Menteri Perang Rezim Zionis berusaha mendapatkan keuntungan politik dari pertempuran berdarah yang sedang terjadi di Suriah. Di sisi lain, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Rezim Israel Eyal Zamir, mengatakan, “Tahun ini, 2025 adalah tahun perang dengan konsentrasi atas Gaza dan Iran.”
Israel Katz, Sabtu (8/3/2025) menanggapi perkembangan di Suriah, dan menjustifikasi perluasan pendudukan Rezim Zionis, di wilayah Suriah, setelah peralihan kekuasaan di negara itu.
Baca juga: [KARIKATUR] – Gubernur Bank Sentral Eropa Siap Hadapi Kebijakan Trump
Ia mengklaim, “Israel, melindungi diri dari ancaman-ancaman Suriah, dan pasukan kami akan tetap ditempatkan di wilayah Suriah, termasuk di dataran tinggi Hermon, untuk menjaga dataran tinggi Golan, dan Galilea.”
Menteri Luar Negeri Rezim Zionis Gideon Saar, membantah peringatan PBB dan organisasi internasional lainnya terkait bahaya kelaparan baru di Jalur Gaza, akibat blokade ketat, dan dihentikannya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Pada hari Sabtu, Gideon Saar, mengklaim peringatan-peringatan tersebut hanyalah sebuah kebohongan, dan ia mengaku Israel, tidak punya komitmen apa pun dalam hal pengiriman bantuan kemanusiaan.
Masalah pergerakan Amerika Serikat dan perilaku Washington, juga menjadi tema lain yang terus ramai dibicarakan di dalam Wilayah pendudukan.
Berita bentrokan antara para pendukung dan penentang jenis hubungan Israel dan AS, sudah lama sudah terdengar, dan Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, mengatakan bahwa AS dikarenakan kelemahan Kabinet Israel, berunding dengan Hamas, karena khawatir dengan keselamatan warganya.
Baca juga: [KARIKATUR] – Tidak Ada Tempat Untuk Kapal-kapal Israel di Laut Merah
Sementara itu Massad Boulos, Penasihat Presiden AS Donald Trump, bertemu dengan Yossi Dagan, Kepala Pemukim Zionis di Tepi Barat, dan menekankan dukungan atas Israel.
Dalam pertemuan itu, Massad Boulos, kepada Dagan mengatakan, “Merupakan kehormatan bagi saya untuk menyampaikan terimakasih saya kepada saudara-saudara dan saudari di Israel dan Lebanon.”