Purna Warta – Amerika berupaya mengendalikan seluruh rute energi internasional dalam rangka mendominasi ekonomi global, ujar Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Baca juga: Sejumlah Perampok di Kanada Menyamar Menjadi Robin Hood di Tengah Melonjaknya Harga
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos bulan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Turmp mengklaim bahwa ia telah membuat Amerika menjadi negara yang paling panas di dunia berkaitan dengan aktivitas bisnis. Trump menyebut Amerika sebagai mesin ekonomi bumi sembari memperingatkan bahwa “kalian akan mengikuti kami”
Lavrov dalam sebuah wawancara dengan TV BRICS pada hari Senin mengatakan bahwa “tujuan Amerika – yaitu dominasi ekonomi dunia – diwujudkan menggunakan banyak langkah-langkah yang bersifat memaksa dan tidak sesuai dengan persaingan yang adil”
Sebagai bagian dari langkah ini, Amerika menginginkan kendali atas seluruh rute yang menyediakan sumber daya energi bagi seluruh negara-negara dan benua, ujar Lavrov.
“Di benua Eropa, mereka mengincar Nord Streams yang dihancurkan tiga tahun yang lalu, sistem tranportasi gas Ukraina dan Turkstream” ujar Menteri Luar Negeri Rusia itu.
Lavrov juga berbicara mengenai sanksi yang dijatuhkan oleh Washington terhadap perusahaan minyak terbesar Rusia; Lukoil dan Rosneff.
Baca juga: Laporan Keamanan Tahunan Eropa Menyebut Trump Sebagai Pria Penghancur
Sebuah perang melawan kapal-kapal tanker di lautan terbuka sedang diadakan oleh Amerika yang mengumumkan blokade minyak Venezuela dan menculik presiden negara tersebut.
“Mereka sedang berupaya untuk mencekal India dan rekan-rekan kita dari membeli minyak Rusia yang murah dan terjangkau – Eropa sudah lama dicekal – dan memaksa mereka untuk membeli gas Amerika dengan harga tinggi” ujar Lavrov.
Trump sendiri sudah berulangkali memperingatkan akan adanya sanksi dan tarif tambahan bagi negara-negara yang membeli energi dari Rusia. Minggu lalu, presiden Amerika mencabut tarif 25 persen dari India menekankan bahwa India telah setuju untuk berhenti menerima minyak Rusia. Akan tetapi, New Delhi belum mengkonfirmasi klaim tersebut.


