Dana Moneter Internasional (IMF) telah memprediksi dalam laporan terbarunya bahwa benua Afrika akan memiliki jumlah ekonomi dengan pertumbuhan tinggi terbesar di dunia pada tahun 2026. Pertumbuhan di beberapa negara akan mencapai lebih dari 10 persen.
Prospek yang menjanjikan ini disertai dengan peringatan serius tentang utang yang besar, ketidakstabilan politik, dan krisis iklim.
African News menulis dalam sebuah laporan tentang hal ini, “Negara-negara Afrika telah muncul dalam beberapa tahun terakhir sebagai salah satu mesin potensial pertumbuhan ekonomi global.
Sumber daya alam yang kaya, reformasi ekonomi di beberapa negara, dan investasi baru telah membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi.”
Menurut laporan IMF, Sudan Selatan dan Guinea berada di puncak daftar negara-negara yang akan mengalami pertumbuhan ekonomi dua digit. Pertumbuhan yang terutama disebabkan oleh booming minyak dan pertambangan.
Di Afrika Timur, negara-negara seperti Uganda, Rwanda, dan Ethiopia, dengan pertumbuhan rata-rata 7%, menunjukkan bahwa reformasi ekonomi di wilayah ini telah membuahkan hasil.
Selain sumber daya alamnya yang melimpah, Afrika juga memiliki populasi muda dan terus berkembang yang dapat menjadi pendorong pembangunan ekonomi.
Angkatan kerja yang muda dan energik memiliki kapasitas tinggi untuk inovasi, kewirausahaan, dan penyerapan teknologi baru.
Karakteristik demografis ini, bersama dengan perluasan pendidikan dan akses ke teknologi digital, memberikan peluang baru untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas.
Selain itu, pasar domestik yang besar dan terus berkembang telah membuka jalan bagi booming industri manufaktur dan jasa, sehingga banyak perusahaan internasional berupaya untuk hadir di pasar ini.
Di sisi lain, lokasi geografis Afrika dan akses ke jalur perdagangan internasional telah menjadikan benua ini sebagai mata rantai penting dalam rantai pasokan global.
Investasi dalam infrastruktur transportasi dan komunikasi, dikombinasikan dengan perjanjian perdagangan bebas regional, dapat mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan ekspor. Tren ini tidak hanya akan membantu negara-negara Afrika tumbuh, tetapi juga meningkatkan posisi benua ini dalam ekonomi global.
Terlepas dari prospek positif ini, para ahli memperingatkan bahwa risiko serius menanti perekonomian Afrika. Perubahan iklim dan guncangan yang diakibatkannya dapat membuat infrastruktur ekonomi rentan. Ketidakstabilan politik di beberapa negara juga akan menghambat investasi asing.
Selain itu, utang yang besar telah memberikan tekanan besar pada anggaran negara-negara Afrika. Pada tahun 2026 saja, negara-negara Afrika harus membayar hampir $95 miliar kepada para kreditornya.
Misalnya, Kenya harus menghabiskan seperlima dari total pengeluaran pemerintahnya untuk pembayaran utang.
Di sisi lain, masalah listrik tetap menjadi hambatan utama bagi pembangunan di Afrika.
Terlepas dari investasi baru, negara-negara seperti Republik Afrika Tengah masih menghadapi kekurangan listrik yang parah, dan kurangnya energi berkelanjutan telah sangat membatasi para pengusaha dan industri.
Korupsi dan tata kelola yang lemah juga mencegah beberapa negara Afrika untuk sepenuhnya menerapkan reformasi ekonomi, mengurangi kepercayaan investor asing.
Ketergantungan yang besar pada ekspor bahan mentah juga telah membuat perekonomian banyak negara rentan terhadap fluktuasi pasar global.
Krisis iklim, dengan kekeringan, banjir, dan ketidakstabilan lingkungan, juga mengancam ketahanan pangan dan sumber daya vital di negara-negara di benua Afrika.
Afrika berada di persimpangan kritis menjelang tahun 2026. Di satu sisi, terdapat peluang pertumbuhan ekonomi yang tak tertandingi di benua ini, dan di sisi lain, ancaman serius yang dapat menghentikan jalan ini.
Jika pemerintah Afrika dapat mengelola utang, memajukan reformasi politik, dan mengembangkan infrastruktur penting seperti energi, benua ini dapat menjadi salah satu kutub utama pertumbuhan global, seperti yang diprediksi oleh Dana Moneter Internasional.


