfrontasi terbuka.
Dokumen 55 Halaman; Upaya Netanyahu Menulis Ulang Sejarah
Percikan baru dalam pertarungan ini dipicu oleh dokumen setebal 55 halaman yang dirilis Netanyahu.
Ia berusaha mengukuhkan narasinya tentang peristiwa menjelang 7 Oktober. Melalui publikasi selektif risalah rapat keamanan dan politik, Netanyahu mencitrakan diri sebagai politisi yang vokal dan keras terhadap Hamas.
Ia menuding pihak lain meremehkan ancaman. Pengamat menilai dokumen itu bukan bentuk transparansi, melainkan manuver pengalihan isu. Netanyahu kembali menempatkan militer dan badan intelijen sebagai tersangka utama.
Gallant: “Netanyahu Pembohong”
Respons Gallant terhadap dokumen itu keras dan tak biasa.
Dalam wawancara televisi, ia terang-terangan menyebut Netanyahu “pembohong”. “Saat tentara Israel gugur di medan, perdana menteri hanya sibuk menyelamatkan kursinya sendiri”, ujar Gallant. Ia menegaskan penerbitan dokumen itu adalah langkah terencana untuk mengarahkan amarah publik kepada komandan militer dan kepala badan keamanan dalam negeri.
Gallant menuduh Netanyahu mengadu domba menteri kabinet dengan jenderal militer demi mengelak dari tanggung jawab.


